Senin, 19 Maret 2012

Taman Ismail Marzuki "PART II" (Bagian B)

oleh Hardi Ansyah II pada 19 Maret 2012 pukul 20:49 ·
 
 
FATWA ULAMA SALAF & KHALAF SEBELUM DITERAPKANNYA HUKUM ILYASIQ 
1.      ABDULLAH IBNU MAS’UD RODHIYALLOHU 'ANHU  (SHAHABAT)

وعن ابن مسعود t قال : الرشوة في الحكم كفر وهو بين الناس سحت. (رواه الطبراني في الكبير ورجاله رجال الصحيح.)
Abdullah bin Mas’ud  berkata : “Suap menyuap dalam masalah hukum adalah kufur sedangkan di kalangan orang biasa adalah dosa yang sangat keji”. (HR Thabrani dengan periwayat yang terpercaya/tsiqah)


2.      IMAM MUJAHID (TABI’IN)

فقال: «الطاغوت هو شيطان في صورة إنسان يتحاكمون إليه، وهو صاحب أمرهم»
Thoghut adalah setan dalam bentuk manusia yang menetapkan hukum sesuai kehendaknya sendiri dan ia menjadi pengatur hukum itu (penguasa) (Tafsir Imam Mujahid dengan juz 1 hal 161)


3.      IMAM IBNU JURAIJ (TABIUT TABI’IN)

قال معرّفاً الداعي إلى عبادة نفسه من دون الله تعالى بأنّه: «من يأمر الناس بغير ما أنزل الله»، وقال: «كان الناس من اليهود يتعبّدون الناس دون ربّهم بتحريفهم ما أنزل الله»

Beliau menjelaskan tentang seseorang yang mengangkat dirinya sebagai sesembahan di antara manusia yaitu : “Siapa saja yang menetapkan urusan (hukum) dengan selain syari’ah Allah“. Kemudian beliau mengatakan : “Orang-orang Yahudi dahulu menjadikan sesama mereka sebagai sesembahan selain Allah dengan cara merubah syari’ah Allah yang diturunkan kepada mereka”.   (Tafsir Ibnu Abi Hayyan juz 2 hal 64)


4.      IMAM AS SUDDY (TABIUT TABI’IN)

قال في تفسير قوله تعالى {ومن لم يحكم بما أنزل الله} : «من تركه عمداً أو جارٍ وهو يعلم فهو من الكافرين».

Siapa saja yang meninggalkan syari’ah Allah dengan sengaja atau ia tidak mau melaksanakannya sedangkan ia tahu (bahwa hal itu adalah wajib) maka ia termasuk orang-orang kafir”  (Dinukil dari buku “Kalimatu Haqq” karangan Syaikh Umar Abdurrahman –fakkallohu asrohu-  hal 48)

5.      IMAM ISHAQ IBNU RAHAWAIH (TABIUT TABI’IN)

« قد أجمع المسلمون أنّ من سبّ الله تعالى، أو سبّ الرسول r، أو دفع شيئاً ممّا أنزل الله، أو قتل نبيّاً من أنبياء الله، أنّه كافرٌ بذلك، وإن كان مقرّاً بما أنزل الله »

Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang menghina Allah Ta’ala atau  Rasulullah r atau menolak sebagian dari syari’at Allah atau membunuh nabi-Nya, maka ia telah kafir walaupun ia mengakui wajibnya menerapkan syari’at Allah(Ash Sharim Al Masluul ‘Alaa Syatimir Rasul – Ibnu Taimiyyah hal 512)


6.      IMAM SYAFI’I (TABIUT TABI’IN)

« أمّا الذي يجتهد ويشرّع على قواعد خارجة عن قواعد الإسلام، فإنّه لا يكون مجتهداً ولا يكون مسلماً، إذا قصد إلى وضع ما يراه من الأحكام وافقت الإسلام أم خالفته... بل كانوا بها لا يقلون عن أنفسهم كفراً حين يخالفون »

Barangsiapa yang berijtihad atau menetapkan hukum dengan kaidah-kaidah di luar kaidah Islam, maka ia bukanlah mujtahid, bahkan ia bukan seorang muslim, jika ia melakukan hal tersebut dengan tujuan membuat aturan hukum sendiri. Baik sesuai dengan Islam atau tidak sesuai, bahkan tidak tertutup kemungkinan pada mereka itu menjadi kafir manakala mereka menyelisih (syari’ah Islam)(Dinukil dari buku “Kalimatu Haqq” karangan Syaikh Umar Abdurrahman –fakkallohu asrohu-  hal 96)


7.      IMAM IBNU HAZM

«وأما من ظن أن أحداً بعد موت رسول الله  r ينسخ حديث النبي r  ويحدث شريعة لم تكن في حياته r  فقد كفر وأشرك وحل دمه وماله ولحق بعبدة الأوثان، لتكذيبه قول الله تعالى الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ، وقول تعالى وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


