Selasa, 31 Januari 2012

Masa depan pendidikan agama di Indonesia

Dari hari ke hari minat orang indonesia untuk belajar agama semakin menurun, hal ini bisa kita lihat dari realitas yang berkembang di masyarakat. Orang telah terlena oleh kehidupan dunia dan sebagian menganggap bahwa agama itu urusan para ulama, mereka merasa sudah cukup dengan bekal agama yang masih minim di dalam dirinya. Islam, sebagai agama yang raakhmataal lilalamin menggariskan jika setiap umatnya wajib belajar sepanjang hidupnya, bahkan kewajiban untuk belajar ini dengan jelas disebutkan dalam salaah satu ayat di kitab suci al quran.

Saat nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, perintah pertama yang beliau terima juga untuk membaca, tidak langsung diminta untuk melakukan ibadah yang lain. Saat ini, ketika era globalisasi telah menguasai generasi muslim, banyak orang tua lupa akan masa depan pendidikan agama anakanaknya. Mereka cenderung antipati dengan sekolah yang punya nuansa religi, bahkan ada sebagian yang menganggap jika agama tak bisa memberikan keuntungan financial di kemudian hari. Saat orang-orang ini tahu ada anak yang sekolah di lembaga pendidikan agama, tatapan mata mereka nampak sinis, mereka menganggap jika kelak orang yang sekolah di lembaga pendidikan agama tak bisaa hidup mandiri, karena lapangan pekerjaan untuk mereka tak ada. paling yang ada ustad atau tukang ceramah di mushola.

Sungguh sebuah pandangan yang sangat sempit dan kurang punya dasar kuat. Agama dilahirkan untuk membimbing umat manusia agar perbuatannya tak melampaui batas. Tanpa adanya agama, kita semua akan hidup dalam kebingungan dan yang jelas akan lebih banyak mengalami rasa frustasi tanpa makna. semua orang membutuhkan agama sebagai penyeimbang kekacauan yang masih bergejolak di dalam jiwa. Kalau aada orang yang memandang rendah suatu agama, maka orang semacam ini perlu dipertanyakan kualitas jiwanya.

Pendidikan agama memang bukan sumber untuk memberi bekal ketramipilan fisik, tetapi ia berperan sebagai penyuci dan pembasuh kotornya hati, siapapun yang telah terbiasa dan mampu menyerahkan kesetiaan tertingginya kepada Alloh SWT maka tak mungkin akan merugikan orang lain. Agar kita bisamencapai tingkat seperti ini maka dibutuhkan pendidikan  agama yang kuat dan tangguh. Sebaliknya sejenius apapun orang, kalau bekal agama tak ada, maka ada peluang  untuk menjadi biang keladi dari kekacauan hidup masyarakat.  etiap orang yang telah mendapatkanbekal agama kuat boleh jadi apa saja, tak ada batasan bahwa orang yang belajar agama harus jadi ulama, ustad atau kyai. Tapi mereka bisa menjadi orang yang berpengaruh dan pembaharu yang mendatangkan kemajuan suatu bangsa. Faktanya.... kini perusahaan perusahaan besar dunia juga lebih cenderung memilih para pemimpin utama perusahaan berdasarkan tingkat kecerdasan spiritual yang mereka miliki. Walau IQ nya rendah tetapi bila tingkat keberagamaannya tinggi, mereka akan tetap dipercaya untuk memimpin perusahaan tersebut. So...jangan sampai kita salah dalam memahami makna pendidikan agama.

Sumber : http://blog.uin-suska.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...