Senin, 31 Januari 2011

Malaikat dan Jin pun Tidak Mengetahui Hal Ghaib












Malaikat dengan ketinggian kedudukan mereka pun tidak mengetahui hal ghaib, kecuali apa yang Allah ajarkan pada mereka,

Allah berfirman, artinya,
Mereka (malaikat) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
(QS. Al-Baqarah 32)

Jin pun tidak mengetahui hal yang ghaib sebagaimana mahluk yang lain tidak mengetahui hal ghaib, dalil dari hal ini sebagaimana dalam kejadian wafatnya nabi sulaiman, yang para jin tidak mengetahui wafat beliau, kecuali tatkala setelah robohnya nabi sulaiman karena tongkat telah dimakan rayap.

Allah berfirman, artinya,

“Tatkala sampai ajal Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kematian (nabi sulaiman) kecuali dari binatang rayap yang memakan tongkatnya, tatkala ia roboh, tahulah jin-jin itu, bahwa seandainya mereka mengetahui hal-hal yang gaib, tidaklah mereka tinggal dalam siksaan yang hina itu.

(Q.S. Saba’:14)

Dan dalil yang menunjukkan tentang tidak adanya yang mengetahui hal ghaib sangat banyak, dalam al-qur'an, sunnah, dan ijma' dan hal ini menunjukkan tentang kufurnya orang yang menyatakan diri mengetahui hal yang ghaib.

(referensi, taysirul whusul ila naylil makmul, syaikh nukman bin abdukarim, darulharamain, Shan'a, hal 122-123)

Minggu, 30 Januari 2011

Mengenai Bahaya Iblis














Dan bagi seluruh umat Allah telah mengutus bagi mereka rasul, para rasul itu memerintahkan beribadah kepada Allah saja, dan melarang beribadah pada thaghut.

Allah berfirman, artinya,
"Sungguh Kami telah mengutus setiap umat rasul (untuk memerintahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut"

(QS.An-nahl:36)

Thagut itu banyak, namun kepalanya adalah Iblis laknatullah 'alaih, dialah pemimpinnya, guru para syaithan yang mengajari kesesatan.

Allah berfirman, artinya,
seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam."
(Al-Hasyr : 16)

(referensi, taysirul whusul ila naylil makmul, syaikh nukman bin abdukarim, darulharamain, Shan'a)

Orang Kafir Tidak Percaya Hari Berbangkit













Barangsiapa yang mendustakan adanya hari berbangkit setelah kematian maka ia telah kufur

Allah berfirman, artinya,
Orang-orang kafir menyangka bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Demi tuhanku, kamu benar-benar akan dibangkitkan
(Attaghabun : 7)

Hal yang menunjukkan kufurnya orang mendustakan kebangkitan, karena orang itu telah mendustakan Allah, rasul-Nya dan mengingkari hal yang telah diberitakan agama, dan telah diberitakan seluruh risalah samawi.

Allah berfirman, artinya,
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan".(QS. Al-an'am : 29)

Allah berfirman, artinya,
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: "Bukankah (kebangkitan ini benar?" Mereka menjawab: "Sungguh benar, demi Tuhan kami". Berfirman Allah: "Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)". (QS. Al-an'am : 30)

Allah telah mengabarkan bahwa orang kafir menyangka tidak akan dibangkitkan, wallahu'alam.

(referensi, taysirul whusul ila naylil makmul, syaikh nukman bin abdukarim, darulharamain, Shan'a, hal 113-114 )

Penjelasan Tiga Negeri, Dunia, Barzah, Akhirat












Tiga Negeri itu adalah negeri dunia, negeri barzah, dan negeri akhirat.

Negeri Dunia adalah kehidupan manusia setelah kelahirannya, dikatakan dunia karena dekat hilangnya, cepat hilang keadaannya, Allah berfirman, artinya, "Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan hanyalah kesenangan yang menipu", inilah dunia negeri tempat beramal dan bertauhid tidak berbuat kesyirikan, dan tempat beribadah.

Negeri Barzah adalah kehidupan setelah kematian, dialam kubur, Allah berfirman, artinya, "dan dihadapan mereka ada barzah sampai hari mereka dibangkitkan(Al-Mukminun: 100).

Negeri akhirat, dinamakan demikian karena yang terakhir dari dunia, dan karena akhir dari persinggahan kehidupan yang tiga, Allah berfirman, artinya, tapi mereka lebih mementingkan kehidupan dunia, padahal akhirat itulah lebih baik dan kekal, Negeri ini terjadi setelah kebangkitan, dan akhir darinya ada yang masuk surga, ada yang masuk neraka, sebagaimana Allah berfirman, artinya, sebagian di surga dan sebagian di neraka".

(referensi, aysarus syuruh 'alal qaulil mufid fii adilatit tauhid, hal 150, syaikh muhammad alwushabi, darul istiqamah, kairo mesir, 1430 H)

Pertolongan Allah Selalu Tepat Waktu


Siang itu terasa panas dan menyesakkan bagi akhwat ini. Bukan saja karena ia hidup di kota industri yang banyak pabrik dengan asap tebal memanaskan kota. Lebih dari itu, kini ia dihadapkan pada pilihan sulit. Ada lelaki yang hendak mengkhitbahnya. Yang menjadi masalah, lelaki itu tidak sesuai kriterianya. Belum tarbiyah. Hatinya bimbang. Ada ketakutan yang menghantui jiwanya jika ia menerima, lalu menjalani rumah tangga nantinya. Adakah ia sanggup memenangkan dakwah dan membawa suaminya pada hidayah. Atau justru ia kalah. Larut dalam kehidupan ammah, lalu menjadi penambah jumlah mereka yang berguguran di jalan dakwah paska nikah.

Menolak? Ini juga pilihan sulit. Sebab ia tahu jumlah kader ikhwan tidak banyak di kota tempat ia berdomisili. Apalagi ikhwan yang siap menikah. Mungkin itu juga yang menjadi alasan beberapa akhwat yang telah lebih dahulu menikah. Bukan dengan ikhwan. Sementara ia tidak dapat berdusta bahwa usianya semakin “dewasa”. Ah… ia jadi bimbang. Galau.

Dalam kebimbangan seperti ini, ke manakah kader dakwah melangkah? Dalam persimpangan jalan yang ia sendiri tidak tahu ke mana arah yang hendak ia pilih, kepada siapakah ia mempercayakan pilihan? Di sinilah iman berperan. Di persimpangan seperti inilah materi tarbiyah bekerja. Dari pemahaman menjadi pengamalan. Ia menyerahkannya kepada Allah.

Di atas kebimbangan memilih ia memiliki keyakinan bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik baginya. Karenanya ia berdoa. Dalam gulita malam, ia menyalakan cahaya harapan. Di atas kekhawatiran apa yang akan menimpanya ia memiliki kepercayaan. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan-Nya, menjawab problem yang kini dihadapinya. Karenanya ia bertawakal. Seraya meningkatkan taqarrub pada-Nya. Melengkapi asbabun nashr, agar pantas kiranya Allah merengkuhnya dengan pertolongan.

Belum sepekan galau itu menghimpit hari-harinya. Cahaya terang menyinari jalan di depannya. Ia bisa melihat jalan kebaikan seperti karpet merah yang dihamparkan persis di depan kakinya. Ke sanalah kakinya harus melangkah. Allah memberikan pertolongan-Nya tepat waktu. Bahkan, bukan antara memilih ya dan tidak. Allah memberikan alternatif ketiga. Ikhwan yang telah dikenalnya sebagai salah satu kader terbaik datang kepadanya. Tidak langsung memang, baru melalui data yang diterima dari murabbiyahnya. Saat ini, keduanya telah menjadi suami istri.

Seorang ikhwan. Ia baru saja mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan. Kini ia kebingungan. Bukan karena sudah beberapa pekan belum memperoleh pekerjaan baru. Lebih dari itu, beberapa pekan lagi ia melangsungkan pernikahan. Bagaimana ia akan menafkahi istrinya nanti jika belum juga mendapatkan penghasilan? Dan bukankah salah satu muwashafat tarbiyah adalah qadirun ‘alal kasbi? Ia tidak bisa membayangkan seandainya mertuanya yang masih ammah mempersoalkan masalah ini di hari-hari pertamanya menjadi menantu, jika ia belum juga bekerja. Lalu ia kehilangan “izzah”? waktu terus berjalan dan kekhawatiran itu kian membesar.

Untunglah ia sadar. Di atas masalah yang besar, ia memiliki Allah yang Maha Besar. Keimanan pada akhirnya menggerogoti kekhawatirannya. Ia yakinkan kembali dirinya bahwa Allah Maha Pemberi rizqi. Bahkan binatang merayap seperti cicak pun tetap mendapatkan rizqi meskipun mangsanya adalah nyamuk bersayap. Dan begitulah. Pertolongan Allah selalu tepat waktu. Dua pekan sebelum akad nikah, ia kembali bekerja. Dan dengan mantap pada hari-H ia mengikrarkan perjanjian teguh membina keluarga. Saat itu, tidak ada suara lain yang lebih mengokohkan hatinya selain ucapan saksi, keluarga dan para tamu di sekitarnya: “saahhh!”

Bukan hanya seorang akhwat. Bukan hanya seorang ikhwan. Belasan orang. Ikhwan dan akhwat. Mereka panitia daurah. Publikasi sudah disebar, cukup banyak peserta yang telah mendaftar mengikuti acara tiga hari di luar kota ini. Yang menjadi masalah, acara tinggal tiga hari dan dananya masih kurang banyak. Mengandalkan shunduquna juyubuna dari panitia jelas memberatkan. Sebab mereka semua masih mahasiswa.

Namun mereka tak menyerah. Dan bukankah daurah ini adalah untuk rekrutmen dakwah? Ini fi sabilillah. Dan Allah pasti mendatangkan pertolongan-Nya. In tanshurullaaha yanshurkum. Maka di malam hari panitia berdoa. Bermunajat memohon pertolongan-Nya. Di siang hari ikhtiar dijalankan. Menelepon satu per satu perusahaan dan lembaga yang telah diberi proposal sebelumnya. Alhamdulillah, ada hasil dalam dua hari itu. Sejumlah dana didapatkan. Namun belum cukup juga.

Hingga… tinggal satu hari. Dan itulah saat pertolongan Allah tiba. Dari sebuah perusahaan yang sebelumnya belum pernah menjadi sponsor list maupun target, panitia mendapatkan kejutan. “Iya, Mas. Kami berpartisipasi”, kata salah seorang karyawan di balik telepon, “silahkan nanti diambil dengan membawa kwitansi. Kami membantu sekian juta”. Subhaanallah, Allah memberikan pertolongan-Nya. Di hari terakhir. Di saat yang tepat. Panitia bersyukur. Bukan hanya masalah dana selesai, daurah kali ini surplus.

Nashrun minallah. Pertolongan Allah. Ia selalu tepat waktu. Kadang di waktu yang kita duga dan kita harapkan. Sering pula ia datang pada saat-saat kritis, ketika hamba sangat membutuhkan. Namun keduanya adalah waktu yang tepat. Tepat menurut Allah. Tepat bagi kita, andaikan kita tahu. Tentu masih banyak contoh selain tiga kisah nyata di atas. Setiap kita insya Allah memiliki pengalaman tersendiri. Betapa kasih sayang Allah itu amat luar biasa. Dan pertolongan-Nya selalu tepat waktu.

Segala hal yang menimpa seseorang sebagai ujian, takkan lebih besar dari kemampuan orang itu untuk menanggungnya. Sebagaimana tugas dan kewajiban yang dibebankan Allah juga tak pernah melampaui batas kemampuannya. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. “Ini merupakan pengarahan yang sangat bagus”, kata Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ketika sampai di surat Al-Baqarah ayat 286 ini, “untuk membangkitkan kembali himmah ‘hasrat dan semangat’ ketika melemah karena panjangnya perjalanan. Ini juga merupakan pendidikan dan penjagaan terhadap ruh si mukmin, himmahnya, iradahnya, di samping membekali penggambarannya terhadap hakikat kehendak Allah dalam setiap hal yang ditugaskan kepadanya.”

Kaidah batas kemampuan ini juga memastikan bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya memasuki ujian yang di luar batas kemampuannya, kecuali Ia berikan pertolongan sebelumnya: terkadang jauh sebelum batas maksimal, kadang ketika tinggal selangkah lagi batas itu tercapai. Tapi itu selalu bermuara pada satu kesimpulan: pertolongan Allah selalu tepat waktu.

Jika kita merasa saat ini tengah menghadapi problematika yang sulit dan rumit, dan Allah belum jua menurunkan pertolongan-Nya, yakinlah bahwa kita masih kuat menanggungnya. Dan sejalan dengan kesabaran, Allah mengampuni dosa dan meninggikan derajat kita. Pada titik seperti ini boleh jadi kita merasa doa-doa kita tidak dikabulkan. Di sinilah ujiannya. Jika kita putus asa lalu tidak berdoa lagi, doa kita benar-benar tidak akan dikabulkan. Lalu kita semakin jauh dari-Nya. Padahal itu belum waktu yang tepat bagi Allah untuk menolong kita.

“Bukankah Rasulullah SAW telah diberi kemenangan di Perang Badar, namun telah diperlakukan sebagai orang yang dikalahkan di Perang Uhud?” kata Ibnu Al Jauzi dalam Shaid Al Khatir, “Bukankah beliau telah dihalangi untuk menunaikan ibadah di Baitullah, tetapi kemudian diberi kesempatan untuk menguasainya? Baik dan buruk mesti ada. Sesuatu yang baik menuntut lahirnya syukur, sedang sesuatu yang buruk menuntut munculnya permintaan dan doa. Tapi jika doa yang telah dipanjatkan tak jua dikabulkan, kita mesti tahu bahwa Allah Azza Wa Jalla hendak memberikan ujian dan ingin melihat kepasrahan kepada ketetapan-Nya.”