“ … Adapun orang yang mengira atau berpendapat bahwa setelah wafatnya Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam ada orang yang diperbolehkan menghapus (menghilangkan) hadits Nabi shollallohu 'alaihi wasallam kemudian membuat sebuah aturan hukum (syar’ah) yang belum pernah ditetapkan di masa hidupnya Nabi shollallohu 'alaihi wasallam MAKA ORANG INI TELAH KAFIR DAN MUSYRIK, HALA DARAH DAN HARTANYA SERTA DIMASUKKAN KE DALAM GOLONGAN PENYEMBAH BERHALA KARENA KEDUSTAANNYA TERHADAP FIRMAN ALLAH SUBHAANAHU WA TA'ALA  :

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”. (QS Al Maidah 3)

Dan Firman Allah :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (QS Ali Imron 85)

 (Al Ihkam fi Ushulil Ahkam 2/144-145)


 8.      IMAM AR RAZI

قال في تفسير قوله تعالى: {فليحذر الذين يُخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يُصيبهم عذاب أليم} [النور: 63] أن: «...في هذه الآيات دلائل على أن من ردّ شيئاً من أوامر الله أو أوامر الرسول  r فهو خارج عن الإسلام سواء رده من جهة الشك أو من جهة التمرد وذلك يوجب صحة ما ذهب الصحابة إليه من الحكم بارتداد مانعي الزكاة...»

Beliau menjelaskan tafsir ayat :

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS An Nuur 63)

Ayat ini merupakan dalil yang menegaskan bahwa siapa saja yang menolak salah satu di antara perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya shollallohu 'alaihi wasallam maka orang telah keluar dari Islam, baik penolakannya itu dikarenakan adanya keragu-raguan terhadap aturan tersebut atau karena menentangnya. Ini juga merupakan dasar kuat dan tidak terbantahkan bahwa ijma’ shahabat yang menetapkan murtadnya orang-orang yang menolak membayar zakat adalah benar”. (Tafsir Al Kabir juz 3)


 9.      IMAM QURTHUBY

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ  [النساء/140]

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka”. (QS An Nisa’ 140)

Beliau menjelaskan :

«فدلّ بهذا على وجوب اجتناب أصحاب المعاصي* إذا ظهر منهم منكر، لأنّ من لم يجتنبهم فقد رضي فعلهم، والرضا بالكفر كفر...»

 “..Ini menunjukkan kewajiban menjauhi orang-orang yang bermaksiat kepada Allah jika telah nyata-nyata kemungkaran mereka, karena barangsiapa yang tidak menjauh dari mereka berarti meridhoi tindakan mereka dan ridho kepada kekukufuran adalah kufur[1]


10.  IMAM BAIDHOWY

قال في تفسير قوله تعالى {وما أرسلنا من رسول إلاّ ليُطاع بإذن الله} [النساء: 64] : «وكأنّه احتجّ بذلك على أنّ الذي لم يرضَ بحكمه -وإن أظهر الإسلام- كان كافراً مستوجب القتل، وتقريره أنّ إرسال الرسول لمّا لم يكن إلاّ ليطاع، كان من لم يطعه ولم يرض بحكمه، لم يقبل رسالتَه، ومن كان كذلك كان كافراً مستوجب القتل» ( أنوار التنزيل وأسرار التأويل للإمام البيضاوي، 1/222)


Beliau menafsirkan ayat :

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah”. (QS An Nisa’ 64)

“…Dengan ayat ini sepertinya Allah ingin menegaskan bahwasanya barangsiapa yang tidak ridho dengan hukum (keputusan) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam –walaupun ia menampakkan keislamannya- ORANG INI TELAH KAFIR DAN WAJIB DIBUNUH (DIPERANGI). Penegasan ini (dapat kita pahami dari ayat di atas) bahwasanya diutusnya seorang Rasul tidak ada tujuan lain kecuali agar ia dipatuhi dan diikuti. Oleh karena itu barangsiapa yang tidak mau patuh dan ridho dengan ketetapan dan hukum yang telah diputuskannya, tidak mau menerima risalahnya, orang seperti ini TELAH KAFIR DAN WAJIB DIBUNUH (DIPERANGI)” (Anwarut Tanzil Wa Asrarut Ta’wil – Imam Baidhowy juz 1 hal 222) 


 ------------------------
[1]  Maksiat dalam penjelasan Imam Qurthuby ini maksudnya adalah maksiat yang menyebabkan pelakukan kafir murtad, bukan maksiat biasa (Syaikh Abdul Azizi Al Maliki)
--------------------------

Next... In Syaa Alloh >>> FATWA ULAMA KHALAF YANG SEMASA DAN SESUDAH DITERAPKANNYA HUKUM ILYASIQ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...