Minggu, 08 Januari 2012

BEGINI SEHARUSNYA GENERASI MUDA





Mendidik pemuda sesungguhnya bukanlah urusan yang mudah. Di antara tugas Nabi selama hidupnya adalah menjadi murabbi (pendidik). Usahanya mentarbiyah (mendidik) lebih banyak daripada perkataanya. Amal perbuatan beliau dengan para sahabatnya lebih banyak dari ucapannya. Nabi selalu mendidik sahabatnya melalui gerakan-gerakannya, sifat-sifatnya, serta keistimewaan-keistimewaanya, lebih banyak daripada pidato dan ceramahnya.

Bicaranya dalam berbagai kesempatan sedikit saja. Namun dari setiap peristiwa, nabi selalu mengambil pelajaran dan kesimpulan. Nabi menjadikan malam dan siangnya hanya untuk mentarbiyah (pendidikan).

Ya, Sesunggunya di lingkungan kita saat ini terdapat para dai. Namun, ktia membutuhkan para pendidik yang membawa pemuda ke jalan ALLAH yang lurus. Pendidik yang membimbing dan mendidik pemuda itu dalam hal prilaku, akhlak, karakteristik dan sifat-sifatnya. 

Karena itu, anda perhatikan sebagian orang memiliki semangat yang membara, namun masih membutuhkan adab, membutuhkan arahan, serta membutuhkan tarbiyah. Karenanya, kita perlu sekali kembali pada dasar-dasar pendidikan yang dibawa Nabi. Kita perlu melihat bagaimana beliau mendidik para sahabatnya dan bagaimana menunjuki mereka jalan yang lurus. Kita akan melihatnya melalui beberapa persitiwa yang akan saya paparkan bersama anda, sekitar usaha Nabi Muhammad dalam mentarbiyah.


Dalam sebuah hadits. Jelas diceritakan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad. Ada yang berpendapat laki-laki  itu dari Tsaqif, ada juga berpendapat lain. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin ISLAM. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan zina.” Seketika emosi para sahabat terpancing. Mereka meminta penjelasan tentang perbuatan dan ucapan seperti ini di hadapan Nabi Muhammad. Bagi mereka, pernyataan itu hanya mengikuti hawa nafsu.


Lalu, apa yang dikatakan Nabi Muhammad ?

Rasulullah bersabda, “Biarkan dia!”. Kemudian Rasulullah mengajaknya berbincang-bincang dan membuatnya merasa puas. Nabi Muhammad tidak mencelanya dengan keras di depan orang. 

Beliau hanya bertanya, “Relakah kamu bila ibumu dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Rasulullah bersabda, “Relakah kamu saudarimu dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Rasulullah bersabda lagi, ‘Relakah kamu putrimu dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Rasulullah bersabda, “Relakah kamu bibimu (dari pihak ayah) dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Nabi Muhammad bersabda, “Relakah kamu bibimu (dari pihak ibu) dizinai?” lelaki itu menjawab, “Tidak”.

Nabi Muhammad bersabda, “Bagaimana orang lain akan rela, padahal kamu sendiri tidak rela dengan hal itu”. Lalu, lelaki itu sekarang memilki semangat keagamaan (keislaman). Dia membayangkan sikap orang-orang ketika kerabat wanita mereka dizinai, seperti sikapnya ketika kerabat wanitanya dizinai. Lalu lelaki itu berkata, “Aku bertaubat kepada ALLLAH dari perbuatan zina”.


Nabi Muhammad bersabda,”Yaa ALLAH, jagalah pendengaran penglihatan dan kemaluannya”.(1)

Begitu mudahnya perkataan Rasulullah dan begitu indah bimbingannya!.


Contoh lain, ketika Rasulullah duduk-duduk beserta para sahabatnya dimasjid, Lalu datanglah seorang Badui. Orang Badui itu kencing dimasjid Rasululllah. Bumi yang begitu luas menjadi sempit karena masalah kencing. Lalu para sahabat berdiri, ingin memukul dan membentaknya.

Maka Rasulullah bersabda, “Biarkan dia. Tinggalkan dia!”.(2) Lalu para sahabat duduk. Nabi Muhammad pun membiarkan orang itu hingga selesai. Nabi Muhammad bersabda, “Bawakan kepadaki setimba air!”.