Ketika ujian dilalui dengan kesabaran,ikhtiar, doa, dan tawakkal… ketika itulah pertolongan-Nya datang. Kalau tidak, pastilah di saat terakhir, ketika satu langkah lagi seorang mukmin tak kuasa menahan beratnya beban ujian itu, tak mampu menanggung rumitnya problematika yang dihadapi, di saat itulah Allah menganugerahkan pertolongan. Sebab, pertolongan-Nya selalu tepat waktu. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]

Dua Asas Islam













Ketahuilah wahai saudaraku muslim, semoga Allah memberikan taufik-Nya pada kita, sehingga kita mampu beramal shalih dengan apa yang Allah cintai dan Allah ridhai, bahwa agama Islam terbangun diatas dua pondasi, dua asas, dan keduanya adalah sebagai berikut :

Pertama, Bahwa tidaklah kita beribadah kecuali niat hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, inilah Ikhlas, inilah aqidah yang rasul menyeru kepadanya.

Allah berfirman, artinya,
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (pada Allah)"
(QS. al-imran:64)

Dan Allah berfirman, artinya,
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kpd manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya ”
(Al-Isra : 23)


Dan Inilah makna, "saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah".

Kedua, Bahwa tidaklah kita beribadah kecuali dengan apa yang apa yang telah disyariatkan didalam kitab-Nya (Al-qur'an) dan didalam sunnah rasul-Nya muhammad shalallahu'alaihi wassalam, bukan dengan cara ibadah yang baru atau dengan hawa nafsu, dan inilah ittiba' pada apa yang dibawa rasulullah muhammad shalallahu'alaihi wassalam.

Allah berfirman, artinya,
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)"

(QS. Al-'araf : 3)


Allah berfirman, artinya

"apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah pada Alah, sesungguhnya Allah Maha Keras SiksaNya"

(QS.Al-Hasyr : 7)

Inilah makna, "saya bersaksi bahwa nabi muhammad shalallahu'alaihi wassalam utusan Allah".


(referensi, aysarus syuruh 'alaal qaulil mufid fi adilatit tauhid, hal 78-79, muhammad al-whusabi, darul istiqomah, kairo, mesir, 1430 H)

Sabtu, 29 Januari 2011

Pentingnya Mengamalkan Ilmu Agama














Amal shalih adalah buah dari Ilmu agama, dan tujuan dari belajar ilmu agama islam adalah untuk beramal shalih, dan memanggil Ilmu agama untuk Amal shalih, Allah ta'ala juga banyak mengaitkan amal shalih dengan Iman.

Allah berfirman, artinya, "wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan" (QS. Ash-shaf : 2-3)

Begitu dicela orang yang mereka senantiasa berkata tentang kebenaran Islam, akan tapi justru mereka sendiri tidak mengamalkan amal shalih.

(Referensi, taysir whusul ila naylil mamul, Nukman bin abdul karim, Hal 10, Maktabah Darulharamain, Shan'a)

Keutamaan Membaca / Belajar Ilmu Agama














Allah berfirman, artinya, "Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Al Mujadalah 11)

Allah berfirman, artinya, "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (Az Zumar : 9)

Dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dalam hadist Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menjadikannya paham dalam masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)


(Referensi, taysir whusul ila naylil mamul, Nukman bin abdul karim, Hal 4, Maktabah Darulharamain)

Jumat, 28 Januari 2011

Pentingnya Kembali / Inabah kepada Allah ta'ala














Allah berfirman, artinya, "dan kembalilah (anibuw) kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya".(QS.Az-zumar:54)

Ayat ini menunjukkan bahwa kembali kepada Allah subhanahu wata'ala (Inabah) adalah Ibadah, yang menunjukkan akan hal ini adalah Allah memerintahkan hamba untuk kembali kepada-Nya.

Makna kembali pada Allah (Inabah) yaitu kembali pada Allah dengan bertaubat (memohon ampun atas dosa, menyesal atas dosa, berusaha keras tidak mengulangi dosa) dan mengikhlaskan amal hanya diniatkan murni untuk Allah ta'ala (Kitab Al-mufradat, Hal 509).

Dan Allah subhanahu wata'ala telah memuji orang-orang yang mereka kembali kepada-Nya dalam ayat lain dalam al-qur'an, dan mengabarkan surga bagi orang yang kembali pada Allah (Inabah) dan khasyah.

Allah berfirman, artinya,
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Dzat Yang Maha Pemurah padahal Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang kembali (bertaubat)” (Qaf: 31-35)

(Referensi, taysir whusul ila naylil mamul, nukman bin abdilkarim, Hal 56, maktabah darul haramain, shan'a)

PERMULAAN KEJADIAN MAKHLUK....!

HAKIKAT NUR MUHAMMAD - ASAL KEJADIAN MAKHLUK !
Susunan : Tok Kelana

(Keterangan berikut adalah suntingan dari Kitab Sirrul Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhil Abrar oleh Ghawthul A'zham Shaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jilani رضي الله عه )

Berkata Shaikhuna........


Nur Muhammad (Hakikat Muhammad)- Asal Kejadian

Semoga Allah Ta'ala memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.

Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman:

“Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.

Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan sabdanya:

“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.

“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.

“Mula-mula Allah ciptakan akal”.


Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah.

Dia dinamakan Nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَـبٌ مُّبِينٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)

Dia dinamakan aqal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat dan mengenali segala-galanya.

Dia dinamakan qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda صلى الله عليه وسلم menyatakan hal ini dengan sabda Baginda,

“Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku”. Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda صلى الله عليه وسلم di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.


Kejadian Insan berupa jasad dan ruh

Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan Arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain daripada Arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan.

ثُمَّ رَدَدْنَـهُ أَسْفَلَ سَـفِلِينَ

“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah”. (Surah Tin, ayat 5)

Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam Lahut, iaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan ‘Roh Sultani (ruh pemerintah)’.

Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’.

Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘roh manusia’. Kemudian daripada dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.

مِنْهَا خَلَقْنَـكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى 

“Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”.
(Surah Ta Ha, ayat 55)

Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى

“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)



Lupa Asal usul kejadian dan perjanjian

Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka:

“Adakah aku Tuhan kamu?

Mereka telah menjawab: "Iya, bahkan!.”

Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.


وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِـَايَـتِنَآ أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَـتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ 

“Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami (sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Iaitu ‘ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah’.


Utusan Allah - menunjukkan jalan kembali kepada Allah! 

Ramai rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.

Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka mata manusia iaitu membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِى أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى 


“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)”.
(Surah Yusuf, ayat 108).

Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Baginda صلى الله عليه وسلم dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda,

“Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar”.

Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir daripada kesedaran Ilahi.

وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”.
(Surah Kahfi, ayat 65).


Cari Pewaris Nabi - Bergabunglah didalam kafilah Keruhanian

Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta perangsang daripada orang yang seperti ini adalah perlu. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak.

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah kerana melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikurniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan:


وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَـوَتُ وَالاٌّرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ - الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَـظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـفِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 


“Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang berbuat kebajikan”.
(Surah Imraan, ayat 133 & 134).

Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian (Toriqat Ahli Sufi - pent.) untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merosakkan dunia ini. Kita dihantar ke mari bukan untuk makan, minum dan buang air. Roh penghulu kita menyaksikan kita. Baginda صلى الله عليه وسلم berdukacita melihat keadaan kamu.

Baginda صلى الله عليه وسلم telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

(Di sini tamat petikan kitab)


Pengajaran dan catatan penting untuk renungan:

1. Nur Muhammad (hakikat Muhammad) - adalah makhluk Allah yang pertama di jadikan oleh Allah Ta'ala. Inilah pegangan yang sah daripada Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

2. Segala makhluk lain adalah dijadikan daripada Nur Muhammad.

3. Ruh seluruh manusia dari Adam Alaihis Salam sehingga manusia terakhir telah dijadikan oleh Allah dan berada di alam Lahut. Apabila seseorang ditaqdirkan untuk lahir ke muka bumi, maka ruh nya akan ditiupkan kedalam rahim ibunya. Inilah maknanya Allah menurunkan manusia ke alam paling rendah. (alam ajsam, alam kebendaan)

3. Keterangan ayat Qur'an .... “Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15) adalah bukti Nur Muhammad sebagai kejadian asal bagi segala makhluk, sebagaimana tafsir Ulama Ahlus Sunnah.

4. Manusia wajib mencari jalan kembali kepada Allah dengan mengikut perintah Nabi صلى الله عليه وسلم zahir dan batin. Ketika diri zahir Nabi tiada lagi di dunia nyata, maka wajib mencari para Pewaris Nabi yang meneruskan 'risalah' kenabian. Mereka wujud pada setiap zaman dan akan tetap wujud sehingga hari Qiamat!

Rujuk sini :

http://kerjayahalal.blogspot.com/search/label/A4-%20PEWARIS%20NABI%20SEBENAR


Menuju ke akhir zaman- Qiamat, bilangan Pewaris Nabi akan berkurangan sehingga sangat sukar untuk bertemu mereka. Keadaan ini bertambah buruk dengan adanya Ulama dunia-ulama jahat, Ahli2 keruhanian yang tersesat memberi fatwa2 sesat dan menyesatkan!

Semoga Allah selamatkan kita semua dari fitan akhir zaman!

Wallahu A'lam

NUR MUHAMMAD - KETERANGAN ULAMA AHLUS SUNNAH


NUR MUHAMMAD AWAL MAKHLUK ALLAH -KETERANGAN ULAMA MU'TABARAH

نحمده ونصلى على رسوله الكريم

oleh :MUHAMMAD ‘UTHMAN EL-MUHAMMADY (UEM)
 


Tulisan ini insha’ Allah akan membicarakan konsep “Nur Muhammad” sebagaimana yang ada dalam beberapa teks Islam Dunia Melayu seperti teks Nur al-Din al-Raniri, Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani, antara lainnya, semoga Allah memberi rahmat kepada mereka semuanya. Juga akan diberikan perhatian kepada “Madarij al-Su’ud” dalam Bahasa Arab, karangan Syaikh Nawawi al-Bantani, rahimahu’Llahu Ta’ala. 


Pengamatan akan diberikan berdasarkan sumber-sumber tafsir dan hadith yang muktabar di kalangan Ahlis-Sunnah wal-jama’ah. Dengan ini diharapkan sangkaan yang tidak enak dan tidak manis terhadap para ulama kita akan dihilangkan, dan kita beradab dengan mereka sebagaimana yang dikehendaki dalam hadith “al-din al-nasihah” dalam hubungan dengan ‘a’immatul-Muslimin’, antaranya sebagaimana yang dihuraikan oleh al-muhaddithin seperti Imam al-Nawawi rd. Sudah tentu ini adalah satu keperluan dalam menunjukkan kemuliaan Nabi s.a.w. yang bukan hanya “basyar” atau manusia yang terjadi daripada tanah seperti anak-anak Adam yang lain. Ini adalah selain daripada keperluan kita mencari kejernihan dan kebenaran dalam ilmu.
 
Penulis ini yang menyedari dirinya bukan ahli dalam bidang ini bergantung kepada panduan teks-teks ulama Sunni dalam bidang yang berkenaan dan amat memerlukan teguran mereka yang pakar di dalamnya. Mudah–mudahan kita ini mengenali Nabi kita sebenarnya, mencintainya dan dengan itu kita cinta kepada Allah dan mendapat rahmatNya. Amin.
 
 
Kitab Syaikh Nur al-Din al-Raniri rh
 
Syaikh Nur al-Din al-Raniri menulis tentang tajuk ini dalam kitabnya Bad’ Khalq al-Samawat wa al-Ard yang tercetak di tepi kitab Taj al-Muluk (tanpa tarikh). (Lihat tulisan penulis ini “Kosmologi para Fuqaha & Ulama Sufiah Dalam pemikiran Melayu”, dalam Kosmologi Melayu, penyelenggaraan Yaacob Harun, Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2001, hal.10-22). 

Antara nas-nas yang disebut di dalamnya ialah hadith qudsi yang terkenal yang bermaksud: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku kasih bahawa Aku dikenali, maka Aku jadikan makhluk, maka dengannya mereka mengenaliKu”. (Bad’ Khalq al-Samawat wa al-Ard, hal. 10). Juga dinukilnya hadith bermaksud: “Sesungguhnya Allah menjadikan ruh nabi dari zatNya dan Ia menjadikan alam semuanya dari ruh Muhammad s.a.w.” (ibid. 10). Maksudnya Ia menjadikan ruh nabi daripada tidak ada kepada ada dari SisiNya, bukannya bermakna bahawa sebahagian daripada Tuhan dijadikan ruh nabi. 

Dinukilnya juga hadith yang bermaksud: “Aku (Nabi s.a.w.) dari Allah, dan orang mu’min dariku”. (ibid. 10). Ertinya sebagaimana yang dihuraikannya sendiri bahawa Nabi adalah makhluk yang pertama yang dijadikan Allah dan sekelian orang mu’min itu dijadikan Allah daripada Baginda (iaitu daripada nurnya). (ibid. hal. 10). 

Dinukilkan beliau juga hadith yang bermaksud: “Aku (Tuhan) menjadikan segala perkara kerana engkau (wahai Muhammad) dan Aku jadikan engkau keranaKu” (ibid. 10). 

Juga dinukilkannya hadith yang bermaksud “kalaulah tidak kerana engkau Aku tidak jadikan sekelian falak ini.” (ibid. 11). 

