Senin, 19 Maret 2012

MATERI KAJIAN BEDAH BUKU at Taman Ismail Marzuki Part I

oleh Hardi Ansyah II pada 12 Maret 2012 pukul 21:16 ·

Taman Ismail Marzuki Cikini Jak Pus

17 Rabi’ul Akhir 1433 H/ 11 Maret 2012 PENDAHULUAN

========

عَنْ أنس قَالَ إِنَّكُمْ تَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ مِنَ الْمُوبِقَاتِ

Dari Anas bin Malik t beliau berkata : “Sesungguhnya kalian telah melakukan perbuatn-perbuatan yang di mata kalian seakan lebih kecil (dosanya) dibanding biji gandum. Sungguh kami dulu di zaman Rasulullah e menganggapnya sebagai penyebab kehancuran”
(HR. Ahmad dan Abu Ya’la. Dinyatakan shaih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Definisi Hukum Jahiliyyah Menurut Imam Ibnu Katsir

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Al Maidah 50)


Dalam menjelaskan  ayat ini  Ibnu Katsir Rohimahullooh mengatakan :
“Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingkari dan murka kepada orang-orang yang berpaling dari Syari’ah-Nya -yang di dalamnya terkandung semua bentuk kebajikan dan melarang segala kemungkaran- lalu lebih memilih untuk menetapkan hukum berdasarkan pendapat, hawa nafsu dan berbagai macam teori yang diciptakan oleh manusia dengan tanpa bersandar pada Syari’ah-Nya.

Sebagaimana dilakukan oleh kaum jahiliyyah dahulu dan juga dilakukan oleh bangsa Tartar yang menerapkan undang-undang Ilyasiq yang merupakan kumpulan dari bermacam-macam bentuk aturan hukum, seperti hukum Yahudi, Nasrani dan sebagainya. Sebagian lagi diambil dari hukum Islam tetapi tidak sedikit pula yang hanya berdasarkan pendapat dan hawa nafsu pemimpinnya (Jengis Khan).

Undang-undang Ilyasiq ini kemudian ditetapkan menjadi hukum dan undang-undang yang wajib dipatuhi melebihi Al Qur’an  dan Sunnah Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam.
(Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 70)

Dalam tulisan lain Ibnu Katsir menambahkan :

“Maka barangsiapa melakukan hal serupa –menetapkan undang-undang seperti ini dalam sebuah tatanan masyarakat-  ia telah kafir dan wajib mendapatkan hukuman mati sampai ia kembali kepada Syari’ah Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia tidak lagi menetapkan hukum dengan yang lainnya, baik sedikit ataupun banyak”(Al Bidayah wan Nihayah juz 13 hal 119)

===================

 “Menyoroti Pengkaburan Makna Thaghut"

Khairul Ghazali membela pemerintah thaghut dengan cara mencampur-adukan makna thaghut secara lughawiy (bahasa) dengan makna syar’iy (istilah), dan saat menyimpulkan tulisannya ini dia berpegang terhadap makna lughawiy dan mencampakkan makna syar’iy. Sehingga dia memasukan dalam rengrengan thaghut itu para ahli maksiat yang tidak sampai pada tahap kekafiran seperti koruptor, ahli maksiat, perampas hutan dan alam rakyat dan yang lainnya, dimana dia berkata dalam bukunya itu :

“Pada saat sekarang, aktifitas perang dengan thaghut –setan, pengumbar nafsu, pengobral narkoba, koruptor, tukang sihir, ahli maksiat, dukun/tukang santet, mafia peradilan, penguasa yang menyalah gunakan kekuasaan, polisi/TNI yang menganiaya dan menindas rakyat, perampas hutan dan alam rakyat, dan yang lainnya– tidak boleh dilakukan dengan kekerasan…” (Mereka Bukan Thaghut hal. 70-71).

Khairul Ghazali menuturkan tafsir ulama tentang thaghut, akan tetapi tidak memahaminya dan justeru mencampakkannya dan malah bersikukuh dengan makna lughawiy saja sedangkan tafsir para ulama itu sangat jelas bahwa di antara thaghut itu adalah penguasa yang membuat hukum dan meninggalkan hukum Allah (Silahkan dirujuk ke bukunya di hal. 23-70).

