Sabtu, 07 Januari 2012

Taubat, Tidak Sekedar Lisan Beristighfar


Di dalam Alquran banyak cerita bahwa para nabi selalu mengajak istighfar. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya (Tsamud): “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunanNya, kemudian bertobatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmatNya) lagi memperkenankan (doa hambaNya). “ (QS Hud[11]:61).

Kepada kaum Aad, Nabi Hud Alaihissalam berkata, “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepadanya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud[11]:52).

Banyak orang mengira bahwa istighfar atau tobat itu cukup hanya dengan lisan. Sementara perbuatannya tetap berlanjut dalam dosa-dosa. Istighfar seperti ini menurut para ulama adalah istighfar setengah hati. Al Ashahani menerangkan, “Istighfar artinya adalah memohon ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (QS Nuh[71]:10). Itu perintah untuk memohon ampunan dengan lisan dan perbuatan. Siapa yang mengatakan bahwa itu cukup dengan lisan saja, jelas itu perbuatan para pendusta.”

Imam an Nawawi dalam bukunya Riyadushsalihin berkata, “Tobat adalah wajib atas setiap dosa. “Bila dosa itu berhubungan dengan allah, syaratnya ada tiga. Pertama, tinggalkan dosa-dosa tersebut. kedua, menyesal atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Tetapi bila dosa-dosa tersebut bersifat sosial, ditambah satu syarat lagi, hendaklah menyelesaikannya secara sosial, dengan mengambalikan hak-haknya jika berupa harta, atau minta maaf jika berupa ghibah atau sikap yang menyakitkan hatinya.

Banyak kisah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mengesankan, bagaimana mereka menebus dosa setelah bertobat. Sebut saja misalnya Umair bin Wahab, setelah masuk Islam, ia sadar semasa kafirnya sangat memusuhi Nabi bahkan ia pernah bertekad untuk membunuhnya.

Mengingat dosa ini. Umair minta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk berdakwah langsung di tengah masyarakat Quraisy di Makkah. Rasulullah mengizinkannya. Umair berangkat. Di Makkah, Umair siang dan malam berdakwah sampai tak terhitung jumlah orang-orang kafir yang masuk Islam karenanya.


sumber http://hikmah08.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...