Dinukilkan beliau juga hadith yang bermaksud: “Aku telahpun menjadi nabi walhal Adam berada antara air dan tanah” (ibid. 11).
 
Kemudian beliau menukil hadith nur Muhammad. Antaranya ialah yang bermaksud: “Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah akal” (ibid. 11); dan yang bermaksud: “Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah al-Qalam”, (ibid. 11); dan yang bermaksud: “Perkara yang awal sekali yang diciptakan Allah ialah ruh-ruh” (ibid. 11). Beliau menghuraikan bahawa akal, qalam, dan ruh itu ialah kejadian nur Muhammad s.a.w. sebagaimana yang ternyata daripada hadith yang dinukilkan beliau yang bermaksud: “Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah nurku” (ibid. 11). Dinukilkannya juga hadith yang bermaksud: “Perkara yang paling awal yang dijadikan Allah ialah ruhku”. (ibid. 11).
 
Mengikut Syaikh Nur al-Din, Allah menjadikan Nur Muhammad itu daripada pancaran Nur AhadiahNya, yang beliau nukilkan ialah kenyataan kitab al-Manzum yang bermakna: “Telah berdempeklah sifat Jalal dan Sifat Jamal, maka ghaliblah Jamal itu atas sifat jalal, maka dijadikan Allah daripada dua sifat itu Ruh Muhammad, iaitu daripada ‘adam kepada wujud (daripada tidak ada kepada ada - uem) (Bad’ Khalq al-Samawat wa al-Ard.12). Kita perlu nyatakan bahawa yang dijadikan itu makhluk juga, bukannya sambungan daripada zat atau Diri Tuhan, sebab kalau demikian ada dua yang kadim, dan itu kesyirikan.
 
Kata beliau bahawa selepas Allah menjadikan Nur Muhammad atau Ruh Muhammad itu Ia tilik kepadanya dengan tilik mahabbah atau kasih, maka ia malu dan berpeluh, dari peluhnya itulah dijadikan ruh-ruh sekelian anbia, aulia dan nyawa sekelian orang mu’min yang salih, dan daripada nyawa sekelian mu’min yang salih itu dijadikan nyawa sekelian mu’min yang fasik, daripada mu’min yang fasik dijadikan nyawa sekelian mu’min yang munafik dan mereka yang kafir. (ibid. 13).
 
Dan dijadikan daripada insan nyawa insan itu nyawa sekelian malaikat, dan daripada malaikat itu nyawa sekelian jin, dan daripada jin itu nyawa sekelian syaitan, dan daripada syaitan itu nyawa sekelian binatang, daripada binatang itu nyawa sekelian tumbuh-tumbuhan, setengahnya mempunyai martabat yang melebihi yang lainnya; jadilah pula segala jenis nafas tumbuh-tumbuhan itu dan segala anasir itu iaitu hawa, api, air dan angin (ibid. 13).
 
Kemudian beliau menyebut bagaimana Allah menilik dengan tilikan haibah pula, hancurlah ia, setengahnya menjadi air, setengahnya menjadi api yang menghanguskan air, keluarlah asap, naik ke angkasa, daripadanya di Allah tujuh petala langit. Setelah itu ada bakinya yang tinggal, daripadanya dijadikan matahari, bulan, dan bintang. (ibid.13). Demikian seterusnya.
 
Beliau menukilkan pula riwayat yang lain, yang masyhur, bahawa Allah menjadikan sepohon kayu dengan empat dahannya, dinamakan Syajaratul-Yaqin. Kemudian dijadikan Nur Muhammad dalam bentuk burung merak, diletakkan atas pohon itu, lalu ia mengucap tasbih kepada Allah, selama tujuh puluh ribu tahun. Bila merak itu terpandang terlalu cantik rupanya, dengan elok bulunya, dan lainnya, sujudlah ia lima kali sujud, jadilah sujud itu kemudiannya sembahyang lima waktu yang wajib atas umat Muhammad s.a.w.
 
Kemudian dikisahkan bahawa Allah menjadikan kandil daripada akik yang merah. (ibid. 15).
 
Kemudian Syaikh Nur al-Din menukil riwayat yang menyebut Nur Muhammad dalam bentuk burung merak
 

Kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” oleh Zain al-‘Abidin al-Fatani rh:
 
Antara kitab Jawi yang popular sebagai rujukan ialah kitab “Kashf al-Ghaibiyyah”
Dalam kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” (berdasarkan karangan asalnya “Daqa’iq al-Akhbar fi Dhikr al-Jannah wa al-Nar” karangan Imam ‘Abd al-Rahim bin Ahmad al-Qadhi, dan kitab “Durar al-Hisan” karangan al-Suyuti, dan “Mashariq al-Anwar” oleh Shaikh Hasan al-‘Adawi antara lainnya), oleh Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani rh (Maktabah wa Matba’ah dar al-Ma’arif, Pulau Pinang, t.t.) Kitab ini dikarang oleh beliau pada tahun 1301 Hijrah. Pada halaman 3 dst. terdapat bab awal berkenaan dengan penciptaan roh teragung, (al-Ruh al-A’zam), iaitu nur Nabi kita Muhammad ‘alaihis-salatu was-salam. Kata beliau:
 
Sesungguhnya telah datang pada khabar oleh bahawasanya Allah taala telah menjadi ia akan satu pohon kayu baginya empat dahan, maka menamai akan dia Syajarat al-Muttaqin (Pokok Orang-orang yang bertaqwa), dan pada setengah riwayat Shajarah al-yaqin (Pokok Keyakinan), kemudian telah menjadi ia akan Nur Muhammad di dalam hijab daripada permata yang sangat putih seu(m)pama rupa burung merak dan dihantarkan ia akan dia atas demikian pohon kayu itu , maka mengucap tasbihlah oleh Nur itu atas pohon kayu itu kadar tujuh puluh ribu tahun, kemudian menjadi akan cermin kemaluan maka dihantarkan akan dia dengan berhadapannya; maka tatkala menilik oleh merak itu di dalam cermin itu melihat ia akan rupanya terlebih elok dan terlebih perhiasan kelakuan, maka malu ia daripada Allah taala, maka lalu berpeluh ia maka titik daripadanya enam titik, maka menjadi oleh Allah taala daripada titik yang pertama akan ruh Abu Bakar radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kedua itu akan ruh ‘Umar radiya’llahu ‘anhu dan daripada titik yang ketiga itu akan ruh ‘Uthman radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang keempat itu akan ruh ‘Ali radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kelima itu akan pohon bunga mawar dan daripada titik yang keenam itu akan padi” (hal. 3).
 
Kemudian disebut bagaimana Nur Muhammad itu sujud lima kali, dengan itu, menjadi fardu sujud, lalu difardukan sembahyang yang lima waktu atas Muhammad dan ummatnya. Kemudian disebut Allah menilik kepada nur itu, lalu ia malu, berpeluh kerana malunya. Daripada peluh hidungnya Allah jadikan malaikat, daripada peluh mukanya Allah jadikan ‘Arasy, Kursi, Lauh dan Qalam, matahari, bulan, hijab, segala bintang, dan barang-barang yang ada di langit. Daripada peluh dadanya dijadikan anbia, mursalin, ulama, syuhada dan solihin. Daripada peluh belakangnya dijadikan Bait al-ma’mur, Ka’bah, Bait al-Maqdis, dan segala tempat masjid dalam dunia. (hal. 3-4).
 
Disebutkan beberapa kejadian lagi daripada peluhnya itu:
 
bullet
Daripada peluh dua kening: mukminin dan mukminat dari umat Muhammad;
bullet
Daripada peluh dua telinganya: arwah Yahudi dan Nasrani, dan Majusi, golongan mulhid, kafir yang engkar kebenaran, munafikin.
bullet
Daripada peluh dua kaki: segala bumi dari Timur dan Barat dan yang ada di dalamnya (hal. 4)
 
Kemudian Allah memerintah nur itu supaya memandang ke hadapan, di hadapannya ada nur, di kanan dan kirinya juga nur. Mereka itu ialah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Uthman, dan ‘Ali. Kemudian Nur itu mengucap tasbih selama tujuh puluh ribu tahun.
 
Kata pengarang: dijadikan nur para anbia daripada Nur Muhammad s.a.w.; ertinya dijadikan arwah para anbia daripada peluh ruh Muhammad s.a.w., dan dijadikan segala ruh umat anbia itu daripada peluh arwah anbia mereka itu.
 
Kemudian diriwayatkan bahawa dijadikan oleh Allah kandil daripada akik yang merah, dilihat orang akan zahirnya itu daripada bahagian dalamnya, kemudian dijadikan rupa Muhammad seperti Baginda di dunia ini, kemudian diletakkan di dalam kandil tersebut, berdiri Baginda di dalamnya seperti berdirinya di dalam sembahyang; kemudian berkeliling roh segala anbia dan lainnya di sekeliling kandil nur Muhammad ‘alaihis-salam, mengucap tasbih dan mengucap tahlil mereka itu selama seratus ribu tahun; kemudian Allah menyuruh segala ruh itu menilik kepadanya; yang menilik kepada kepalanya menjadi khalifah dan sultan antara sekelian makhluk; yang menilik kepada dahinya menjadi amir yang adil; yang menilik kepada dua matanya menjadi hafiz kalam Allah; yang melihat dua keningnya menjadi tukang lukis; yang melihat kepada dua telinganya jadilah ia menuntut dengar dan menerima (pengajaran); yang melihat dua pipinya jadilah ia berbuat baik dan berakal; yang melihat dua bibir mulutnya menjadi orang-orang besar raja. Yang melihat hidung menjadi hakim dan tabib dan penjual bau-bauan. Yang melihat mulut menjadi orang puasa. Demikian seterusnya dengan melihat anggota tertentu, jadilah orang itu mempunyai sifat-sifat tertentu di dunia nanti. Misalnya yang melihat dadanya menjadi orang alim, mulia dan mujtahid. (hal. 5). Dan orang yang tidak menilik sesuatu kepadanya jadilah ia mengaku menjadi Tuhan seperti Fir’aun dan yang sepertinya. (hal. 5).
 
Beliau menyebut hadith qudsi (   كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف  )
 
Adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku kehendak akan diperkenal akan daku maka Aku jadikan segala makhluk supaya dikenalnya akan daku. (hal. 6)
 
Kemudian beliau menyebut hadith Nabi s.a.w. أول ما خلق الله تعالى  نورى وفى رواية  روحى
 
Ertinya yang awal-awal barang yang suatu dijadikan Allah taala itu nurku dan pada suatu riwayat ruhku. Kata pengarang ini: Maka adalah sekelian alam ini dijadikan Allah subhanahu taala daripada sebab Nur Muhammad s.a.w. seperti yang teleh tersebut. Lalu ia menyebut pula haditrh qudsi:  خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك  لاجلى
 
Ertinya: Aku jadikan segala perkara itu kerana engkau ya Muhammad dan Aku jadikan akan dikau itu kerana Aku, yakni dijadikan Nur Muhammad itu dengan tiada wasitah suatu jua pun. (hal. 6)
 
Melalui kitab terkenal ini tersebar fahaman tentang konsep Nur Muhammad di kalangan Muslimin sebelah sini.
 
Bab yang berikutnya ialah tentang penciptaan Adam a.s. (hal 6 dst).
 
 
Kitab al-Kaukab al-Durri fi al-Nur al-Muhammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma’il Daud al-Fatani rh
 
Kitab ini (terbitan Khazanah al-Fattaniyyah, Kuala Lumpur, 2001). Kitab ini yang dikarang oleh penulisnya pada tahun 1304 Hijrah, di Makkah, berbicara tentang tajuk yang berkenaan dari halaman 2-7. Isinya berdasarkan riwayat Ka’ab al-Akhbar, sebagaimana yang ada dalam kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” karangan Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani. Antaranya maklumatnya ialah: Tuhan menggenggam satu genggam daripada NurNya, diperintah ia menjadi Muhammad, ia menjadi Muhammad, ia menjadi tiang, ia sujud kepada Allah, dibahagi nur itu kepada empat bahagi, pertama menjadi Lauh, kedua Qalam, perintah menulis kepada Qalam, sampai kepada umat nabi-nabi, yang taat dan yang derhaka, dengan akibat-akibat mereka. Sampai disebutkan riwayat tentang sesiapa yang melihat nur itu pada bahagian-bahagian tertentu jadilah ia mempunyai sifat-sifat tertentu. Sekelian makhluk dijadikan daripada nurnya. Ia berakhir dengan menyebut makhluk sembahyang dengan huruf nama Ahmad dan Muhammad, berdiri qiyam seumpama alif, ruku’ seumpama ha’, sujud seumpama mim, duduk seperti rupa dal. Juga dikatakan makhluk dijadikan atas rupa huruf nama Muhammad, kepala bulat seperti mim, dua tangan seperti rupa ha’, perut seperti rupa mim, dua kaki seperti rupa dal.
 
 
Kitab “Daqa’iq al-Akhbar fi Dhikr al-jannah wa al-Nar” terjemahan Melayu oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad Yunus Langka:
 
Kitab ini diterjemahkan oleh beliau pada 1312 Hijrah di Makkah dahulunya diterbitkan oleh dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Mesir. Kemudian ia diterbitkan oleh Maktabah wa matba’ah al-ma’arif, Pulau Pinang, tanpa tarikh. Isi kitab ini berkenaan dengan nur Muhammad s.a.w., asal kejadiannya, bagaimana semua makhluk dijadikan daripadanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikh Zain al-‘Abidin dalam “Kasshf al-Ghaibiyah”nya yang menjadikan kitab ini sebagai satu daripada sumber-sumbernya, sebagaimana yang dinyatakan dalam bahagian permulaan kitabnya. Bab pertamanya sama isinya dengan apa yang ada dalam kitab terjemahan ini.
 
