Senin, 19 Maret 2012

Taman Ismail Marzuki "PART II" (Bagian C)

oleh Hardi Ansyah II pada 19 Maret 2012 pukul 21:35

FATWA ULAMA KHALAF YANG SEMASA DAN SESUDAH DITERAPKANNYA HUKUM ILYASIQ

1.      SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH


«والإنسان متى حلَّل الحرام المجمع عليه وحرَّم الحلال المجمعُ عليه أو بدَّل الشرع المجمعُ عليه كان كافراً مرتداً باتّفاق الفقهاء»

“Siapa orang, manakala ia telah menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal yang mana para ulam telah sepakat atasnya atau merubah syari’ah yang telah disepakati ulama’ maka orang ini telah kafir murtad berdasarkan kesepakatan para ulama”


«ولا ريب أنّ من لم يعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله على رسوله  r فهو كافر، فمن استحلّ أن يحكم بين الناس بما يراه هو عدلاً من غير اتّباعٍ لما أنزل الله فهو كافر »
  
“Tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang tidak meyakini wajibnya menerapkan syari’ah Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya shollallohu 'alaihi wasallam maka ia telah kafir. Dan barangsiapa yang menetapkan hukum untuk umat manusia tanpa mengikuti syari’ah yang diturunkan Allah dan menurut pandangannya bahwa hukum buatannya itu adalah hukum yang adil maka ia telah kafir murtad(Minhajus Sunnah juz 3 hal 22)



 2.      SYAIKHUL ISLAM IBNUL QOYYIM AL JAUZIYYAH

«أن الحكم بغير ما أنزل الله يتناول الكفرين الأكبر والأصغر، بحسب حالة الحاكم، فإنه إن اعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله في الواقعة مستحق للعقوبة فهذا كفر أصغر، وإن اعتقد أنه غير واجب وأنه مخيرٌ فيه مع يقينه أنه حكم الله فهذا كفر أكبر

“Bahwasanya penguasa yang menetapkan hukum dengan selain syari’ah Allah dapat menyebabkan pelakunya jatuh ke dalam dua macam kekafiran ; Kafir ashghor (kecil) dan kafir akbar (besar/murtad) tergantung kondisi si penentu hukum (penguasa) tersebut. Jika ia meyakini wajibnya menentukan hukum dengan syari’ah Allah dalam sebuah peristiwa yang seharusnya mendapatkan sanksi hudud (tetapi ia lebih memilih menggunakan hukum selain syari’ah Allah) maka ia terkena kufur asghor, akan tetapi jika ia berkeyakinan bahwa ia tidak wajib menentukan hukum dengan syari’ah Allah dan meyakini bahwa ia boleh memilih hukum lain padahal ia mengetahui bahwa dalam masalah tersebut sudah ada ketetapam dalam syari’ah Allah, maka ia telah melakukan kekafiran yang besar (kufur akbar) (Madarijus Salikin juz 1 hal 336) 



3.      IMAM IBNU KATSIR

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Al Maidah 50)


Dalam menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir mengatakan :

“Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingkari dan murka kepada orang-orang yang yang berpaling dari Syari’ah-Nya yang di dalamnya terkandung semua bentuk kebajikan dan melarang segala kemungkaran, lalu lebih memilih untuk menetapkan hukum berdasarkan pendapat, hawa nafsu dan berbagai macam teori yang diciptakan oleh manusia dengan tanpa bersandar pada Syari’ah-Nya. Sebagaimana dilakukan oleh kaum jahiliyyah dahulu dan juga dilakukan oleh bangsa Tartar yang menerapkan undang-undang Ilyasiq yang merupakan kumpulan dari bermacam-macam bentuk aturan hukum, seperti hukum Yahudi, Nasrani dan sebagainya. Sebagian lagi diambil dari hukum Islam tetapi tidak sedikit pula yang hanya berdasarkan pendapat dan hawa nafsu pemimpinnya (Jengis Khan). Undang-undang Ilyasiq ini kemudian ditetapkan menjadi hukum dan undang-undang yang wajib dipatuhi melebihi Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam”. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Hal 70)


Dalam Kitab Al Bidayah Wan Nihayah beliau menambahkan :

Maka barangsiapa melakukan hal serupa –menetapkan undang-undang seperti ini dalam sebuah tatanan masyarakat- ia telah kafir dan wajib diperangi sampai ia kembali kepada syari’ah Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia tidak lagi menetapkan hukum dengan yang lainnya, baik sedikit ataupun banyak". (Al Bidayah Wan Nihayah Juz 13 Hal 119)


4.      SYAIKHUL ISLAM  MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Makna Thoghut menurut Syaikhul Islam  Muhammad Bin Abdul Wahhab adalah :
 “Segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, diikuti dan ditaati dalam perkara‐perkara yang bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul‐Nya , sedang ia ridha dengan peribadatan tersebut”.
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu :

-          Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah.
-          Penguasa  dzalim yang merubah hukum‐hukum Allah.
-          Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.
-          Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
-          Sesuatu selain Allah yang diibadahi  dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.