Lalu mereka membawa setimba air. Kemudian Nabi Muhammad bersabda, “Siramkan di atas kencingnya!”. Para sahabat pun menuangkan air diatas kencingnya. Lalu orang badui itu pergi dan masalah pun selesai.

Nabi Muhammad bersabda, “Bawalah orang itu menghadapku!”. Ketika datang, Rasulullah meletakan tanganya diatas orang itu. Tangan belas kasih dan sayang, tangan keramahan dan tangan lemah lembut.


Rasulullah berkata kepadanya, “Sesungguhnya sedikit pun tidak layak ada bahaya dan kotoran di bagian masjid-masjid ini.”(3)


Masjid-masjid itu untuk shalat, berzikir kepada ALLAH, bertasbih, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan La Ilaha Illallah)

Ada juga orang Badui datang kepada Nabi Muhammad, lalu berkata, “Wahai Muhammad!”. Orang itu tidak mengatakan wahai Rasulullah. Padahal, ALLAH berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)’. (QS.An-Nur : 63). Jadi seharusnya orang itu katakan. Wahai Rasulullah, Wahai Nabi ALLAH, bukan mengatakan wahai Muhammad.


Tetapi Rasulullah tetap sabar dan mendiamkan hal itu. Orang itu berkata, “Berikan aku sebagian harta ALLAH yang ada padamu, bukan dari hartamu, bukan pula dari ayahmu!”


Lalu para sahabat berdiri ingin menghajarnya. Tetapi Nabi Muhammad menenangkan para sahabat, menggandeng orang itu dan membawanya pergi menuju rumah Beliau. Lalu Beliau memberikannya kismis, kurma dan pakaian. Nabi Bersabda, “Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?”.

Orang itu menjawab, “Ya. Semoga ALLAH membalasmu berupa keluarga dan sanak saudara dengan balasan terbaik.

Nabi Muhammad bersabda, “Ketika kamu keluar menemui sahabat-sahabatku, ucapkan perkataan tadi. Karena, mereka masih marah padamu.” Lalu, ketika orang itu diminta keluar di depan sahabat, Nabi Muhammad bersabda,”wahai orang badui, Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?” Orang itu menjawab, “Ya. Semoga ALLAH membalasmu berupa keluarga dan sanak saudara dengan balasan terbaik”.


Maka Nabi Muahmmad tersenyum dan bersabda kepada para sahabat. “Tahukah kalian bagaimana perumpamaaku, perumpamaan kalian dan perumpamaan orang ini?” Para sahabat menjawab, “Kami tidak tahu, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad bersabda, “Perumpamaan kita seperti orang yang memiliki binatang ternak yang lepas darinya, binatang ternak itu bisa berupa bighal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai), kuda atau unta. Lalu orang-orang mengejarnya. Mereka hanya membuat binatang itu tambah lari. Maka si empunya berkata, ‘Biarkan aku yang mengurusnya!’ kemudian orang itu mengambil sedikit rumput dan dedaunan, Lalu member isyarat kepada binatangnya. Maka binatang itupun datang, sehingga orang itu bisa memegangnya. Jadi, kalau aku biarkan kalian dan orang Badui ini, kemudian kalian memukulnya, kemudian dia menjadi kafir (tidak beriman), tentu dia masuk neraka”.


Tahukah anda apa yang dilakukan orang Badui itu setelah persitiwa ini? Setibanya di kampung halamannya, ia mendakwahi kaumnya. Mereka termasuk kabilah Arab. Dia katakan, “wahai kaumku, masuklah ke agama ISLAM ! Karena sesungguhnya Muhammad memberi seperti pemberian orang yang tidak takut fakir”. Lalu, berbondong-bondong mereka memeluk ISLAM



(1).HR.Ahmad damal musnad-nya (5/256-257); Al-Thabrani dalam Al-Kabir (7679) dan dalam “Musnad Al-Syamiyyin’ (1066); dishahikan Al-Albani dalam “Al silsilah Al-Shahiha” nomor ; 370.

(2)HR.Muslim (248) dan Bukhari (6025)

(3)HR.Bukhari (219) dan Muslim (285)

sumber :  Buku "Selagi masih muda" karya DR.A'idh Al-Qarni, M.A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...