Sabtu, 25 Februari 2012

4 Langkah Mempelajari Islam yang Kamil


MEMAHAMI Islam secara menyeluruh (kamil, mutakamil) adalah penting, sekalipun tidak secara terperinci. Kesalahpahaman dalam memahami Islam berefek pada kerusakan dalam mengkomunikasikan dan  mengamalkannya pada realitas kehidupan pribadi, keluarga, bangsa dan negara. Semakin luas wawasan dan mendalam pengalaman ruhani seseorang dalam menghayati dan mengamalkan Islam semakin lapang (terbuka) pula dadanya untuk menerima kebenaran mutlak (Hakikah al Muthlakah). Sebelumnya diliputi berbagai kegelapan, kesempitan dada,  setelah itu berada pada cahaya (keimanan).

Orang-orang jahiliyah dahulu mudah terjangkiti berbagai penyakit moral; molimo – lima perbuatan jahat - (mencuri, main perempuan, memakan barang riba, membunuh) karena syaraf-syaraf otaknya telah mengalami kerusakan disebabkan banyak minum-minuman keras. Kejahatan lain, selain kerusakan pola pikir masih mudah untuk diperbaiki. Sebaliknya, menyembuhkan/mendiagnosa penyakit yang diakibatkan oleh kerusakan pikiran memerlukan coast yang sangat mahal. Karena, orientasi, cara berpikir dan cara pandang adalah titik tolak (dasar berpijak)  aktifitas seseorang.

Demikianlah cara yang paling minimal untuk berinteraksi dengan agama Islam agar menjadi pengikut Islam yang komitmen, konsisten dan konsekwen.

Guna menghindari kesalahpengertian, kerancuan dan stigma negatif terhadap keunggulan Islam, maka untuk memahaminya secara benar dan lurus perlu ditempuh lima cara-cara berikut:

Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang masih orisinil dan otentik.

Yang wajib dipelajari adalah Al-Quran dan As Sunnah. Al-Quran adalah firman-Nya yang suci, dan As Sunnah adalah firman-Nya yang kedua, sekalipun redaksinya bersumber dari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  al Ma’shum. Umat Islam yang hidup pada masa keemasan Islam, merekalah yang teruji otoritas keilmuannya, paling bersih hatinya, paling sedikit neko-nekonya (sikap kepura-puraannya), mereka berada pada petunjuk yang benar, mereka yang dipilih oleh Allah Subhanhu Wa Ta'ala untuk menemani Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) .

Karena itulah, Allah Subhanhu Wa Ta'ala langsung menjaminnya ke dalam surga.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah (9) : 100).

Di antara kekeliruan memahami Islam adalah orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluk-pemeluknya yang telah jauh dari pimpinan Al-Quran dan As Sunnah. Atau proses pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf dengan berbagai bid’ah dan khurafat yang muncul bersamanya.

Mempelajari Islam dengan cara demikian menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam singkritisme, hidup penuh bid’ah dan khufarat, yakni ibadah dan kepercayaannya bercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islami (dhannul jahiliyah, hukmul jahiliyah, hamiyyatul jahiliyah, tabarrujul jahiliyah, dakwal jahiliyah, syakwal jahiliyah),  jauh dari ajaran Islam yang murni dan lurus.

Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial (sebagian-sebagian)

Apabila Islam dipelajari secara sebagian saja dari ajarannya (kulitnya), bukan pokoknya (ushul), dan dalam bidang khilafiyah (yang diperselisihkan) (furuiyah, cabang-cabang agama), tentu pemahaman keislamannya sangat dangkal.

Bukankah dari sisi kulitnya saja, Islam sekarang ini telah dicabik-cabik? Apalagi isinya.

Efeknya, ia akan bimbang terhadap hal-hal yang nampaknya antagonistic. Akhirnya bersikap ekstrim dalam beragama. Baik ekstrim kanan, maupun ekstrim kiri. Misalnya, bersikeras dengan masalah furuiyah dan toleran dengan persoalan ushul. Pemahaman Islam secara parsial juga akan membawa akibat seperti hikayat pengenalan dari empat orang buta terhadap seekor gajah.

Bagi mereka yang kebetulan memegang ekornya berpendapat bahwa gajah itu panjang seperti cambuk. Bagi mereka yang memegang kakinya berkata bahwa gajah itu ibarat pohon kelapa, dan yang kebetulan memegang telinganya mengatakan bahwa gajah itu lembek dan lebar. Yang kebetulan memegang perutnya saja memahami gajah itu bagaikan barang bergantung yang besar.

Untuk menghindari kekeliruan semacam itu, Islam harus dipelajari secara menyeluruh.  Dan pekerjaan ini tidak cukup mudah. Islam adalah agama universal dan dapat diterima oleh segala macam level  intelektualitas manusia. Dengan mempelajari prinsip-prinsip ajaran Islam, mudah ditemukan pola ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sebagai agama yang mengajarkan tentang keseimbangan kehidupan duniawi dan ukhrawi.

KETIGA, Islam harus dipelajari dari referensi (maraji’) yang ditulis oleh para ulama besar, para zu’ama dan sarjana-sarjana Islam

Merekalah yang berjasa menyusun berbagai disiplin ilmu untuk menjaga keaslian Al-Quran dan As Sunnah. Mereka berhasil memadukan kedalaman ilmu dengan pengalaman praktek kehidupan sehari-hari yang indah. Ma’rifat (kedalaman ilmu) mereka melahirkah khasyyatullah (ketakutan kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala).

