Rabu, 21 Maret 2012

Cara Menjadikan Keluarga Yang Inovatif

Mencetak Keluarga Inovatif." Fenomena kecelakaan pesawat terbang milik tentara RI beberapa waktu lalu menjadi sebuah ironi sekaligus kekonyolan yang menggelitik. Bagaimana mungkin, sebuah negara dapat mempertahankan kedaulatannya, jika alat-alat utama sistem pertahanannya sudah lansia dan tak aman digunakan?

Namun demikian, mari sejenak kita memikirkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Anfal ayat 60:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah dengan segenap kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak dapat mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infaqkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dirugikan.”

Dalam ayat di atas, sebagai Muslim kita diperintahkan untuk  selalu siaga penuh menghalau musuh yang datang mengganggu kedaulatan dalam segala bidang.

Umat Mandiri

Sayangnya, umat kini masih banyak yang tak bergerak mempersiapkan “kuda-kuda perang” mereka. Banyak alasan yang dikemukakan untuk membela diri. Mulai ketidaksiapan sumberdaya, hingga tidak bersatunya secara mendunia umat ini.

Kita tentu tidak dapat berlindung pada kekuatan yang berasal dari musuh Islam untuk melindungi hak-hak seorang Muslim.

Hal menarik telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dan umat Islam menjalani masa pemboikotan. Masa-masa pemboikotan inilah yang kemudian mengajarkan kepada umat untuk senantiasa mandiri tanpa bergantung pada kekuatan lain selain kekuatan sendiri. Termasuk dalam hal pertahanan diri, dan  mencukupi segala kebutuhan dengan sumber daya yang dimiliki.

Kesadaran untuk mandiri dan membangun kekuatan sendiri ini, seharusnya juga tertanam kuat pada umat generasi ini. Tidak selamanya kita dapat bergantung kepada fasilitas yang diciptakan oleh pihak yang tak selamanya bersahabat. Bukankah tidak pernah ada jaminan bahwa selamanya kita akan berdamai dengan negara tersebut? Bila suatu saat perang di maklumkan atas kedua negara, bukankah “rahasia” persenjataan kita sudah ada di tangan mereka?

Generasi umat ini harus belajar untuk menguasai teknologi dan mandiri menciptakannya. Semangat dan kesungguhan inilah yang harus dimulai dari sebuah elemen terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga.

Pendidikan para Penemu

Sudah saatnya, kita mengajarkan pada anak-anak untuk menjadi penemu dan ‘pencipta’. Menjadi orang yang kelak menciptakan pesawat tempur, tak sekadar menjadi pilot pesawat tempur. Apalagi hanya sebatas mengagumi kegagahan sang pilot yang berlaga di film-film Barat. Mengajarkan kepada anak-anak kita untuk bercita-cita menjadi gubernur baitul maal bukan sekadar menjadi pegawai bank.

Tak ada salahnya bila kita mencontoh yang telah dilakukan Jepang dalam membangun negerinya. Sebelum tahun 1868, Jepang adalah negeri yang tertinggal dan tak diperhitungkan di pentas dunia. Namun, tiga puluh tahun setelah Restorasi Meiji bergulir di tahun tersebut, Jepang telah berubah menjadi negara adidaya yang ditakuti.

Kunci dari perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa ini adalah pendidikan. Yaitu mengubah sistem pendidikan tradisional (yang kerap dilakukan di kuil-kuil) dengan sistem pendidikan modern, program wajib belajar, pengiriman mahasiswa Jepang ke luar negeri, serta peningkatan anggaran sektor pendidikan secara signifikan.  Selain itu, Jepang mendorong rakyatnya untuk bersahabat dengan buku.

Sebagai keluarga Muslim,  sangat penting untuk meningkatkan kualitas anak-anak yang kita miliki. Pendidikan mereka adalah investasi penting yang wajib kita lakukan saat ini. Kualitas pendidikan inilah yang harus diperhatikan setelah masalah akidah.

