Sabtu, 17 Maret 2012

Cara Agar Sebuah Cinta Bersemi Indah

Apa yang paling banyak menyebakan konflik dalam rumah-tangga? Bukan persoalan-persoalan prinsip. Juga bukan masalah-masalah besar. Sebab semua itu biasanya sudah “selesai” ketika seseorang memutuskan menikah. Di luar soal niat, penyebab konflik rumah-tangga yang bahkan berakhir dengan perceraian, paling banyak justru komunikasi. Cara kita menyampaikan maksud, pikiran dan perasaan itulah yang kerap menjadi sebab bertikainya suami-isteri yang saling mencintai. Sekali lagi, komunikasi. Bukan perbedaan suku. Alhamdulillah, saya sendiri nikah beda suku. Saya orang Jawa dan istri saya orang Bugis yang besar di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Beda jenjang pendidikan? Tak masalah.

Banyak pernikahan yang suami-isteri memiliki perbedaan jenjang pendidikan amat jauh, tetapi tetap bahagia tanpa masalah. Tentu saja tak ada pernikahan yang tak pernah diwarnai perselisihan, meskipun amat kecil. Tetapi persoalannya bukan apakah kita akan menghadapi riak-riak kecil, melainkan bagaimana menghadapinya agar tetap berada dalam kebaikan dan kebenaran. Bukan sekedar bahagia yang kita ingin. Ada barakah yang patut kita harapkan dan pinta kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala seraya bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju pernikahan penuh barakah. Kita menempuh jalan itu ketika mau memasuki pernikahan, saat mengawali hingga masa-masa berikutnya. Semoga kelak Allah Subhanhu Wa Ta'ala masukkan kita ke dalam golongan yang diseru oleh para malaikat:

ادخلوا الجنة أنتم وأزواجكم تحبرون

 “Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan." (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).

Secara ringkas, suami-isteri sepatutnya menghidupkan perkataan yang baik (qaulan ma’rufan) di antara mereka. Awal pernikahan merupakan masa yang sangat penting sekaligus sensitif bagi proses pembentukan pola komunikasi keluarga. Inilah masa-masa yang sangat menentukan. Jika suami-isteri memiliki pola komunikasi (communication pattern) yang baik, maka modal awal untuk menyelesaikan masalah jika sewaktu-waktu muncul, telah mereka miliki. Pola komunikasi yang baik ini penting untuk menghindari timbulnya gaya komunikasi memaksa (coercive communication), terlebih jika berkembang menjadi kebiasaan. Komunikasi memaksa cenderung mengakibatkan terjadinya kegagalan komunikasi (communication breakdown) dan merupakan penyebab umum perceraian. Na’udzubillahi min dzaalik.

Banyak hal-hal kecil yang besar sekali manfaatnya, besar pula pengaruhnya bagi kebahagiaan perkawinan. Mari kita ingat sejenak bagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. memberi contoh dalam perkara menjuluki istri. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan sebutan humaira’ (yang pipinya merah jambu) atau muwaffaqah (wanita yang diberi petunjuk) atau ‘Aisy atau pun ‘Aisyah. Inilah sebutan yang mesra saat memanggil. Tampaknya sepele, tetapi berawal dari sebutan yang mesra, tutur kata selanjutnya akan terasa lebih berharga. Sebaliknya, kita jumpai bagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. menegur seorang lelaki yang memanggil isterinya dengan sebutan ukhty (saudariku).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. pernah mendengar seseorang mengatakan kepada isterinya, “Ya Ukhtiy.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. lalu berkata, “Ukhtuka hiya? Saudaramukah dia?” (HR. Abu Dawud).

Ya, tampaknya sepele, tetapi besar maknanya.

Banyak hal lagi yang bisa kita reguk dari teladan serta petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. dalam membangun rumah-tangga kita. Tetapi betapa sedikitnya kesempatan dan betapa sempitnya ruang untuk bertutur, selain keterbatasan ilmu dari saudaramu ini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk menegakkan qaulan ma’rufan di rumah kita. Selebihnya kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat mempergauli isteri dengan makruf. Ingatlah firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala:

يا أيها الذين آمنوا لا يحل لكم أن ترثوا النساء كرها ولا تعضلوهن لتذهبوا ببعض ما آتيتموهن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة وعاشروهن بالمعروف فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’, 4: 19).

Satu hal yang perlu kita ingat tatkala ingin menegakkan mu’asyarah bil ma’ruf (mempergauli secara makruf) bahwa kita menikah dengan orang yang pasti memiliki banyak perbedaan dengan kita. Jenis kelamin sudah jelas beda, orangtua juga pasti berbeda (sebab tidak halal menikahi saudara sekandung), masa kecil berbeda serta sejumlah perbedaan lain. Maka salah satu yang perlu kita tumbuhkan dalam diri kita adalah kesediaan untuk menenggang perbedaan dan tidak meributkannya sejauh bukan masalah yang prinsip. Inilah jalan untuk memetik kemesraan.

Tetapi ini tidak cukup. Sama sekali tidak cukup. Perhatikan olehmu bagaimana cara memperoleh rezeki. Segala usaha yang gigih untuk menumbuhkan kemesraan agar cinta bersemi indah, akan sia-sia jika rezeki kita tidak barakah. Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting
Dikutip dan Update Judul oleh situs Dakwah Syariah
Red: Cholis Akbar


Rating: 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...