Rabu, 28 Maret 2012

Kisahku Jatuh Cinta pada KAMMI


Siang itu terik matahari memanaskan kota Surabaya. Tanpa kompromi sinarnya menyengat kulitku, seakan ingin menghitamkan warnanya yang sudah gelap. Tubuh juga berkeringat. Tapi itu tak menghalangiku datang ke toko buku. Kebetulan, tak ada jadwal kuliah pada jam itu.

Ini kali kesekian aku terpesona dengan buku-buku tentang tarbiyah, Ikhwan dan Hasan Al Banna. Untaian kata-katanya menyentuh hatiku. Ketegasannya membangkitkan semangatku. Deskripsi gerakan dan tokohnya membuat aku penasaran untuk bertemu.

Saat itu aku telah bergabung di sebuah lembaga dakwah kampus. Aku bahkan telah diamanahi sebagai Sekretaris Umumnya. Namun, membandingkannya dengan buku-buku yang kubaca, aku merasa ada yang berbeda. Sosok gerakan ideal memenuhi pikiranku dan semakin mendesakku untuk mencarinya, untuk bergabung dengannya.

Hingga tibalah waktu itu. Kakiku tak tertahankan untuk kembali ke ITS. Kunjungan pertama memang gagal. Aku tak mendapatkan informasi yang kuinginkan. Tidak pula bertemu dengan orang yang fikrahnya mirip Ikhwan. Waktu itu aku bahkan ditawari untuk bergabung dengan sebuah gerakan yang mencurigakan; menurut buku yang kubaca, itu semacam gerakan sempalan.

Aku tak putus asa, aku yakin seperti yang kudengar di kampus ini aku akan menemukannya. Atau minimal mendapatkan informasi yang lebih jelas tentangnya.

Di masjid Manarul Ilmi, aku berjumpa dengan seorang mahasiswa yang sejuk wajahnya, teduh dan tajam sorot matanya. Berbicara dengannya aku mulai merasakan kekokohan aqidahnya dan kecerdasan pikirannya.

"Di Indonesia tidak ada Ikhwanul Muslimin, akhi," kata mahasiswa yang kemudian memperkenalkan namanya Agus Wahyu Dwianto itu setelah aku mengutarakan maksudku. "Tapi jika engkau ingin bergabung dengan gerakan Islam dan memperjuangkan dakwah, bergabunglah dengan KAMMI."

Aku tak tahu mengapa aku langsung menerima tawarannya. Mungkin karena pribadi Mas Agus yang mencerminkan keteladanan, atau karena fikrahnya yang sejalan dengan apa yang aku baca dan kini aku mencarinya. Atau mungkin, lebih tepatnya, karena kedua-duanya; muatan dakwah dan dainya.

Sebelum berpisah, Mas Agus mengundangku untuk hadir dalam halal bi halal selepas Ramadhan nanti. Aku mengiyakan.

Pertemuan keduaku dengan Mas Agus, dan pertemuan pertamaku dengan aktifis KAMMI 1011 berlangsung di Ma'had Ukhuwah Islamiyah. Acara halal bi halal dimulai dengan pembukaan dan sambutan ketua umum. Saat itu aku baru tahu bahwa Mas Agus adalah ketua umum. Pantas saja, pribadinya istimewa. Acara dilanjutkan dengan taujih ustadz. Aku lupa namanya, tetapi aku sangat ingat ia memulai taujihnya dengan mendemonstrasikan tetes-tetes yodium mengeruhkan air, menggambarkan maksiat menodai hati kita.

Selesai taujih yang menggetarkan, satu persatu ikhwah KAMMI menceritakan pengalaman mudiknya. Bukan sekedar cerita, ada banyak ibrah di sana. Bagaimana dakwah kampung selama liburan sangat berbeda nuansanya dengan dakwah kampus yang setiap hari digeluti. Hangatnya ukhuwah sangat terasa saat para ikhwan bersalaman dan berpelukan sebelum pulang, diiringi mata yang berkaca-kaca.

Pekan-pekan berikutnya membawa keindahan yang belum pernah kurasa. Ba'da Isya' hingga menjelang tengah malam, sekali dalam sepekan kami melingkar dalam forum kaderisasi.

"Akh, antum kalau pulang naik apa?," kata seorang ikhwah satu grup pada pertemuan ketiga, yang mulai menyadari bahwa aku tak membawa sepeda.
"Jalan kaki," jawabku agak malu. Sebab di waktu itu aku tak memiliki sepeda, apalagi motor. Berangkat dari semolowaru aku naik angkot. Pulangnya, sekitar jam 11 malam tak ada lagi angkot yang lewat. Aku menempuh jarak sekitar 7 Km itu dengan jalan kaki.
"Masya Allah, akhi... ane antar antum ya." Demikianlah, kini aku hampir selalu pulang dibonceng motor, kecuali saat ia absen dan tak ada lagi yang membawa motor.

Pertemuan halal bi halal di ma'had sesungguhnya telah membuat aku jatuh cinta pada KAMMI. Namun, momen ukhuwah demi ukhuwah seperti ini membuat cintaku menyala-nyala. Apalagi nasehat ruhiyah dalam setiap pertemuan pekanan itu. Jiwaku hidup. Dan anehnya, aku tak lagi mencari-cari Ikhwan. Mungkin ini yang disebut tsiqoh. Aku percaya dan yakin bahwa Ikhwan memang tak ada di Indonesia. Tapi tak apalah, tarbiyah dan ukhuwah yang aku dapatkan rasanya tidak jauh berbeda dari apa yang aku baca dalam buku-buku Ikhwan.

Hari-hariku selanjutnya banyak diwarnai aktifitas KAMMI; baik pengkaderannya, aktifitas sosialnya, hingga aksi-aksinya. KAMMI membuat hidupku lebih baik; pemahaman Islam kudapatkan, wawasan dan keilmuan berkembang, terasah pula skill organisasi dan kepemimpinan, serta turut aktif berkontribusi dalam dakwah Islam dan perbaikan negeri. Sekitar enam tahun kemudian aku beruntung bisa ikut DM3.

Kini, KAMMI yang kucintai telah berusia 14 tahun sejak ia dideklarasikan tahun 1998 silam. Selamat Milad KAMMI; tulis kembali sejarah, tuntaskan perubahan! Jangan titipkan reformasi yang telah engkau mulai! [Abu Nida]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...