Kitab Madarij al-Su’ud oleh Nawawi al-Bantani rh
 
Kitab “Madarij al-Su’ud ila ‘ktisa’ al-Burud”, dalam Bahasa Arab, syarah bagi kitab “Maulid al-Barzanji”. Dalam mensyarahkan kata-kata dalam “al-Barzanji” hal. 2-3 (Surabaya, tanpa tarikh dan Singapura, tanpa tarikh) bermaksud “Segala puji-pujian bagi Allah yang membuka (seluruh) wujud ini dengan Nur Muhammad (‘al-Nur al-Muhammadi”) yang mengalir dalam tiap-tiap perkara (perkara yang ditakdirkannya oleh Allah taala sebelum daripada Ia menjadikan langit-langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun.
 
Kemudian kata Syaikh Nawawi rh lagi menukil Ka’ab al-Akhbar Allah meredhainya: “Bila Allah hendak menjadikan sekelian makhluk dan mengamparkan bumi dan menegakkan langit, Ia mengambil segempal daripada nurNya firmanNya Jadilah kamu Muhammad, maka jadilah ia sebagai tiang daripada nur dan gemilang bercahaya sehingga sampai kepada hijab zulmah kemudian ia sujud, sambil katanya: Al-hamdulillah, kemudian Allah berfirman kerana itu Aku jadikan engkau dan menamakan engkau Muhammad, daripada engkau Aku memulakan penciptaan dan (dengan engkau) Aku mengkhatamkan sekelian rasul; kemudian Allah taala membahagikan nurnya itu kepada empat bahagian, dijadikan daripada yang pertamanya Lauh daripada yang keduanya al-qalam, kemudian Allah berfirman kepada Qalam tulislah, kemudian qalam … selama seribu tahun kepara kehebatan Kalam Allah taala kemudian ia berkata; Apa yang hamba hendak tuliskan, Tuhan berfirman ‘Tulislah ‘la ilaha illa’Allah Muhammadun Rasulullah’ maka Qalam pun menulis yang demikian itu, kemudian ia menjadi terbimbing kepada Ilmu Allah dalam makhlukNya, kemudian ia menulis anak-anak Adam sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka;
 
Kemudian (ia menulis) tentang umat Nuh, sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka…
 
Demikian seterusnya dengan menyebut umat nabi Ibrahim, … umat nabi Musa …, umat Nabi ‘Isa …, sampai kepada umat nabi Muhammad s.a.w., … kemudian bila Qalam hendak menulis sesiapa yang derhaka dari umat Muhammad akan dimasukkan ke dalam Neraka, terdengar suara dari Tuhan yang Maha Tinggi ‘wahai Qalam, beradablah, maka pecahlah Qalam kerana rasa haibah itu, …, kemudian ini diikuti dengan sebutan tentang bahagian ketiga dijadikan ‘Arasy, dan bahagian yang keempat dibahagi empat pula daripada yang awalnya dijadikan akal, daripada yang kedua dijadikan ma’rifah, daripada yang ketiga dijadikan cahaya ‘Arasy, dan cahaya mata, serta cahaya siang, maka tiap-tiap cahaya ini adalah daripada Nur Muhammad.
 
Kemudian dinyatakan yang bahagian yang keempat itu diletakkan di bawah ‘Arasy sehinggalah Allah menjadikan Adam a.s., maka Allah letakkan nur itu pada belakangnya, dan dijadikan para malaikat sujud kepadanya, dimasukkannya ke dalam Syurga, walhal para malaikat bersaf di belakang Adam, melihat kepada nur Muhammad. Bila Adam alaihis-salam bertanya mengapa malaikat berdiri di belakangnya bersaf Allah menjawab mereka itu sedang melihat kepada nur kekasihNya Muhammad yang menjadi khatam sekelian rasul dan anbia. Kemudian Adam meminta nur itu dipindahkan ke hadapan, lalu diletakkan pada dahi Baginda. Maka malaikat mengadap wajahnya pula. Adam meminta pula dipindahkannya lalu diletakkan pada jari telunjuknya supaya ia boleh melihatnya; maka bertambah-tambahlah cantiknya nur itu. Kemudian disebut nur itu dipindah kepada Hawwa’, kemudian kepada nabi Shith, dan seterusnya. Demikianlah nur itu berpindah daripada satu rahim yang suci kepada rahim suci yang lain, sampai ia kepada sulbi ‘Abdullah bapanya, kemudian keluarlah ia ke dunia melalui rahim ibunya. (hal. 3).
 
 
Perbincangan tentang punca-punca konsep Nur Muhammad:
 
Antara punca-punca konsep Nur Muhammad ini ialah sebutan-sebutan tentangnya dalam Qur’an dan Sunnah.
 
Dalam al-Qur’an terdapat sebutan tentang “nur” dalam ayat yang bermaksud “Sesungguhnya telah datang kepadamu Nur dari Allah dan Kitab yang nyata” (Al Quran 5:15).
 
Tentang ayat di atas “Tafsir al-Jalalain” oleh al-Suyuti menyatakan makna nur itu ialah “rasulullah s.a.w.”.
 
"قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور" هُوَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "وَكِتَاب" قُرْآن "مُبِين" بَيِّن ظَاهِر
 
Dalam “Tafsir al-Qurtubi” dinyatakan begini:
" قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور " أَيْ ضِيَاء ; قِيلَ : الْإِسْلَام , وَقِيلَ : مُحَمَّد عَلَيْهِ السَّلَام ; عَنْ الزَّجَّاج .
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah, iaitu cahaya, dikatakan “Islam”, dan dikatakan: Muhammad s.a.w. dari al-Zajjaj. Dan “kitab” itu dikatakan Qur’an.
 
Dalam “Tafsir al-Tabari” “nur”: telah datang kepada kamu wahai ahli Taurat dan Injil Nur dari Allah, yakni Nur itu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya dicerahkan kebenaran dizahirkan Islam dan dihapuskan kesyirikan.
 
قَدْ جَاءَكُمْ يَا أَهْل التَّوْرَاة وَالْإِنْجِيل مِنْ اللَّه نُور , يَعْنِي بِالنُّورِ مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , الَّذِي أَنَارَ اللَّه بِهِ الْحَقّ , وَأَظْهَرَ بِهِ الْإِسْلَام , وَمَحَقَ بِهِ الشِّرْك
 
Dalam “Tafsir ibn Kathir” tentang ayat ini (Al Quran 5:15) dinyatakan:
 
قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ " يَقُول تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ نَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ أَنَّهُ قَدْ أَرْسَلَ رَسُوله مُحَمَّدًا بِالْهُدَى وَدِين الْحَقّ إِلَى جَمِيع أَهْل الْأَرْض
 
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah dan kitab yang nyata, Allah taala memberi khabar berekenaan dengan diriNya sendiri bahawa Ia mengutuskan RasulNya Muhammad dengan Bimbingan Hidayat dan Agama yang hak kepada semua ahli bumi.
 
Berkenaan dengan  ayat        219Surah al-Syu’ara’
 
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ 
 
Dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud
 
قَالَ مُجَاهِد وَقَتَادَة : فِي الْمُصَلِّينَ . وَقَالَ اِبْن عَبَّاس : أَيْ فِي أَصْلَاب الْآبَاء , آدَم وَنُوح وَإِبْرَاهِيم حَتَّى أَخْرَجَهُ نَبِيًّا . وَقَالَ عِكْرِمَة : يَرَاك قَائِمًا وَرَاكِعًا وَسَاجِدًا ; وَقَالَهُ اِبْن عَبَّاس أَيْضًا               
 
Kata Mujahid dan Qatadah: (perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud) iaitu di kalangan mereka yang sembahyang. Kata Ibn ‘Abbas: dalam sulbi-sulbi bapa-bapa kamu (turun temurun) Adam, Nuh, dan Ibrahim, sehingga Allah keluarkan Baginda sebagai nabi (akhir zaman). Kata ‘Ikrimah: Melihat engkau berdiri, ruku’, sujud; Ibn ‘Abbas juga berpendapat demikian.
 
Dalam “Tafsir Ibn Kathir” dalam hubungan dengan ayat yang sama terdapat kenyataan:
 
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
وَقَوْله تَعَالَى " وَتَقَلُّبك فِي السَّاجِدِينَ " قَالَ قَتَادَة " الَّذِي يَرَاك حِين تَقُوم وَتَقَلُّبك فِي السَّاجِدِينَ " قَالَ فِي الصَّلَاة يَرَاك وَحْدك وَيَرَاك فِي الْجَمْع وَهَذَا قَوْل عِكْرِمَة وَعَطَاء الْخُرَاسَانِيّ وَالْحَسَن الْبَصْرِيّ وَقَالَ مُجَاهِد كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَى مِنْ خَلْفه كَمَا يَرَى مِنْ أَمَامه وَيَشْهَد لِهَذَا مَا صَحَّ فِي الْحَدِيث " سَوُّوا صُفُوفكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاء ظَهْرِي " وَرَوَى الْبَزَّار وَابْن أَبِي حَاتِم مِنْ طَرِيقَيْنِ عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّهُ قَالَ فِي هَذِهِ الْآيَة يَعْنِي تَقَلُّبه مِنْ صُلْب نَبِيّ إِلَى صُلْب نَبِيّ حَتَّى أَخْرَجَهُ نَبِيًّا .
 
Firman Allah taala: Dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud. Kata Qatadah: Dia yang melihat engkau bila engkau berdiri dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud” dalam sembahyang Ia melihat engkau keseorangan dan dalam jemaah. Ini pendapat ‘Ikrimah dan ‘Ata’ al-Khurasani serta Hasan al-Basri. Kata Mujahid Rasulullah s.a.w. boleh melihat orang di belakang Baginda sebagaimana ia boleh melihat orang yang di hadapannya. Dan ia menyaksikan bagi yang demikian sebagaimana yang sahih dalam hadith.’Samakan saf-saf kamu, sesungguhnya aku melihat di belakangku’. Dan diriwayatkan oleh al-Bazzar danb ibn Abi Hatim dari dua jalan dari ibn “Abbas bahawa ia menyatakan tentang ayat ini iaitu ‘perubahan gerak Baginda dalam sulbi nabi sampai ke sulbi nabi (yang lain, dari Adam sampai seterusnya) sehingga Tuhan keluarkan Baginda (ke-dunia menjadi penamat sekelian) nabi.
 
Dalam Tafsir Ruh al-ma’ani karangan al-Alusi rh tentang huraian berkenaan dengan ayat 5:15, kenyataannya ialah seperti berikut:
 
(Berkenaan dengan ayat yang bermaksud: “Telah datang kepada dari Allah nur dan kitab yang nyata”)-nur yang agung (‘azim), ia cahaya bagi sekelian cahaya (nur al-anwar), nabi yang terpilih salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, dan Qtadah berpegang kepada pendapat ini, juga (ahli bahasa yang terkenal) al-Zajjaj…Dan tidak jauh (daripada kebenaran) pada pendapatku bahawa maksud kitab yang nyata itu (juga) ialah nabi salla’llahu ‘alaihi wa sallam, dan ‘ataf atasnya adalah seperti ‘ataf yang dikatakan oleh al-Jubba’I (iaitu pada al-Jubbai Mu’tazilah itu nur dan kitab itu kedua-duanya maksudnya Qur’an)(maka pada al-Alusi, kedua-duanya itu adalah merujuk kepada nabi Muhammad s.a.w.), dan tidak ada syak bahawa sebutan itu tiap-tiap satunya adalah kepada nabi ‘alaihis-salatu was-salam (iaitu Nabi Muhammad), dan kalau anda teragak-agak untuk menerimanya dari segi ibaratnya, maka biarlah anda menerimanya dari segi isyaratnya (pula)…(jilid III,hal.369).
 
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: Tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekelian alam, al-Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani (jilid IX.hal.99-100) menyatakan seperti berikut:
 
Hakikat keadaan nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk semuanya adalah dengan mengambil kira Baginda sebagai perantara (wasitah) untuk limpahan rahmat Ilahi (wasitah al-faid al-Ilahi) atas sekelian makhluk yang ada (al-mumkinat) daripada permulaan lagi; kerana itulah maka nurnya adalah perkara yang mula-mula sekali dijadikan Allah; dalam hadith ada kenyataan ‘Perkara awal yang dijadikan Allah taala ialah nur nabi engkau, wahai Jabir,’ dan ada hadith “Allah taala Maha pemberi dan aku Pembahagi’. (Allah taala al-Mu’ti wa ana al-Qasim).
 
Dalam “Tafsir Ruh al-Ma’ani” karangan Al-Alusi rh (men.1170 H.), tentang ayat yang bermaksud “telah datang kepada kamu dari Allah nur dan kitab yang nyata” (15.15), jilid III.369) terdapat penerangan bahawa “nur itu nur (yang agung), nur dari segala nur, dan nabi yang terpilih-salla’llahu ‘alaihi wa sallam- ini pandangan yang dipegang oleh Qatadah, dan al-Zajjaj (ahli bahasa yang terkenal itu) memilih pendapat ini…Dan pada sisiku tidak jauh (dari kebenaran) bahawa yang dimaksudkan nur dan kitab yang nyata itu adalah (kedua-duanya merujuk kepada ) nabi salla’llahu ‘alaihi wa sallam, dan penyambung yang digunakan itu adalah seperti penyambung yang dikatakan oleh al-Jubba’I (ulama Mu’tazilah yang terkenal itu)  (pada al-Jubba’I kedua-dua nur dan kitab itu merujuk kepada Qur’an , adapun pada al-Alusi kedua-duanya merujuk kepada Nabi Muhammad s.a.w.), dan mungkin anda merasa teragak-agak untuk menerima pendapat ini dari segi ibaratnya, maka biarkanlah itu jadinya dari segi isyarat (iaitu kalau anda tidak boleh menerima pendapat saya ini dari segi ibaratnya biarlah itu boleh diterima dari segi isayaratnya)…” (ibid. III. 369).
 
