Minggu, 26 Februari 2012

Efektif Komunikasi Dalam Berdakwah?


Sudah Efektifkah Komunikasi Kita dalam Berdakwah?." Di antara sifat Allah Subhanhu Wa Ta'ala yang menonjol adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Dia Maha bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya. Seorang muslim yang kecipratan sifat-Nya ini akan menggabungkan akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati nurani yang bersih. Hikmah terkadang dimaknai sebagian orang dengan filsafat. Padahal hikmah adalah inti filsafat, lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dijangkau oleh orang yang terlatih kecerdasannya dan lebih tinggi cara berpikir. Sedangkan hikmah bisa dipahami oleh orang awam dan tidak bisa terbantahkan oleh ilmuan. Hikmah tidak sebatas ucapan verbal, tetapi jelmaan dari tindakan dan akal budi.

Imam Syafii dikenal memiliki qoul qadim (fatwa lama) dan qaul jadid (fatwa baru). Ini menunjukkan kedalaman ilmu syariah (tafaqquh fiddin) dan pemahaman terhadap obyek dakwah (fiqh dakwah).

Beliau mengatakan, Memahami syariat merupakan fann (ilmu) tersendiri dan cara mengkomunikasikannya merupakan fann yang lain.

Ketika seorang komunikator Allah Subhanhu Wa Ta'ala (dai/muballigh) itu matang secara spiritual maka yang keluar dari lisannya adalah qaulan tsaqila (ucapan yang berbobot), (al-Muzzammil (73) :5), qaulan layyina (ucapan yang lembut) (Thaha (20) : 44), qaulan tsabita (ucapan yang meneguhkan), (Ibrahim (14) : 27), qaulan ma’rufa (ucapan yang dikenali hati), (al-Baqarah(2) : 263), qaulan karima (ucapan yang mulia), (al-Isra (17) : 23), qaulan sadida (ucapan yang tepat), (al-Ahzab (33) : 70) qulan baligha (ucapan yang memiliki ketinggian nilai sastra), (an Nisa (4) : 63), qulan maisura (ucapan yang mudah dan memudahkan), (al-Isra (17) : 28).

Stigma negatif yang dicitrakan oleh pihak tertentu terhadap Islam belakangan ini, diantaranya diakibatkan oleh pelaku dakwah yang dangkal pemahaman keislamannya dan picik (sempit pandangan dan sempit dada) dalam memahami realitas medan dakwah (maidanud dakwah).

Dahulu, para muballigh yang dikirim di kepulauan Nusantara ini sejak zaman Umar bin Khathab, mereka menjalankan misi dakwahnya sukses secara damai. Sekalipun Indonesia kala itu masih dipengaruhi Hindu dan Budha. 

Di antara faktor utamanya mereka dikenal faqih fiddin, pula memahami secara mendalam dimana materi dakwah itu dikomunikasikan.

Abu Bakar Ash Shiddiq sukses memerangi kaum murtaddin, meredam gejolak dan pergolakan yang terjadi, karena khalifah yang pertama ini disamping faqih fiddin pula pakar ilmu ethnologi (ahli di bidang etnis, bagian dari ilmu manejemen). Beliau memahami suku mana yang perlu digertak dengan paksa, diplomasi dan suku mana yang memerlukan pendekatan individual (dakwah fardiyah).

Berikut sebelas alasan agar kita bisa meneladani kebijaksanaan para pendahulu kita yang shalih (salafus shalih) dalam berdakwah :

Pertama, tafqquh fiddin (mendalam dalam pemahaman keagamaan)

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah (9) : 122).

Kedua, ikhlas dalam berdakwah

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُو

“Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad) “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. Asy Syura (42) : 23).

Pesan Nabi kepada Muadz bin Jabal ke negeri Yaman. "Murnikan motivasi dirimu, maka cukup bagimu amal yang sedikit." (al-Hadits)

Ketiga, memahami obyek dakwah

“Barangsiapa yang mengetahui bahasa suatu kaum, ia aman dari makar mereka, “ demiian kata pepatah Arab.

“Berbicalah kalian kepada mereka sesuai dengan kadar berpikir mereka.” (Al-Hadits)

Keempat, menjadikan diri sebagai mushaf berjalan, alat peraga dakwah, (uswah dan qudwah bagi yang didakwahi)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?.” (al-Baqarah (2) : 44).

Kelima, mengikat hati (dakwah fardiyah) dengan kasih sayang sebelum menjelaskan sesuatu

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِي

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS: al-Anbiya (21) : 107)

Keenam, mengenalkan sebelum membebani secara konstan

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS: Yusuf (12) : 39-40)

Ketujuh, mempermudah bukan mempersulit

“Permudahlah, jangan dipersulit, besarkan hati jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari).

Kedelapan, mendahulukan yang prinsip sebelum cabang

Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” [QS: Saba (34) : 46)

Berdua-dua atau sendiri-sendiri maksudnya ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan keadaan Muhammad s.a.w. itu Sebaiknya dilakukan dalam keadaan suasana tenang dan ini tidak dapat dilakukan dalam keadaan beramai-ramai.

Kesembilan, membesarkan hati sebelum memberi ancaman

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, maka Dialah yang menunjuki Aku, Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku, Dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat." (QS: Asy Syu’ara (26) : 78-82).

Kesepuluh, mendidik bukan menelanjangi

“Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku agar kalian saling tawadhu’ (rendah hati), sehingga tidak ada seorang pun yang sombong terhadap yang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim kepada yang lain.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Kesebelas, memposisikan diri bagaikan orangtua bagi anak, guru bagi murid, mursyid bagi salik (penempuh jalan menuju-Nya), panglima bagi prajurit, pemimpin bagi jamaah, kakak bagi adik.

“Aku diutus untuk menjadi guru yang mempermudah jalan bagi murid (menuju Allah SWT).” (al-Hadits).. *

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah
oleh: Shalih Hasyim
Red: Cholis Akbar
Dikutip dan Ringkas Judul oleh situs Dakwah Syariah


Rating: 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...