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah (9) : 122).

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُو

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang mendalam ilmu agamanya dan mengamalkannya dalam kehidupan).” (QS. Fathir (35):28).

Hanyalah para ulama yang bisa menjadi pewaris para Nabi. Di saat yang sama, sering kita temui sekarang ini banyak bertanya, bersandar atau belajar Islam justru pada orang yang dikenal bukan ulama atau fuqaha (ahli hukum Islam). Bahkan yang lebih “tersesat” lagi mereka belajar pada kaum Orientalis, yang hanya menjadikan Islam sebagai obyek penelitian, bukan untuk diyakini.

Penulisan mereka tentang Islam bukan dengan tujuan suci (obyektif, ilmiah), tetapi dengan dasar dengki sehingga banyak prinsip Islam yang sengaja dikaburkan dan diselewengkan.      

Kita juga sering keliru dalam menyandarkan pendapat masalah Islam pada orang yang bukan ahlinya, fuqaha. Sebab tidak semua yang berjuluk dosen IAIN atau UIN ia fuqaha (ahli fiqih).  Bahkan yang mengerikan, dikenal pakar sejarah, pakar politik justru membahas wilayah fiqh (hukum Islam) dan syariah.

Bukan rahasia lagi. Adalah Snouk Hurgronye (1857-1936), seorang Orientalis Belanda yang berpura-pura masuk Islam,  yang ujungnya menjadi advisor Pemerintah Hindia Belanda dalam bahasa Timur dan Hukum Islam.  Ia bahkan mendalami Islam dan pernah tinggal di Jeddah, dengan memakai nama Abdul Gaffar Al-Holandi. Namun ujungnya, semua kajiannya untuk “menghancurkan” Islam.

Keempat, jangan mempelajari Islam  sekedar realitas sosial umat Islam an sich

Banyak yang mempelajari Islam sekedear menekuni realitas sosial umatnya, bukan agama (nilai) Islam itu sendiri. Sehingga memunculkan kesan, sikap konservatif sebagaian kalangan Muslim, keterbelakangan bidang pendidikan, keterpurukan, kemiskinan, itulah yang dinilai sebagai Islamnya. Padahal ini adalah kesalahan terbesar dalam melakukan pendekatan dengan Islam.

Dalam keadaan demikian, bisa terjadi orang non-Muslim secara lahiriyah seolah lebih “islami”.  Dengan hanya menjadikan ukuran “tertib”, “disiplin” “memelihara kebersihan”,  “kebiasaan antri” dll dianggap lebih islami. Bahkan, ada yang mengatakan mereka lebih shalih daripada seorang muslim. Na’udzu billah.
Padahal,  tidak pernah orang kafir dan musyrik itu dikategorikan Allah sebagai seorang shalih di mata Allah Subhanhu Wa Ta'ala?

Inilah kesalahan mempelajari Islam secara sosiologis, tetapi mengabaikan aspek teologis. Padahal, inti Islam itu pada tataran teologisnya, disamping amal shalih pemeluknya. Dalam Islam, Iman yang tidak melahirkan amal shalih sama jeleknya dengan amal yang tidak bertitik tolak dari keimanan.

Inilah yang perlu dipahami dengan pikiran yang jernih. Agar memperoleh gambaran yang benar dan positif terhadap Islam dan umat Islam.

Selama bertahun-tahun kaum muslimin terjajah baik secara pisik dan mental. Sejak saat itulah melahirkan sebuah generasi yang memiliki kelayakan untuk dijajah (qabiliyyah littakhalluf).

Ketika kaum kaum Muslimin dijajah secara fisik dan hasil kekayaannya dikeruk secara membabi buta dan di boyong ke luar negeri, al Hamdulillah mereka memiliki alasan keagamaan untuk bersatu. Dan ajaran jihad yang memelihara stamina  ruhaninya, sehingga berhasil mengusir penjajah. Ghirah keislaman umat Islam mengalami grafik kenaikan.

Belajar dari pengalaman, penjajah merubah strateginya untuk menguatkan pengaruhnya dalam tubuh umat Islam secara ideologi yang dikenal dengan Al Ghazwul Fikr (perang pemikiran). Jika perang psisik kedua petarung sama-sama aktif, sedangkan perang ideologi, pihak lawan lebih aktif. Dalam perang ini banyak kaum Muslimin menjadi kurban terutama dari kalangan akademisinya. Mereka dikerahkan untuk masuk lembaga pendidikan penjajah. Sehingga ketika pulang ke negeri asalnya, ia menjadi tidak komunikatif dan tidak aspiratif. Mereka menjadi jubir dan komunikator yang ulung bagi penjajah. Persoalan ushul (prinsip) Islam yang selama ini sudah selesai dibahas dan diamalkan umat Islam, mulai dipersoalkan dan disalahpahami.

Maka terjadilah musibah terbesar yang menimpa umat Islam hari ini adalah musibah agama (mushibatud din). Karena, orang-orang Islam yang berusaha keras memahami agamanya secara benar, dipaksa mengekor (tanpa daya kritis) dengan persepsi, pandangan dan pola pikir penjajah (asing dari Islam).

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah
Red: Cholis Akbar
Dikutip dan Ringkas Judul oleh situs Dakwah Syariah


Rating: 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...