5.      SYAIKH AHMAD SYAKIR

Mengomentari penjelasan Ibnu Katsir tentang hukum Ilyasiq yang menjadi hukum bangsa Tartar saat menjajah kaum muslimin, beliau mengatakan :


"Apakah kalian tidak melihat pensifatan yang kuat dari Al-Hafidz Ibnu Katsir pada abad ke-8 H terhadap undang-undang positif yang ditetapkan oleh musuh Islam Jengish Khan? Bukankah kalian melihatnya mensifati kondisi umat Islam pada abad 144 H ? Kecuali satu perbedaan saja yang kami nyatakan tadi, yakni hukum Ilyasiq hanya terjadi pada sebuah generasi penguasa yang menyusup dalam umat Islam dan segera hilang pengaruhnya. 


Namun kondisi kaum muslimin saat ini lebih buruk dan lebih dzalim dari mereka, karena kebanyakamw umat islam hari ini telah masuk dalam hukum yang menyelisihi syariat islam ini; sebuah hukum yang paling menyerupai al-yasiq yang telah ditetapkan oleh seorang laki-laki kafir yang telah jelas kekafirannya. Sesungguhnya, urusan hukum positif ini telah jelas layaknya matahari di siang bolong yaitu kufur yang nyata (Kufrun Bawwah), tidak ada yang tersembunyi di dalamnya dan tak ada yang membingungkan. tidak ada udzur bagi siapapun yang mengakat dirinya muslim dalam berbuat dengannya, atau tunduk kepadanya atau mengakuinya. maka berhati-hatilah, setiap orang menjadi pengawas atas dirinya sendiri.” (Umdatut Tafsir 3/124)



6.      AL ALLAMAH SYAIKH MUHAMMAD BIN IBRAHIM ALU SYAIKH (BEKAS MUFTI KERAJAAN SAUDI SEBELUM SYAIKH BIN BAZ) 


Berikut adalah Fatwa Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh (Mufti Saudi sebelum Syaikh Bin Baz). Beliau membagi beberapa kelompok orang-orang yang berhukum dengan hukum selain syari'ah Allah, SEMUANYA KAFIR MURTAD


1.      أن يجحد الحاكمُ بغير ما أنزل الله تعالى أحقيَّةَ حُكمِ الله تعالى وحكم رسوله

Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari'ah Allah dan ia juhud (menentang) akan kewajiban menerapkan syari'ah itu maka ia telah KAFIR MURTAD.

2.      أن لا يجحد الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى كونَ حكم الله ورسوله حقاً، لكن اعتقد أن حكمَ غير الرسول أحسنُ من حكمه وأتم وأشمل

Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari'ah Allah dan ia tidak juhud (tidak menentang) akan kewajiban menerapkan syari'ah itu, TETAPI IA BERKEYAKINAN BAHWA HUKUM BUATAN MANUSIA LEBIH BAIK, LEBIH TEPAT, RELEVAN DAN LEBIH SEMPURNA DIBANDING SYARI'AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD.


3.      أن لا يعتقد كونَه أحسنَ من حكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد أنه مثله

Jika ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari'ah Allah lebih baik TETAPI MENYATAKAN BAHWA HUKUM BUATAN MANUSIA SAMA BAIKNYA DENGAN SYARI'AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD. 


4.      أن لا يعتقد كونَ حُكمِ الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى مماثلاً لحكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد جواز الحُكم بما يُخالف حُكمَ الله تعالى ورسوله

Ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari'ah Allah sama atau lebih baik dibanding hukum buatan manusia, TETAPI IA BERKEYAKINAN BAHWA DIBOLEHKAN MENERAPKAN UNDANG-UNDANG SELAIN SYARI'AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD.