Namun dia menganggap penafsiran thaghut yang beragam itu sebagai bentuk perselisihan ulama, padahal bukan perselisihan, akan tetapi pemberian contoh thaghut yang beraneka ragam bentuknya, yang mana semuanya benar dan di antaranya adalah penguasa yang memberlakukan hukum buatan seperti pemerintah NKRI ini dimana Khairul Ghazali mati-matian mengkaburkan kekafirannya. (Ya Mereka Memang Thaghut hal 41).

================
أقوال أهل العلم في الطاغوت
Fatwa-fatwa Ulama tentang Makna Thoghut
================

A. Imam Mujahid Rohimahullooh (Tabi’in)
الطاغوت هو شيطان في صورة إنسان يتحاكمون إليه، وهو صاحب أمرهم»
“Thoghut adalah setan dalam bentuk manusia yang mana umat manusia berhukum kepadanya dan orang itu menjadi penguasa atas urusan mereka ”
 تفسير مجاهد، تحقيق عبدالرحمن السورتي، جـ1 صـ161

B. Imam Ibnu Juraij  Rohimahullooh (Tabiut Tabi’in)
قال معرّفاً الداعي إلى عبادة نفسه من دون الله تعالى بأنّه : «من يأمر الناس بغير ما أنزل الله»، وقال: «كان الناس من اليهود يتعبّدون الناس دون ربّهم بتحريفهم ما أنزل الله»

Dan yang benar menurut saya tentang (makna) thaghut adalah segala  sesuatu yang menentang terhadap Allah di mana dia (sesuatu tersebut) diibadati  (sebagai tandingan) selain-Nya, baik dengan paksaan darinya terhadap yang mengibadatinya maupun dengan ketaatan kepadanya dari yang mengibadatinya, sama saja baik yang diibadati itu adalah manusia, atau syaitan, atau berhala, atau patung atau apa saja.”(Tafsir Ath Thabari 3/21, YMMT halaman 12).


قال الليث، وأبو عبيدة، والكسائي، وجماهير أهل اللغة : الطاغوت كل ما عبد من دون الله تعالى
“Al Laits, Abu Ubaidah, Al Kisa’i dan jumhur  (mayoritas) ahli bahasa berkata : Thaghut adalah segala yang diibadati selain Allah Ta’ala.”(Syarh Shahih Muslim: 3/18, YMMT halaman 14).

C. Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab–rahimahullooh-
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima macam, yaitu :
1.Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah.
2.Penguasa  dzalim yang merubah syari’ah Allah.
3.Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.
4.Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
5.Sesuatu selain Allah yang diibadahi  dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.

==============
Makna Ibadah Kepada Thaghut Menurut Hadits Rasulullooh shalallaahu 'alaihi wassalam
==============

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah  IlaahYang Esa, tidak ada iIaah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” 
(QS. At Taubah : 31)


Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis :
1.Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
2.Mereka telah beribadah kepada selain Allah Subhaanahu wa ta'aalaa , yaitu kepada alim ulama dan para rahib
3.Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
4.Mereka telah menjadi musyrik
5.Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab (sembahan selain Allah)

Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan : “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”,


Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka, atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka ? Maka Rasul mengatakan : “Bukankah mereka (para pendeta dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”


Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi:
“Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (para pendeta dan para rahib).”
(YMMT halaman 64).


Dengan demikian keterkaitan makna Thaghut dengan penetapan hukum, penerapan undang-undang dan syari’ah dalam kehidupan umat manusia adalah amat sangat erat.

Bahkan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkategorikan mereka yang merubah syari’ah Allah dan berhukum dengan selain syari’ah-Nya sebagai 3 dari 5 macam Thaghut  terbesar nomor 2, 3 dan 5 


Semoga Bermanfaat PART I ini.
NEXT IN SYAA ALLOH.... PART II dengan tema :
Fatwa Ulama Salaf & Khalaf
Tentang Berhukum Dengan Undang-undang  Selain Syari’ah Allah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...