Sabtu, 10 Maret 2012

3 Alarm Selingkuh dan Cara Mengatasinya


Jika Anda mengalami salah satu dari tiga hal berikut, berhati-hatilah dan segera ambil langkah. Karena ketiganya adalah alarm yang mengingatkan bahwa Anda bisa terjerumus ke dalam perselingkuhan.

1. Tidak puas terhadap suami/istri
Jika muncul perasaan tidak puas terhadap suami/istri, baik dalam hal karakter, hubungan atau ‘kebijakan keluarga’, berhati-hatilah. Sebab itu bisa menjadi alarm pertama.

Perasaan tidak puas, terutama yang dilanjutkan dengan menjauhi dan menolak komunikasi, menjadi berbahaya karena ‘menggoda’ agar kita mencari orang lain sebagai tempat mencurahkan hati dan berbagi cerita. Fakta di lapangan mengatakan, banyak perselingkuhan terjadi karena kurangnya perhatian yang juga ditandai dengan minimnya komunikasi. Seorang konsultan keluarga pernah bercerita bahwa ibu-ibu di sebuah pemda terlibat selingkuh bermula dari kurangnya perhatian suami baginya.

Asma Nadia menyarankan agar alarm pertama ini segera diatasi dengan mengambil langkah inisiatif. Yakni dengan sesegera mungkin mengkomunikasikan dengan suami/istri. Boleh jadi ia juga tengah mengalami ketidakpuasan yang sama dengan kita. Termasuk dalam hubungan biologis, segera bicarakan. Rancang sebuah kondisi yang santai untuk memecahkan kebekuan. Bisa di rumah, bisa pula di luar rumah. Misalnya dengan makan malam yang special, tanpa gangguan orang lain termasuk anak-anak.

2. Kecewa karena terluka
“Kau tak mengerti aku… yang pernah terluka…”
Kalau tidak salah begitu bunyi syair sebuah lagu. Jika mendapati sikap suami/istri terkesan mencurigakan, tidak menghargai atau pernah melakukan affair, wajar jika hati terluka. Membalas keburukan dengan keburukan adalah yang tak baik. Apalagi dalam berumah tangga. Lebih-lebih jika kecurigaan itu ternyata tidak benar.

Maka untuk alarm kedua ini, segera komunikasikan dengan suami/istri mengenai kecurigaan kita. Tentu dengan bahasa yang halus dan tidak bernada menghakimi.

Kalaupun kecurigaan itu benar-benar terbukti, obati dengan memaafkan dan mengikhlaskan, jika kita masih komitmen hidup berdua dengannya. Sampaikan kepadanya bahwa kita memaafkannya, sekaligus meminta agar saling setia. Betapa banyak rumah tangga yang hancur berantakan karena perselingkuhan dibalas perselingkuhan. Dan betapa banyak keluarga yang kembali harmonis setelah suami/istri yang bersalah tahu bahwa pasangannya sangat baik dan setia dengan memaafkannya.

Jangan lupa berdoa. Sebab Allah-lah yang menggenggam dan membolak-balikkan hati hamba-Nya. Dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, amat mudah bagi-Nya mengubah orang yang pernah bersalah dan melukai hati menjadi orang yang paling setia dan mencintai pasangannya.

3. Jatuh Cinta
Jatuh cinta kepada orang lain merupakan hal yang sangat mungkin terjadi, bagi orang yang telah berkeluarga sekalipun. Ia bisa datang kapan saja dan mengenai siapa saja. Pernikahan bukan sebuah hal yang bisa menjamin secara pasti bahwa seseorang tak mungkin jatuh cinta lagi.

Yang menjadi masalah adalah, jika jatuh cinta itu dituruti. Inilah alarm ketiga yang sangat berbahaya. Yakni ketika benih-benih cinta itu dibiarkan tumbuh, bahkan disiram dengan pertemuan, atau dipupuk dengan imajinasi dan bayangan.

Lalu bagaimana mengatasinya agar cinta yang datang itu bisa layu sebelum berkembang? Yang pertama, ingat Allah, gunakan logika keimanan. Bagaimana akibatnya jika perasaan itu dibiarkan liar. Kedua, ingat kebaikan suami/istri kita. Sebesar apapun pesona ‘orang baru’ itu, ia belum teruji. Sementara suami/istri kita telah teruji kesetiannya, tanggungjawabnya, kemampuannya membesarkan dan mendidik anak, menemani kita di masa-masa paling sulit sekalipun, dan seterusnya. Yakinkan diri bahwa seseorang terlihat ‘sempurna’ karena kita belum pernah bersamanya. Jika kita telah hidup bersamanya, akan terlihat jua kekurangannya. Sedangkan suami/istri kita, meskipun ada kekurangannya, sesungguhnya ada sekian banyak kelebihannya. [Disarikan dari Sakinah Bersamamu karya Asma Nadia]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...