Dalam kitab yang sama, (Ruh al-Ma’ani, juz IX.100) berhubung dengan ayat yang bermaksud “Tidaklah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekelian alam”, beliau memberi huraian dengan katanya: “Hakikat keadaan Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk semua yangt wujud (“lil-jami’”) itu ialah dengan iktibar bahawa Baginda adalah penengah –wasitah- bagi limpahan rahm at Ilahi (“wasitah al-faid al-ilahi”) atas sekelian makhluk (“al-mumkinat”) dari awalnya, dan itu ialah kerana nur Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling awal; maka dalam hadith dinyatakan “perkara awal yang dijadikan Allah taala ialah nur nabi engkau wahai Jabir…” dan datang hadith yang menyebut “Allah ta’ala adalah Maha pemberi dan aku adalah Pembahagi”.Di kalangan ulama sufiah – Allah menyucikan asrar mereka - ada terdapat  huraian berkenaan dengan hal yang demikian itu yang leb ih lagi daripada ini.”
 
Kemudian al-Alusi rh menukil pendapat ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Miftah al-sa’adah”. Katanya “Kalaulah tidak kerana nubuwwat tidak akan ada langsung dalam alam ini ilmu yang bermenafaat, amal salih, dan kebaikan dalam hidup manusia, dan tidak ada asas bagi kerajaan, dan manusia akan berkedudukan seperti haiwan dan binatang buas serta anjing yang memudaratkan, yang setengahnya berseteru dengan yang lainnya.
 
Maka setiap perkara kebaikan pada alam ini adalah daripada kesan nubuwwah, dan tiap-tiap keburukan yang berlaku dalam alam atau yang akan berlaku adalah dengan sebab terselindungnya kesan nubuwwah dan pengarjian tentangnya. Maka alam ini adalah seumpamna jasad dan rohnya ialah nubuwwah, maka tanpa rohnya jasad itu tidak akan ada dokongannya; kerana itu (bila tidak ada langsung kesan nubuwwah dan pengajiannya) buminya akan bergoncang, makhluk yang berada di atasnya akan binasa, maka tidak ada dokongan untuk hidup alam melainkan dengan kesan-kesan nubuwwah (iaitu pengajaran daripadanya). (“Ruh al-Ma’ani”. juz 9, hal. 100).
 
Dalam kitab yang sama, tentang ayat yang bermaksud “gerak-gerimu di kalangan mereka yang sujud” (al-Shu’ara 217-219), selain daripada maksud bahawa nabi beregerak di kalangan mereka yang sembahyang, dengan da’wahnya dan lainnya, pengarang “Ruh al-Ma’ani” (jilid X.hal.135) menerangkan bahawa: “dan daripada ibn Jubair bahawa maksud mereka itu ialah para anbia ‘a.s.s., dan makna “melihat gerak-geri engkau sebagaimana gerak-geri mereka yang selain daripada engkau dari kalangan para anbia ‘a.s. dalam mereka menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, sebagaimana yang kamu lihat”, dan tafsir tentang “mereka yang sujud” itu para anbia, diriwayatkan oleh satu jemaah, antara mereka ialah Tabarani, al-Bazzar, dan Abu Nu’aim , dari ibn ‘Abbas juga , melainkan bahawa beliau itu –Allah meredhainya- menafsirkan “gerak-geri engkau  di kalangan mereka” itu sebagai bermakna berpindah-pindahnya Baginda (sebagai Nur Muhammad-UEM) dalam sulbi-sulbi mereka sehingga bondanya melahirkannya –alaihis-salatu wassalam- …’(ibid.X.135)
 
Dalam Tafsir al-Wajiz fi Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz karangan al-Imam Abul-Hasan ‘Ali bin Ahmad al-Wahidi (men.468 H.) berkenaan dengan ayat yang bermaksud Telah datang kepada kamu dari Allah cahaya dan Kitab yang nyata, katanya nur ya’ni Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dan Kitab yang nyata ya’ni Qur’an …(Jilid II hal.196.
 
Demikian juga dalam Al-Tafsir al-Munir li-Ma’alim al-Tanzil al-Musamma Mirah Labid li-Kashfi Ma’na Qur’an Majid oleh Shaikh Nawawi al-Bantani (dan beliau ulama Nusan tara, dari Bentan yang terkenal dalam abad ke-19) - di tepinya Tafsir al-Wajiz karangan al-Wahidi- jilid II hal. 196 ada dinyatakan:
 
Ayat yang bermaksud Telah datang (…dari Allah kepada kamu nur) yaitu Rasul iaitu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (dan Kitab yang nyata) iaitu Qur’an…
 
Dan dalam Tafsir yang sama, berhubungan dengan ayat yang bermaksud: dan pergerakan kamu di kalangan mereka yang sujud, yaitu Ia melihat gerak-geri kamu dalam sembahyang dengan kiyam dan ruku’ dan sujud serta duduk bersama-sama mereka yang semb ahyang bila engkau menjadi imam dalam berjemaah dengan mereka, dan dikatakan dan Ia melihat engkau berpindah –pindah dalam sulbi para mu’minin dan mu’minat, semenjak dari Adam dan Hawa sampai kepada ‘Abdullah dan Aminah; maka semua nenek moyang dan ibu bapa penghulu kita Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam lelaki dan perempuan, tidak termasuk syirik ke dalamdiri mereka kesyirikan selama mana Nur Muhammad (al-Nur al-Muhammadi) dalam lelaki dan perempuan itu, maka bila berpindah (nur itu) daripadanya kepada orang yang kemudiannya, maka m ungkin orang itu menyembah yang selain daripada Allah, dan Azar (bapa nabi Ibrahim) tidak menyembah berhala melainkan selepas berpindah Nur itu kepada Ibrahim, adapun sebelum berpindahnya (kepada Ibrahim) ia tidak menyembah selain dari Allah…(ibid.II.119).  
 

Hadith berkenaan dengan Nur:
 
Tentang hadith berkenaan dengan Nur itu antara yang boleh dikemukakan ialah:
Dalam Kitab “Kashf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas ‘Amman Ishtahara min al-Ahadith ‘Ala Alsinatin-Nas’ oleh al-‘Ajluni (men.1162 Hijrah):
 
(827 – أول ما خلق اللهُ نورُ نبِيكِ يا جابر الحديث
رواه عبد الرزاق بسنده عن جابر بن عبد الله بلفظ قال قلت‏:‏ يا رسول الله، بأبي أنت وأمي، أخبرني عن أول شيء خلقه الله قبل الأشياء‏.‏ قال‏:‏ يا جابر، إن الله تعالى خلق قبل الأشياء نور نبيك من نوره، فجعل ذلك النور يدور بالقُدرة حيث شاء الله، ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا سماء ولا أرض ولا شمس ولا قمر ولا جِنِّيٌ ولا إنسي، فلما أراد الله أن يخلق الخلق قسم ذلك النور أربعة أجزاء‏:‏ فخلق من الجزء الأول القلم، ومن الثاني اللوح، ومن الثالث العرش، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء، فخلق من الجزء الأول حَمَلَة العرش، ومن الثاني الكرسي، ومن الثالث باقي الملائكة، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء‏:‏ فخلق من الأول السماوات، ومن الثاني الأرضين، ومن الثالث الجنة والنار، ثم قسم الرابع أربعة أجزاء، فخلق من الأول نور أبصار المؤمنين، ومن الثاني نور قلوبهم وهى المعرفة بالله، ومن الثالث نور إنسهم وهو التوحيد لا إله إلا الله محمد رسول الله‏.‏ الحديث‏.‏ كذا في المواهب‏.‏(
 
Hadith yang bermaksud: “Yang pertama dijadikan Allah ialah nur Nabi engkau, wahai Jabir”. Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq dengan sanadnya daripada Jabir bin ‘Abd Allah dengan lafaz: Katanya: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bapa dan bonda hamba menjadi tebusan tuan, beritahu kepada hamba tentang perkara terawal yang dijadikan Allah sebelum segala sesuatu. Jawab Baginda: Wahai Jabir, sesungguhnya Allah jadikan sebelum segala sesuatu nur Nabi engkau daripada NurNya, kemudian Ia jadikan nur itu berkisar dengan kudrat cara yang dikehendakiNya, walhal dalam masa itu tiada Lauh (Lauh Mahfuz), tiada Qalam, Syurga dan Neraka, tiada malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. Maka bila Allah kehendaki menjadikan sekelian makhluk ia membahagikan Nur itu kepada empat bahagian, daripada juzu’ pertama ia jadikan al-Qalam, daripada yang kedua Ia jadikan Lauh (Lauh Mahfuz), daripada yang ketiga Ia jadikan ‘Arash, kemudian Ia membahagikan pula juzu’ yang keempat itu kepada empat bahagi, maka daripada juzu’ yang pertama Ia jadikan malaikat penanggung ‘Arasy, daripada juzu’ yang kedua Ia jadikan Kursi, daripada yang ketiga Ia jadikan malaikat yang baki lagi. Kemudian Ia membahagikan lagi juzu’ yang keempat itu kepada empat bahagi yang pertamanya dijadikan langit-langit, yang keduanya bumi-bumi, yang ketiganya Syurga dan Neraka. Kemudian yang keempatnya dibahagikan kepada empat bahagian: yang pertamanya dijadikanNya nur pandangan mata Muslimin, daripada yang kedua cahaya hati mereka, ia ma’rifat terhadap Allah, daripada yang ketiga dijadikanNya nur kejinakan mereka (dengan Tuhan) iaitu ‘tiada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah’, demikian hadith dalam “al-Mawahib” (iaitu al-Mawahib al-Laduniyyah karangan ahli hadith al-Qastallani yang terkenal sebagai rujukan itu).
 
Dan seterusnya:
 
وقال فيها أيضا‏:‏ واختُلِف هل القلم أول المخلوقات بعد النور المحمدي أم لا‏؟‏ فقال الحافظ أبو يعلى الهمداني‏:‏ الأصح أن العرش قبل القلم، لِما ثبت في الصحيح عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ قدر الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة، وكان عرشه على الماء، فهذا صريح في أن التقدير وقع بعد خلق العرش، والتقدير وقع عند أول خلق القلم، فحديث<صفحة 311> عبادة بن الصامت مرفوعا ‏"‏أول ما خلق الله القلم، فقال له أكتب، فقال رب وما أكتب‏؟‏ قال أكتب مقادير كل شيء‏"‏ رواه أحمد والترمذي وصححه‏.‏
وروى أحمد والترمذي وصححه أيضا من حديث أبي رزين العقيلي مرفوعا‏:‏ إن الماء خلق قبل العرش‏.‏
وروى السدي بأسانيد متعددة إن الله لم يخلق شيئا مما خلق قبل الماء، فيجمع بينه وبين ما قبله بأن أولية القلم بالنسبة إلى ما عدا النور النبوي المحمدي والماء والعرش انتهى
 
Ia menyatakan berkenaan dengan yang demikian juga: Diperselisihkan adakah Qalam makhluk terawal selepas daripada nur Muhammad atau tidak? Al-Hafiz Abu Ya’la al-Hamadani: yang asah ialah ‘Arash sebelum daripada Qalam, mengikut riwayat yang sabit dalam kitab “Sahih” dari ibn ‘Umar; katanya: Sabda Rasulullah s.a.w: Allah menentukan takdir bagi sekelian makhluk sebelum Ia menjadikan langit-langit dan bumi lima puluh ribu tahun, ‘Arashnya atas air; ini sarih atau nyata dalam perkara takdir berlaku selepas daripada penciptaan ‘Arash; takdir ada pada awal mula tercipta Qalam; maka hadith ‘Ubadah bin al-samit, marfu’, “Awal diciptakan Allah ialah Qalam, kemudian Ia berfirman: Tulislah, kata Qalam: Apakah yang hamba (hendak) tulis? FirmanNya, “Tulislah takdir segala sesuatu” (Riwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi; dianggapnya sahih).
 
Dan diriwayat oleh Ahmad dan Tirmidhi, dianggapnya sahih juga, dari hadith Abu Razin al-‘Uqaili, marfu’, “Bahawa air dicipta sebelum daripada ‘Arash”.
 
Dan al-Suddi meriwayatkan dengan sanad-sanad yang berbilang bahawa Allah tidak menjadikan sesuatu sebelum daripada penciptaan air, maka boleh dihimpunkan antara ini dan apa yang sebelumnya bahawa keawalan Qalam dalam hubungan dengan yang selain daripada Nur Muhammad, Air, dan ‘Arasy.Habis.
 