5.    وهو أعظمها وأشملها وأظهرها معاندة للشرع، ومكابرة لأحكامه، ومشاقة لله تعالى ولرسوله  ومضاهاة بالمحاكم الشرعية، إعداداً وإمداداً وإرصاداً وتأصيلاً وتفريعاً وتشكيلاً وتنويعاً وحكماً وإلزاماً... فهذه المحاكم في كثير من أمصار الإسلام مهيّأة مكملة، مفتوحةُ الأبواب، والناسُ إليها أسرابٌ إثر أسراب، يحكم حكّامها بينهم بما يخالف حُكم السنة والكتاب، من أحكام ذلك القانون، وتلزمهم به وتقرّهم عليه، وتُحتِّمُهُ عليهم، فأيُّ كُفرٍ فوق هذا الكفر، وأي مناقضة للشهادة بأن محمداً رسولُ الله بعد هذه المناقضة.... فيجب على العقلاء أن يربأوا بنفوسهم عنه لما فيه من الاستعباد لهم، والتحكم فيهم بالأهواء والأغراض، والأغلاط، والأخطاء، فضلاً عن كونه كفراً بنص قوله تعالى: ( ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )


Ini adalah yang paling jelas-jelas kekafirannya, paling nyata penentangannya terhadap Syari’ah Allah, paling besar kesombongannya terhadap hukum Allah dan paling keras penentangan dan penolakannya terhadap lembaga-lembaga (mahkamah) hukum Syari’ah.

Semua itu dilakukan dengan terecana, sistematis  didukung dana yang besar, diterapkan dengan pengawasan penuh, dengan penanaman dan indoktrinasi kepada rakyatnya, yang pada akhirnya akan membuat umat Islam terpecah belah dan terkotak-kotak, lalu menanamkan keragu-raguan dalam diri terhadap Syari’ah Allah dan mereka juga mewajibkan umat Islam untuk mematuhi hukum buatan mereka itu serta menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggarnya. 

Berbagai bentuk lembaga hukum dan perundang-undangan ini dalam kurun waktu yang amat panjang telah dipersiapkan melalui perencanaan yang matang dan dengan pintu terbuka siap menangani berbagai masalah hukum umat Islam. Umat Islam pun berbondong-bondong mendatangi lembaga-lembaga ini, sedangkan para penegak hukumnya menetapkan hukum terhadap permasalahan mereka itu dengan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu 'alaihi wasallam dengan merujuk kepada hukum-hukum yang berasal dari aturan dan undang-undang yang mereka buat itu seraya mewajibkan rakyatnya untuk melaksanakan hukum-hukum itu, mematuhi keputusan mereka itu dan tidak memberi celah sedikit pun untuk memilih hukum selain undang-undang mereka itu.


KEKAFIRAN MANALAGI YANG LEBIH BESAR DIBANDINGKAN KEKUFURAN INI, PENENTANGAN TERHADAP PERSAKSIAN "WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAH MANALAGI YANG LEBIH BESAR YANG LBH BESAR DIBANDINGKAN PENENTANGAN INI ?

Sehingga bagi mereka yang menggunakan akalnya semestinya mereka menolak aturan hukum itu dengan penuh kesadaran dan ketundukan hati mengingat  di dalam Undang-undang itu terdapat penghambaan kepada para penguasa pembuat undang-undang itu, serta hanya memperturutkan hawa nafsu, kepentingan duniawi dan kerancuan-kerancuan berpikir dan bertindak. Penolakan ini harus mereka lakukan atau mereka jatuh pada kekufuran
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :


 وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ  [المائدة/44]
“Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Al Maidah 44)


6.        ما يحكم به كثيرٌ من رؤساء العشائر والقبائل من البوادي ونحوهم، من حكايات آبائهم وأجدادهم وعاداتهم التي يسمونها "سلومهم" يتوارثون ذلك منهم، ويحكمون به ويحضون على التحاكم إليه عند النزاع، بقاءً على أحكام الجاهلية، وإعراضاً ورغبةً عن حكم الله تعالى ورسوله r فلا حول ولا قوة إلاّ بالله تعالى

Aturan hukum yang biasa diterapkan oleh sebagian besar kepala suku  dan kabilah pada masyakat dan suku-suku pedalaman atau yang semisal dengan itu. Yang berupa hukum peninggalan nenek moyang mereka dan adat istiadat yang diterapkan secara turun temurun, yang dalam istilah Arab biasa disebut : “Tanyakan kepada nenek moyang”. Mereka mewariska hukum adat ini kepada anak cucu mereka sekaligus mewajibkan mereka untuk mematuhi hukum adat itu serta menjadikannya sebagai rjukan dan pedoman saat terjadi perselisihan di antara mereka. Ini semua mereka lakukan sebagai upaya melestarikan adat istiadan dan aturan aturan jahiliyyah dengan disertai ketidaksukaan dan keengganan untuk menerima hukum Allah dan Rasul-Nya Shollallohu 'alaihi wasallam. Maka sungguh tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali hanya dengan bersandar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala   (Tahkiem Al Qawaaniin karangan Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh hal 14 – 20 Terbitan Daar Al Muslim)Next ... In Syaa Alloh >>POINT TUJUH DAN SETERUSNYA


PERKATAAN SYAIKH HAMUD BIN UQOLA TENTANG KEKAFIRAN PENGUASA DAN PEMBUAT UNDANG-UNDANG POSITIF...

1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...