Allah Subhanhu Wa Ta'ala pun menantang umatnya untuk memecahkan rahasia di balik setiap penciptaan-Nya yang begitu sempurna. Dia membekali manusia untuk menjawab tantangan ini dengan hati, mata, dan telinga. Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam ayat 78 surat An-Nahl:

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersyukur.”

Oleh karena itu, selayaknya pendidikan yang kita berikan adalah pendidikan yang memacu anak-anak kita menemukan dan mengembangkan rahasia yang tersimpan di balik penciptaan Allah Subhanhu Wa Ta'ala. Semangat untuk menjadi penemu dan berinovasi inilah yang begitu penting untuk dipupuk di dalam keluarga.

Mewujudkan Mimpi

Keluarga kita harus menjadi keluarga yang haus akan hal-hal yang baru. Tak betah diam manakala tak bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Juga bersemangat untuk menjadi keluarga yang luar biasa bukan menjadi yang biasa-biasa saja.

Merangsang setiap anggota keluarga untuk menjadi para penemu memang bukan perkara mudah. Namun, hal ini dapat dirangsang dengan membiarkan ide-ide liar anak-anak dan pasangan kita bermekaran. Walau mungkin, dalam sesaat kita sempat menganggap hal tersebut hanya mimpi dan tak masuk akal, mari saling mendukung untuk membuatnya menjadi nyata. Karena, banyak teknologi yang kini sangat bermanfaat berasal dari mimpi yang tak masuk akal.

Mengasah akal untuk berjalan di tempat yang terasa “tak mungkin” akan membuat kita mendalami hal yang belum terjamah. Hal yang belum terjamah inilah yang membuat seseorang akan merasa tertantang dan berusaha untuk menaklukkannya. Sehingga, ia akan terbiasa untuk menemukan dan menciptakan hal-hal baru. Semangat inilah yang mendorong dunia Barat dan bangsa Jepang menjadi bangsa-bangsa yang menguasai peradaban modern.


Kita harus menanamkan dalam diri dan keluarga bahwa Allah Subhanhu Wa Ta'ala tidak pernah menyuruh hamba-Nya menjadi orang-orang biasa. Sebaliknya, Allah memasang target bagi hamba-Nya agar benar-benar menjadi orang-orang luar biasa. Sebagaimana yang telah Allah nyatakan dalam surat Ali Imran ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik bagi seluruh manusia; menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

Orang-orang luar biasa inilah yang mampu mempersiapkan kuda-kuda perang tangguh yang akan menggentarkan nyali musuh.

Mulai saat ini, kita harus membiasakan anak-anak kita membaca ayat-ayat Allah yang bertebaran dalam kehidupan dengan lafadz keluar-biasaan yang telah Allah ciptakan dalam mata, telinga, hati, dan akal. Sehingga, setiap anak kelak akan bercita-cita menjadi “pembuat burung Ababil” yang memporak-porandakan pasukan Abrahah. Burung Ababil tersebut mereka buat dalam bentuk pesawat tempur yang kelak menghancurkan pasukan Abrahah modern yaitu Israel dan sekutunya.

Tak hanya membuat Burung Ababil pelumat pasukan musuh, kita pun melihat anak-anak yang terdidik dalam keluarbiasaan ini menjelma menjadi Avicena muda, Imam Ghazali yang diteladani seluruh ekonom besar dunia, bahkan panglima perang sehebat Thariq bin Ziyad. Sungguh, mereka adalah sosok-sosok luar biasa yang piawai dalam cara yang bukan biasa-biasa saja.  Kelak, dengan semangat  inilah, Islam akan kembali menjelma menjadi raksasa yang menguasai dunia. */Kartika Trimarti, Ibu rumah tangga dan penulis lepas
Dikutip dan Update Judul oleh situs Dakwah Syariah
Red: Cholis Akbar


Rating: 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...