Dan yang menyebut kejadian yang pertama itu “al-Qalam” ialah:
824 أول ما خلق الله القلم‏.‏
رواه أحمد والترمذي وصححه عن عبادة بن الصامت مرفوعا بزيادة فقال له أكتب، قال رب وما أكتب‏؟‏ قال أكتب مقادير كل شيء،
قال ابن حجر في الفتاوى الحديثية قد ورد أي هذا الحديث بل صح من طرق، وفي رواية إن الله خلق العرش فاستوى عليه، ثم خلق القلم فأمره أن يجري بإذنه، فقال يا رب بم أجري‏؟‏ قال بما أنا خالق وكائن في خلقي من قطر أو نبات أو نفس أو أثر أو رزق أو أجل، فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة، ورجاله ثقات إلا الضحاك بن مزاحم فوثقه ابن حبان وقال لم يسمع من ابن عباس، وضعفه جماعة، وجاء عن ابن عباس رضي الله عنهما موقوفا عليه‏:‏ إن أول شيء خلقه الله القلم، فأمره أن يكتب كل شيء ورجاله ثقات،
وفي رواية لابن عساكر مرفوعة إن أول شيء خلقه الله القلم، ثم خلق النون، وهي الدواة، ثم قال له اكتب ما يكون أو ما هو كائن الحديث
وروى ابن جرير أنه صلى الله عليه وسلم قال ‏{‏ن ‏(‏في الأصل ‏(‏نون‏)‏ مكان ‏(‏ن‏)‏‏)‏ والقلم وما يسطرون‏}‏ قال لوح من نور، وقلم من نور، يجري بما هو كائن إلى يوم القيامة انتهى
 
824. Perkawa terawal dijadikan Allah ialah Qalam.
 
Riwayat Ahmad dan Tirmidhi, dikatakannya sahih, dari ‘Ubadah bin al-samit, marfu’, dengan tambahan, Ia berfirman: “Tulislah”, kata (Qalam)”Apakah yang hamba (akan) tulis?” FirmanNya: “Tulislah takdir segala sesuatu”.
 
Kata ibn Hajar dalam “al-Fatawi al-hadithah”: “Datang riwayat, iaitu hadith ini, bahkan ia sahih daripada beberapa jalan, dan dalam riwayat” Allah menjadikan ‘Arasy kemudian Ia beristiwa atasnya, kemudian Ia menjadikan Qalam, kemudian Ia memerintah supaya menulis dengan izinNya, katanya: Apakah yang hamba (akan) tulis? FirmanNya: tentang apa yang Aku jadikan dan yang ada dalam makhlukKu, terdiri daripada titik hujan, tumbuhan, nafas, bekas, rizki, atau ajal; maka Qalampun menulis tentang apa yang ada sampai ke Hari Kiamat. Rijalnya atau periwayatnya adalah mereka yang dipercayai (rijaluhu thiqat), melainkan Qahhak bin Muzahim, tetapi ibn Hibban menganggapnya boleh dipercayai, katanya ia tidak mendengar daripada ibn ‘Abbas, dan satu kelumpuk menganggapnya dhaif; dan datang riwayat daripada ibn ‘Abbas –Allah meredhai keduanya-maukuf atasnya: Perkara awal yang dijadikanNya Qalam, kemudian Ia menyuruhynya menulis; para periwayatnya boleh dipercayai (rijaluhu thiqat).
 
Dan dalam riwayat ibn ‘Asakir, marfu’, bahawa perkarea awal yang dijadikan Allah ialah Qalam, kemudian “Nun”, bekas dakwat, kemudian firmanNya, Tulislah, apa yang akan ada dan yang ada.
 
Dan diriwayatkan oleh ibn Jarir bahawa Baginda s.a.w. bersabda:
 
Nun, Demi Qalam dan apa yang mereka tulis katanya: Lauh daripada nur, Qalam daripada nur, yang menulis tentang apa yang ada sehingga hari Kiamat. Seterusnya dalam teks yang sama ada riwayat seperti berikut:
 
وفى النجم روى الحكيم الترمذي عن أبي هريرة أن أول شيء خلق الله القلم، ثم خلق النون وهي الدواة، ثم قال له أكتب، قال وما أكتب، قال أكتب ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة وذلك قوله تعالى ‏{‏ن والقلم وما يسطرون‏}‏ ثم ختم على فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة، ثم خلق الله العقل، فقال وعزتي وجلالي لأكْمِلَنَّكَ فيمَن أحببتُ، ولأنْقُصَنَّكَ<صفحة 309> فيمن أبغضت، وقال اللقاني ‏(‏في الأصل ‏(‏اللاقاني‏)‏‏)‏ في شرح جوهرته‏:‏ القلم جسم نوراني خلقه الله، وأمره بِكَتْبِ ما كان وما يكون إلى يوم القيامة، وتمسك عن الجزم بتعيين حقيقته، وفي بعض الآثار أول شيء خلقه الله القلم، وأمره أن يكتب كل شيء، وفي بعضها إن الله خلق اليراع، وهو القصب ثم خلق منه القلم، وفي رواية أول شيء كتبه القلم أنا التواب أتوب على من تاب انتهى‏.‏
 
Dalam “al-Najm”, al-Hakim al-Tirmidhi meriwayatkan dari Abu Hjurairah, bahawa “Perkara awal yang dijadikan Allah ialah Qalam; kemudian Nun, iaitu Bekas Dakwat, kemudian firmanNya; Tulislah, katanya: Apakah yang hamba (akan) tulis? FirmanNya: Tulislah apa yang ada, dan yang akan ada sampai ke Hari Kiamat. Itulah firmannya: Nun. Demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Kemudian dikhatamkan atas mulut Qalam, lalu ia tidak berkata-kata, tidak berkata-kata sampai Kiamat. Kemudian Allah jadikan akal, Kemudian firmanNya; Demi KekuasaanKu dan KehebatranKu, Aku akan sempurnakan engkau dalam kalangan yang aku kasihi. Dan aku akan kurangkan engkau dalam kalangan mereka yang aku murkai.
 
Kata al-Laqqani dalam Syarah Jauharahnya: Qalam adalah jisim nurani (daripada nur), yang dijadikan Allah, lalu Ia perintahkan supaya ia menulis apa yang ada dan yang akan ada sampai Kiamat; ia tidak menjazamkan untuk menentukan hakikatnya; dalam setengah athar, perkara terawal yang Allah jadikan ialah Qalam, kemudian diperintahnya menulis tiap-tiap sesuatu, dalam setengah athar Allah menjadikan “yara” (seperti Qalam), atau Qasab, seperti Batang, kemudian dijadikan daripadanya Qalam. Dalam satu riwayat perkara awal yang ditulisman oleh Qalam ialah ‘Aku Maha penerima taubat, Aku menerima taubat mereka yang bertaubat’. Habis. 
 
(al-‘Ajluni, dalam “Kashf al-Khafa’  wa Muzil al-Ilbas…”,          http://www.alelman.com/Islamlib/viewchp.asp?BID=143&CID=22#s1)
Dalam Kitab “Nazm al-Mutanathir min al-Hadith al-Mutawatir” oleh Imam Muhammad bin Ja’far al-Kattani rh, dalam ‘kitab al-iman sampai kitab al-manaqib’, no.194 di bawah hadith:”awwalu ma khalaqa’Llah”, terdapat kenyataan:
 
194-أول ما خلق اللّه
- ذكر الأمير في مبحث الوجود من حواشيه على جوهرة اللقاني أنها متواترة‏.‏
‏(‏قلت‏)‏ ورد في بعض الأحاديث أن أول ما خلق اللّه ‏(‏1‏)‏ النور المحمدي وفي بعضها ‏(‏2‏)‏ العرش في بعضها ‏(‏3‏)‏ البراع أي القصب وصح حديث أول ما خلق اللّه ‏(‏4‏)‏ القلم وفي غيره أول ما خلق اللّه ‏(‏5‏)‏ اللوح المحفوظ وجاء بأسانيد متعددة ‏(‏6‏)‏ أن الماء لم يخلق قبله شيء وفي بعض الأخبار ‏(‏7‏)‏ أن أول مخلوق الروح وفي بعضها ‏(‏8‏)‏ العقل إلا أن حديث العقل فيه كلام لأئمة الحديث بعضهم يقول هو موضوع وبعضهم ضعيف فقط*
وأجيب عن التعارض الواقع فيها بأن أولية النور المحمدي حقيقية وغيره إضافية نسبية وأن كل واحد خلق قبل ما هو من جنسه فالعرش
 
Al-Amir dalam bahas berkenaan dengan wujud, dalam syarahnya ke atas “Jauharah al-Laqqani”, bahawa hadith tentang itu mutawatir. Pengarang itu menyatakan bahawa ia berkata);
 
Datang riwayat dalam setengah hadith tentang perkara awal yang dijadikan itu (1) Nur Muhammad, dalam setengahynya (2) ‘Arasy, dalam setengahnya pula (3) “al-yara” iaitu qasab, Batang, dan sah hadith tentang perkara awal yang dijadikan Allah Qalam, dalam yang lain dinyatakan awal yang dijadikan Allah (4) Qalam, dalam yang lain pula awal dijadikanNya ialah (5) alo-lauh al-mahfuz, dan datang dalam berbilang sanad bahawa ia (6) Air, dan tidak dijadikan sesuatu sebelum daripadanya; dalam setengah riwayat (al-akhbar) ia (7) awal makhluk ialah ruh, dalam setengahnya (8) ‘Akal, melainkan hadith tentang akal di dalamnya ada kenyataan para imam hadith, setengahnya menyatakan maudhu’, setengahnya menyatakan daif sahaja.
 
Katanya: boleh dijawab berkenaan dengan percanggahan yang ada ini, bahawa nur Muhammad itu awal hakiki, yang lainnya awal secara idafi, atau bandingan, secara nisbah, tiap-tiap satu daripada (yang lainnya) dijadikan sebelum daripada yang terdiri daripada jenisnya; maka ‘Arasy sebelum daripada jisim-jisim yang kasar, akal sebelum daripada jisim-jisim yang halus  (latif), ‘yara’ awal daripada makhluk tumbuhan (nabatiah), demikianlah. Allah Maha Mengetahui. (Dari “Nazm al-Mutanathir min al-hadith al-Mutawatir”, dari kitab al-iman sampai kepada kitab al-manaqib, -491 dalam
 
Dalam “Al-Mawahib al-Ladunniyyah bil-Minah al-Muhammadiyyah” (2 jilid), karangan Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakr al-Khatib al-Qastallani (men.923 Hijrah), dalam jilid pertama halaman 5 terdapat kenyataan:
 
Ketahuilah wahai pembaca yang mempunyai akal yang sejahtera dan yang bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan dan kelengkapan – mudah-mudahan Allah memberi taufik kepadaku dan kepada anda-dengan hidayah kepada Jalan Yang Lurus bahawa sesungguhnya bila berlakulah (lit. bergantunglah) Iradat Allah taala untuk mengadakan makhluknya dan menentukan rezekinya, maka Ia menzahirkan hakikat Muhammadiyyah daripada Nur-Nur Samadiyyah dalam hadhrat Ahadiyah(Nya), kemudian Ia menjadikan alam-alam, semua sekali, alam tingginya dan alam rendahnya dalam rupa bentuk hukumNya sebagaimana yang telah terdahulu ada dalam IradatNya dan IlmuNya yang terdahulu (dari Azali lagi), kemudian Ia mem beritahu tentang kenabiannya dan berita baiknya dengan kerasulannya ini, walhal Adam masih belum ada, sebagaimana yang dinyatakannya bahada Adam adalah antara ruh dan jasad.
 
Kemudian terpancarlah daripadanya –salla’Llahu ‘alaihi wa sallam- ‘ain sekelian arwah, maka zahirlah Al-Mala’ al-A’la dengan mazhar yuang paling hebat, maka bagi mereka itu ada jalan yang paling manis, ia salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, jenis tinggi, mengatasi segala jenis makhluk, ia Bapa Teragung bagi sekelian yang maujud dan manusia (sekelian).  
 
Maka bila habislah masa dengan nama batinnya, dalam hubungan dengan hak salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (untuk) wujud dalam rupa jisimnya, dan berkaikt ruh dengan jasadnya, berpindahlah hukum zaman kepada nama zahirnya, maka zahirlah Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam dengan keseluruhan jasad dan ruhnya walaupun terkemudian jasadnya (zahir) anda mengetahui tentang nilainya, (iaitu) ia adalah khizanah atau perbendahraan rahasia dan pusat berlakunya perintah; maka tidak lulus perintah melainkan daripadanya; tidak berpindah kebaikan melainkan daripadanya…Dikeluarkan riwayat hadith oleh Imam Muslim dalam kitab ‘Sahih’nya dari hadith ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi s.a.w. bahawa Baginda bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menentukan takdir bagi sekelian makhluk sebelum Ia menjadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun, dan ‘ArasyNya di atas air
 
…Dan dari “Irbad bin Sariyah dari Nabi s.a.w. ‘Sesungguhnya aku di sisi Allah sebagai khatam al-Nabiyyin-penutup sekelian nabi-walhal Adam masih terbujur dalam tanahnya (sebelum roh ditiupkan ke dalamnya);’ riwayat Ahmad dan Baihaqi serta al-Hakim. Kata al-Hakim isnadnya sahih.       
 
Seterusnya kata beliau: Dari Maisarah al-Dabbi katanya, bahawa katanya: ‘Aku berkata, wahai rasulul.lah, bilakah tuan hamba menjadi nabi? jawabnya s.a.w. bersabda: ‘Waktu Adam masih antara ruh dan jasad.’ Ini lafaz riwayat Ahmad dan al-Bukhari dalam ‘; Tarikh’nya serta Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah”, al-Hakim menyatakan ia sahih.
 
Selepas menyebut beberapa hadith lagi berkenaan dengan tajuk ini, Qastallani memberi huraian berkenaan dengan maksud hadith-hadith itu katanya:
 
Maka boleh diihtimalkan hadith itu (tentang Nabi Muhammad sudah nabi walhal Adam masih antara roh dan jasad) serta dengan riwayat al-‘Irbad bin Sariyah tentangt wajibnya kenabian bagi Baginda dan sabitnya, kemudian zahirnya pula ke alam nyata. Sesungguhnya penulisan (al-kitabah) digunakan dalam sesuatu yang wajib; firman Allah ta’ala (maksud)’Diwajibkan atas kamu (lit. dituliskan) puasa ‘ dan ‘Allah mewajibkan (lit. Allah menulis) bahawa Aku akan benar-benar mengatasi’. Dan dalam hadith dari Abu Hurairah (dinyatakan) bahawa mereka (iaitu para Sahabat) bertanya bilakah diwajibkan kenabian bagi tuan hamba? Baginda menjawab: ‘(Waktu) Adam masih antara roh dan jasad’. Riwayat Tirmidhi, katanya hadith hasan sahih.
 
