Rabu, 21 Maret 2012

Kejujuran yang mulai ditinggalkan


Kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang maha menerima taubat lagi maha penyayang (Q.S Al-Baqarah : 160)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa perbuatan menyembunyikan suatu kebenaran dari kitabullah merupakan perbuatan yang sangat Allah benci, bahkan dalam ayat sebelum ayat diatas Allah melaknati mereka begitu juga makhluk ciptaan Allah lainnya yang dapat melaknati.

Berapa banyak manusia yang telah menyembunyikan kebenaran dari kitabullah, padahal mereka mengetahui hal itu dengan jelas, salah satu contoh yang kita dapati adalah tentang perintah berlaku jujur, banyak diantara kita yang telah mengetahui hal itu, namun banyak diantara kita yang menyembunyikan kejujuran (berbohong/kecurangan). Padahal ayat Allah telah jelas memerintahkan agar kita senantiasa dalam kejujuran.

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”. (Q.S Al-Anfal : 58)

Yang lebih miris lagi adalah ketika kita melihat ada seorang yang berlaku jujur diantara kita namun kita malah menganggap ia adalah seorang yang bodoh. Sungguh apakah yang telah menghalangi kita untuk berlaku jujur???

Belum sampaikah keterangan dari kitabullah tentang kecelakaan yang amat besar yang akan menimpa seseorang yang berlaku tidak jujur, seperti yang disinyalir pada ayat Al-qur’an berikut ini :

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (Q.S Al-Mutaffifiin : 1)

Sejenak marilah kita berkaca dari sebuah kisah menarik dibawah ini sebagai penyegar hati kita bahwa kejujuran hati akan membuahkan makna yang amat berharga dalam mengarungi kehidupan ini.



Dikisahkan dari Mubarok ayahanda dari Abdulloh Ibnu al-Mubarok bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar dari Hamdzan- datang kepadanya dan mengatakan, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.”Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon clan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!”

Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, “Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam?”

Mubarok menjawab. “Tidak.”“Bagaimana bisa seperti itu? Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya.”
“Kenapa engkau tidak mau memakannya?” tanya majikannya lagi.“Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini.” Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu ..

Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?”

“Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri-­putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nashrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama.” Jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, “Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok.”

Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahullah mengatakan -seraya bersumpah dalam perkataannya-, “Demi pemilik Ka’bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...