Kemudian Qastallani menyebut riwayat dalam ‘Amali ibn Sahalal-Qattan’ dari Sahal ibn Salih al-Hamadhani katanya: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bagaimana nabi Muhammad menjadi nabi yang mendahului para anbia walhal Baginda terakhir dibangkitkan. Kata beliau: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala –bila Ia mengambil dari anak Adam dari zuriat mereka dari belakang merekadan menjadikan mereka menjadi saksi atas diri mereka, ‘Tidakkah Aku Tuhan kamu?’ adalah nabi Muhammad orang yang pertama yang mengatakan ‘Ya, ‘ kerana itu Baginda menjadi terdahulu dari sekelian anbia walhal ia terakhir dibangkitkan (dalam sejarah dunia). Kalau anda berkata: ‘Nubuwwah adalah satu sifat yang mesti ada orang yang disifatkan itu, walhal sesungguhnya beliau itu ada hanya selepas sampai umur empat puluh tahun, maka bagaimanakah disifatkan beliau itu sebelum wujudnya dan sebelum ia diutus sebagai rasul? Maka boleh diberikan jawapan bahawa al-Ghazali dalam’ kitab al-nafkh wa al-taswiyah’ berkenaan dengan hal ini dan berkenaan dengan hadith ‘ Aku nabi terawal dari segi penciptaan dan terakhir dari segi dbangkitkan (dalam sejarah), bahawa maksud ‘penciptaan’ (al-khalq) di sini ialah takdir atau penetapan bukannya mengadakan (‘’al-taqdir duna al-ijad’); maka Baginda itu sebelum bondanya melahirkannya tidak wujud sebagai makhluk, tetapi (wujud) dalam bentuk matlamat-matlamat dan aspek-aspek kesempurnaan (‘al-ghayat wa al-kamalat’) yang mendahului dalam takdir yang mengikutinya dalam wujud.Inilah makna kata-kata mereka (yang bijaksana):’Awal fikiran ialah akhir amalan, dan akhir amalan adalah awal fikiran” (‘awwal al-fikrah akhir al-‘amal wa akhir al-‘amal awwal al-fikrah’).
 
Kemudian dalam memberi huraian tentang perkara ini beliau menyebut berkenaan dengan jurutera yang mempunyai konsep dan rupa bentuk (‘surah’) awal tentang bangunan yang hendak dibinanya dalam mindanya, dengan rupa bentuk yang lengkap sempurna (‘dar kamilah’); itulah yang ada dalam ‘takdir’ atau ketetapannya. Itulah yang ada kemudiannya yang zahir sebagai hasil daripada amalannya. Maka bangunan yang lengkap sempurna itu yang terawal dalam ‘takdir’nya, dan itulah yang terakhir dari segi wujudnya. Demikianlah-kiasnya- hadith ‘Aku nabi’ itu isyarat kepada apa yang dinyatakan, iaitru nabi dalam ‘takdir’ Ilahi sebelum sempurna penciptaan Adam a.s., kerana tidaklah diciptakan Adam melainkan untuk dikeluarkan daripada zuriatnya Mujhammad s.a.w.
 
Kemudian beliau menyatakan bahawa ‘hakikat ini tidak boleh difahami melainkan dengan mengetahui bahawa rumah atau bangunan itu ada dua wujud, satu wujud dalam minda jurutera dan otaknya, dan ia melihat kepada rupa bentuk rumah di luar daripada minda dalam zat-zat (al-a’yan’) dan wujud zihin adalah sebab bagi wujud yang zahir di luar zihin yang boleh dipandang dengan mata, dan itu mesti mendahului. Demikianlah- hendaklah anda ketahui- bahawa Allah menentukan takdir, kemudian Ia mengadakan mengikut persepakatan dengan takdir…(Dalam ‘al-Mawahib al-Laduniyyah’juz   hal.7).
 
Selepas daripada ini beliau menyebut hadith-hadith berkenaan dengan awalnya Nur Muhammad s.a.w. dan bagaimana perkara-perkara lain dijadikan daripadanya.(Al-Mawahib al-laduniyyah, juz I hal 7 dst)
 
Tentang kedudukan ‘Abd al-Razzaq sebagai sandaran tentang hadith berkenaan dengan Nur Muhammad s.a.w. sebagai punca penciptaan segala, itu nampaknya tidak menjadi masalah, memandangkan antaranya al-Bukhari mengambil daripadanya 120 riwayat dan Muslim mengambil 400 riwayat. (GF Haddad, “Light of the Full Moon”, dalam http://www.abc.se/~m9783/fiqhi/fiqha_e30.html)
 
Dalam hubungan dengan ‘Abd al-Razzaq, ada kenyataan dalam kitab Al-Risalah al-Mustatrafah li Bayan Mashhur Kutub al-Sunnah al-Musharrafah, karangan Maulana al-Imam al-Sayyid Muhammad Ja’far al-Kattani (Maktab al-Kulliyat al-Azhariyyah-Qahiran, tanpa tarikh) pada halaman 13 bahawa Musannaf Abi Bakr ‘Abd al-Razzaq bin Humam bin Nafi’ al-Humairi meninggal tahun 211 Hijrah adalah lebih kecil daripada Musannaf ibn Abi Shaibah, disusun mengikut kiktab-kitab dan bab-bab. Dan Jami’ ‘Abd al-Razzaq yang selain daripada ‘Musannaf’ adalah kitab yang terkenal jami’ yang besar dan kebanyakan daripada hadith-hadithnya dikeluarkan oleh Syaikhan (Bukhari dan Muslim) dan empat imam hadith Dengan itu beliau menerima ‘Abd al-Razzaq dengan baik sebagai muhaddith.
 
Seterusnya, dalam kitab Al-Shifa karangan Qadhi ‘Iyad rahimahu’Llah, terdapat kenyataan dari Ibn ‘Abbas rd. bahawa Nabi s.a.w. adalah ruhnya itu berada di sisi Allah sebelum Ia menjadikan Adam a.s. selama dua ribu tahun, bertasbih nur itu sebagai malaikat bertasbih; daripadanya dijadikan Adam a.s. Bila Adam dijadikan maka nur itu diletakkan pada sulbinya. Sabda nabi s.a.w. Kemudian Allah turunkan aku ke bumi dalam sulbi Adam, kemudian dijadikan aku dalam sulbi Nuh, sulbi Ibrahim, kemudian tidak berhenti-henti Allah memindahkan aku dari sulbi-aulbi mereka yang mulia-mulia dan rahim-rahim para wanita yang suci, sehinggalah Ia keluarkan daku dari kedua ibu bapaku, yang mereka itu tidak terkena kekejian sedikitpun. Yang menjadi saksi tentang sahihnya kisah dan khabar ini ialah sya’ir al-‘Abbas yang masyhur yang memuji Nabi s.a.w. (Kitab al-Shifa, oleh Qadhi ‘Iyad, I, hal.83).
 
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: “dan mengetahui tentang gerak-geri engkau dalam kalangan mereka yang sujud”, kata ibn ‘Abbas rd maknanya “dari seorang nabi kepada seorang nabi sehingga Aku keluarklan engkau sebagai nabi (di zaman engkau dibangkitkan).” (Qadi ‘Iyad, al-Shifa, I.halaman 15-16).
 
Dalam hubungan dengan ayat yang bermaksud: Allah adalah cahaya langit dan bumi, kata Ka’b al-Akhbar dan ibn Jubair maksud nur yang kedua itu, iaitu mithalan bagi nurnya, ialah Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam. Maka mithalan bagi nurnya ialah Nur Muhammad s.a.w. Ia di pertaruhkan ke dalam sulbi-sulbi para anbia seperti ceruk cahaya (ka mishkat) sifatnya sedemikian, dan lampu (al-misbah) adalah kalbunya, kaca (al-zujajah) ialah dadanya: iaitu ia seumpama bintang kerana apa yang ada padanya terdiri daripada iman dan hikmah kebijaksanaan, yang dinyalakan daripada pokok yang diberkati, iaitu daripada Nur Ibrahim ‘alaihis-salam; diumpamakan sebagai pokok yang diberkati; hampir-hampir minyaknya menyala iaitu hampir-hampir nubuwwah nabi Muhammad itu …nyata kepada manusia sebelum daripada kata-katanya, seumpama minyak…(al-Shifa,I.hal.17-18).
 
Berhubungan dengan nur nabi ini dinyatakan dalam Al-Shifa.I.366:
 
Daripada yang demikian itu ialah zahir tanda-tanda pada waktu kelahiran Nabi s.a.w. dan apa yang dikisahkan oleh bondanya dan apa yang ada pada wakltu itu yang ajib-ajib, bagaimana ia mengangkat kepalanya waktu kelahirannya memandang ke langit, dan ada yang bondanya lihat nur yang keluar sewaktu Baginda dilahirkan; (juga) apa yang dilihat oleh Umm ‘Uthman ibn Abi al-‘As tentang bintang turun dan kemunculan nur sewaktu kelahiran Baginda sehingga sehingga tidak terlihat melainkan nur, dan kenyataan al-Shafa Umm ‘Abd al-rahman bin ‘Auf: Bila keluar Rasulullah s.a.w….Baginda Rasulullah s.a.w. …ia mendengar suara ‘Allah memberi Rahmat kepada anda dan cerah nyata bagiku antara Timur dan barat sehingga aku melihat istana-istana Rum” (ibid).
 
Dalam kitab al-Madkhal oleh ibn al-Hajj terdapat beberapa riwayat berkenaan dengan Nur Muhammad ini. Antaranya terdapat riwayat, iaitu: Dinukilkan oleh al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Siqilli rahimahu’Llahu ta’ala dalam kitab ‘al-dalalat ‘ baginya, yang lafaznya ialah: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan makhluk yang paling dicintai olehNya yang lebih lagi daripada umat ini; dan tidak ada yang lebih mulia lagi daripada nabinya salla’Llahu ‘alaihi wa sallam; kemudian para nabi selepas daripadanya, kemudian siddiqin, kemudian para aulia yang terpilih. Dan (berkaitan dengan) demikian itu sesungguhnya Allah menjadikan Nur Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam sebelum daripada dijadikan Adam selama dua ribu tahun, dijadikanNya dalam bentuk tiang di hadapan ‘Arasynya ia bertasbih kepada Allah dan mentakdiskanNya; kemudian Ia menjadikan Adam ‘alaihis-salatu was-salam, daripada Nur Muhammad s.a.w. dan dijadikanNya nur para nabi ‘alaihimus-salatu wassalam daripada Nur Adam ‘alaihis-salam, habis. (al-Madkhal ibn al-Hajj.II.28).
 
Seterusnya dalam al-Madkhal.II.29 terdapat riwayat:
 
Al-Faqih al-Khatib Abu al-Rabi’ memberi isyarat dalam kitabnya ‘Shifa’ al-Sudur’ kepada beberapa perkara yang hebat dan agung; antaranya apa yang diriwayat, iaitu bila Allah Yang Maha Bijaksana hendak menjadikan zat nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang diberkati dan such, Ia memerintah Jibril a.s. turun ke bumi dan membawa dengannya bumi yang menjadi jantung bagi bumi, dengan kegemilangannya dan nurnya…(sampai kepada penciptaan nur Muhammad) dan nur Muhammad itu bergemilang di belakang Adam, maka para malaikat berdiri di belakang Adam melihat nur Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam …kemudian Adam memohon supaya nur itu diletakkan supaya ia sendiri boleh melihatnya, maka Allah menjadikan Adam boleh melihatnya…itu dengan isyarat ‘la ilaha illa’llah’ Muhammadun Rasulu’Llah dan sembahyang (dengan melihat kepada jari telunjuknya)…kemudian nur itu diletakkan di dahi Adam kelihatan seperti matahari dalam pusingan falaknya atau bulan dalam masa penuhnya (al-Madkhal ibn al-Hajj.II.30)
 
Dalam kitab yang sama disebut bagaimana perkara yang mula-mula dijadikan Allah ialah Nur Muhammad dan kemudian daripadanya dijadikan sekelian yang lainnya.
 
Berhubungan dengan Nur Muhammad ini terdapat kenyataan dalam kitab Hujjatu’Llah ‘alal-‘Alamin fi Mu’jizati Sayyidil-Mursalin oleh Syaikh Yusuf al-Nabhani. Katanya:
 
Maka tidak dikurniakan kemuliaan (‘karamah’) dan kelebihan (‘fadhilah’) kepada seseorang dari kalangan mereka (iaitu dari kalangan anbia) melainkan dikurniakan kepada Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam yang sepertinya. Maka Adam ‘alaihis-salam diberikan Allah kurnia, iaitu ia dijadikan Allah dengan TanganNya, maka Allah kurniakan pula kepada nabi Muhammad salla’llahu ‘alaihi wa sallam pembukaan dadanya dan pengambilannya rapat denganNya dengan melapangkan dadanya bagi DiriNya dan dijadikan di dalamnya iman dan hikmah kebijaksanaan, dan ini akhlak nabawi; maka kurniaan kepada Adam khalq wujud (baginya) dan kepada nabi Muhammad s.a.w. dikurniakan akhlak nabawi walaupun maksud kejadian Adam adalah penciptaan nabi kita dalam sulbinya; maka penghulu kita Muhammad s.a.w. adalah maksudnya dan Adam alaihis salam adalah wasilah baginya, dan maksud mendahului wasilah. Adapun sujud malaikat kepada Adam a.s., kata Fakhr al-razi dalam tafsirnya ialah: para malaikat itu diperintah sujud kepada Adam kerana ada Nur Muhammad s.a.w. pada dahinya. (hal.15 ).
 
Dalam al-Mustadrak oleh al-Hakim rh terdapat beberapa riwayat berkenaan dengan nur Baginda s.a.w. Antaranya ialah:
 
(Diriwayatkan kepada kami) oleh ‘Ali bin Hamshad al-‘adl secara rencana (imla), Harun bin ‘Abbas al-hashimi meriwayatkan kepada kami, Jundul bin Waliq meriwayatkan kepada kami, (seterusnya sampai kepada al-‘Abbas rd) bahawa Baginda bersabda: Allah mewahyukan kepada ‘Isa alaihis-salam, wahai ‘Isa, berimanlah engkau kepada Muhammad dan suruhlah sesiapa yang mendapatkan Baginda dari kalangan umatmu supaya beriman dengannya, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak menjadikan Adam, kalaulah tidak kerana Muhammad tidak Aku jadikan Adam, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak jadikan Syurga, dan Neraka, Aku jadikan ‘Arash atas air, kemudian ia bergoncang, maka ditulis atasnya ‘la ilaha illa’llah Muhammadun Rasulu’Llah, maka iapun tenang. (Ini hadith sahih (kata al-Hakim) yang tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim). (al-Mustadrak al-Hakim II.614-615).
 
Dari Maysarah al-Fakhr, katanya bahawa ia bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, bilakah tuan hamba menjadi nabi? Jawabnya: walhal Adam masih antara roh dan jasad. (al-Mustadrak.II.608-609). Sahih riwayatnya.
 
Dari Maisarah al-fakhr lagi, katanya bahawa ia bertanya kepada Baginda bila Baginda menjadi nabi. Jawabnya (Sewaktu) Adam masih antara roh dan j asad. Hadith sahih. (al-Mustadrak.II.609.)   
 
Dari Irbad bin Sariah katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. berkata: Sesungguhnya aku di sisi Allah pada awal Kitab khatam sekelian anbiya, walhal Adam terbujur dalam jasadnya, aku akan memberitahu kepada kamu takwilan tentang itu, (aku) adalah do’a bapaku Ibrahim, berita gembira saudaraku ‘Isa kepada umatnya, dan aku pemandangan bondaku, yang ia lihat keluar daripadanya nur yang menjadikan terang baginya istana-istana di Syam. Sahih. (al-Mustadrak.II.600).
 
Berkenaan dengan yang demikian ada riwayat daripada Khalid bin Ma’dan, dari beberapa Sahabat nabi s.a.w. bahawa mereka bertanya kepada Baginda: Beritaku kepada kami berkenaan dengan tuan hamba.Baginda menjawab: Aku doa bapaku Ibrahim, berita gembira ‘Isa (kepada umatnya tentang aku akan diutus), dsan bondaku melihat sewaktu aku dilahirkan keluar daripadanya nur yang menerangi baginya Busra, dan Busra adalah di negeri Syam.Al-hakim menyatakan Khalid ibn Ma’dan dari kalangan tabi’in yang sebaik-baiknya yang bersahabat dengan Mu’adh bin Jabal.sahih pada al-Hakim.(al-Mustadrak.II.600).
 
Dalam kitab Jam’ al-Wasa’il fi Sharh al-Shama’il (lit-Tirmidhi) karangan Mulla ‘Ali bin Sultan Muhammad al-Qari rh (men. 1014 H.) ada terdapat beberapa huraian, antaranya:
 
Tentang kenyataan dalam Shama’il Tirmidhi bahawa orang yang melihat nabi tanpa mengenalinya terlebih dahulu terasa sangat hebat, maka Mulla ‘Ali al-Qari menghuraikan aspek kehebatan Baginda itu katanya: kerana ada pada Baginda sifat jalal dan atasnya ada kehebatan dari sisi Tuhan dan limpahan kurnia dari alam samawi (sifah al-jalal wa ‘alaihi al-haibah al-ilahiyyah wal-fuyud al-samawiyyah). (Jam’ al-wasa’il. hal. 28). Dan dalam kitab yang sama dalam kenyataan al-Shama’il bahawa Baginda itu lebih cantik daripada bulan –ahsan minal-qamar- beliau memberikan huraian katanya: tentang nurnya zahir dalam ufuk-ufuk (alam zahir) dan alam anfus (diri manusia) dengan tambahan sifat-sifat kesempurnaan dalam bentuk rupa lahir dan ma’nawi, bahkan pada hakikatnya tiap-tiap nur dijadikan daripada nurnya (ma’a ziyadah al-kamalat al-suwariyyah wal-ma’nawiyyah, bal fil-haqiqah kullu nurin khuliqa min nurih); dan dikatakan dalam hubungan dengan ayat bermaksud:’Allah adalah cahaya langit dan bumi, dan misalan bagi nurnya-iaitu nur Muhammad- maka nur wajahnya –s.a.w.- yang sejati, pada zatnya, tidak terpisah daripadanya sesaatpun malam dan siang, walhal nur bagi bulan muktasab, dipinjam (daripada cahaya matahari) sekali berkurang dan sekali terselindung. (jam’ al-Wassa’il Sharah al-Shama’il.hal.47).    
 
Dalam huraian Shaikh al-Munawi rh tentang Baginda itu lebih cantik daripada bulan sebagaimana yang ternyata dalam kitab Shama’il al-Tirmidhi, beliau menyatakan: itulah wajah Baginda pada sisi tiap-tiap orang; dan dalam riwayat ibn al-Jauzi dan lainnya dari Jabir juga ‘pada mataku’ ganti bagi ‘pada sisiku’ (‘indi’); dalam riwayat Abu Nu’aim dari Abu Bakr adalah wajah Baginda itu seumpama pagar atau kandungan bulan (‘daratul-qamar’) dan bagi riwayat Darimi dari al-Rabi’ binti al-Mu’awwidh katanya: Aku melihatnya aku mel,ihat matahari sedang naik memancar. Dalam riwayat ibn al-Mubarak dan ibn al-jauzi dari ibn ‘Abbas bahawa Baginda tidak ada bayang (‘lam yakun lahu zill’), dan Baginda tidak berdiri dalam matahari melainkan cahaya Baginda mengatasi cahaya matahari, sebagaimana yang ada dalam Baijuri. (Sharah al-Muhaddith al-Shaikh al-Munawi pada Shama’il Tirmidhi,I. halaman 47).
 
Dalam huraian Shaikh al-Munawi lagi, dalam menghuraikan kata-kata bermaksud: seperti cahaya keluar antara celah-celah gigi Baginda, katanya: tidak perlu kepada kata ‘seperti’ (‘ka’) tambahan, seperti yang dilakukan oleh pensyarah (‘Shama’il’), bagaimana demikian, kerana itu (yang keluar di celah-celah gigi Baginda) adalah nur hissi (atau cahaya lahiriah, bukan maknawi, abstrak), dan kata beliau kalau tidak hissi maka bagaimana digunakan ru’iya-dilihat. Ertinya ia bukan ma’nawi. (ibid.I.55-56).
 
Dalam hubungan dengan kenyataan dalam al-Shasma’il bila nabi s.a.w. datang ke Madinah menjadi cerah (tiap-tiap sesuatu) ,kata Mulla ‘Ali al-Qari iaitu: menjadi cerah tiap-tiap juzuk dari kota Madinah dengan nur yang hissi-atau cahaya lahiriah yang dipandang dengan mata—atau juga cahaya ma’nawi kerana dengan masuknya Baginda maka ada cahaya hidayah yang am dan terangkat kerananya berbagai jenis kegelapan, dengan isyarah bahasa menunjukkan teramat sangat (al-mubalaghah), yang tiap-tiap sesuatu dari alam ini mengambil cahaya dari Madinah pada hari itu. Ataupun pencerahan itu ialah kiasan bagi kesukaan yang amat sangat bagi para penduduk kota itu – serta dengan tidak mempedulikan (dalam suasana itu) kepada mereka yang berseteru (dengan Baginda dan Islam). Beliau juga menyebut pendapat al-Tibbi yang memandang itu adalah cahaya secara hissi. (Mulla ‘Ali al-Qari, Sharah al-Shama’il al-Tirmidhi, II.209).
 
Dalam syarah al-Munawi berkenaan dengan potongan yang sama dalam al-Shama’il Tirmidhi katanya: Yang asah ialah maksudnya tiap-tiap juzuk daripada juzuk-juzuk kota Madinah itu menjadi cerah dengan cahaya secara hakikatnya (bukan kiasan lagi) bukan tajrid (bukan secara abstrak lagi), bagaimana tidak, walhal Baginda itu zat dirinya pada keseluruhannya adalah cahaya (‘wa qad kanat dhatuhu kullaha nuran) maka Allah taala telah berfirman: Telah datang kepada kamu dari Allah Nur dan Kitab yang nyata, maka Baginda adalah cahaya yang menjadikan cerah bagi sekelian alam, dan Baginda adalah lampu yang cerah mengeluarkan cahaya. (Sharah al-Munawi atas al-Shama’il Tirmidhi, di tepi syharah Mulla ‘Ali al-Qari, II.55).
 
Dalam al-Mawahib al-Laduniyyah – Hashiyah Shama’il al-Tirmidhi karangan Shaikh Ibrahim al-Bajuri (men. 1276 Hijrah) terdapat beberapa kenyataan yang mencerahkan. Dalam hubungan dengan potongan yang bermaksud: iaitu orang yang melihat Baginda secara badihah (belum mengenalinya) akan merasa hebat dengannya-iaitu melihat Baginda sebelum menilik kepada akhlaknya yang teramat tinggi dan hal dirinya yang teramat berharga, merasa gerun dengannya, kerana ada padanya sifat jalal atau kehebatan dari sisi Tuhan (sifat al-jalal al-rabbaniyyah) dan apa yang ada padanya dari kehebatan dari sisi Tuhan (lima ‘alaihi minal-haibah al-ilahiyyah).
 
Kemudian beliau mengutip kata-kata dari ibn al-Qayyim: Perbezaan antara kehebatan dan takabur (pada seseorang insan) ialah: kehebatan itu adalah kesan daripada beberapa kesan yang banyak yang memenuhi kalbu orang itu kerana merasa kehebatan Allah (bi ‘azamati al-rabb) dan kasih kepadaNya, serta merasa Ketinggian HebatNya (wa ijlaliHi); maka bila hati seseorang penuh dengan yang demikian bertempatlah padanya nur, turunlah atasnya rasa ketenangan dan kebeningan (al-sakinah), dan dipakaikanlah kepadanya selendang kehebatan; maka (dengan yang demikian) jadilah percakapannya nur, ilmunya nur, kalau ia diam, maka ada atas dirinya kehebatan dan keagungan (al-waqar), dan bila ia berkata-kata
 
Ia menarik hati manusia dan pandangan mereka. Adapun sikap takabur itu adalah kesan daripada sekian banyak kesan yang memenuhi kalbu, daripada kejahilan, kezaliman, dan ujub atau heran kepada diri sendiri. Maka bila kalbu dipenuhi dengan yang demikian, terkeluarlah daripadanya kehambaan (‘ubudiyyah) dan turunlah ke atasnya kegelapan zulmat, sifat marah, maka berjalannya antara manusia dengan bongkak, mu’amalahnya dengan mereka secara takabur, tidak memulakan memberi salam (kepada orang lain)…(dalam al-mawahib al-laduniyyah –hashiyah al-Shaikh Ibrahim al-Bajuri ‘ala al-Shama’il al-Muhammadiyyah lit-Tirmidhi-hal.16).
 
Dalam kitab yang sama (hal.19) dalam hubungan dengan potongan dalam al-shama’il yang bermaksud: Adalah Baginda salla’llahu ‘alaihi wa sallam bercahaya-cahaya wajahnya seumpama bercahayanya bulan sewaktu penuh purnama –lalatul-badr-iaitu malam kesempurnaannya, kerana Nabi s.a.w. menghapuskan kegelapan kufur sebagaimana bulan menghilangkan kegelapan malam, dan sesungguhnya datang riuwayat (juga) misalan Baginda seumpama matahari dengan memandang kepada matahari itu lebih lengkap dalam pencerahan kegimalangan cahayanya, dan pencerahan dengan cahayanya itu ada juga datang misalan Baginda seumpama kedua-duanya (matahari dan juga bulan) dengan memandang kepada keadaan Nabi s.a.w. menghimpunkan dalam dirinya tiap-tiap segi kesempurnaan, dan misal umpama itu adalah sekadar untuk mendekatkaqn kepada faham, kalau tidak tidak ada apa-apa yang menyamai Baginda dalam gambaran sifat-sifatnya.
 
Dalam teks yang sama (hal. 24) dalam hubungan dengan kenyataan Jabir bahawa ia melihat Rasulullah s.a.w. pada malam bulan  penuh purnama ---aku melihat kepada Baginda dan kepada bulan padaku Baginda lebih cantik daripada bulan.(ahsan minal-qamar), kata al-Baijuri:
Yang demikian itu adalah pada tiap-tiap orang yang melihat Baginda s.a.w. Hanyasanya Baginda itu lebih cantik kerana nurnya mengatasi nur bulan (li’anna dau’ahu yaghlibu ‘ala dau’I al-qamar), bahkan mengatasi cahaya matahari (bal wa ‘ala dauy’i al-shamsi); bahkan dalam satu riwayat ibn Mubarak dan ibn al-Jauzi Baginda itu tidak ada bayang, dan bila Baginda berdiri dalam sinaran cahaya matahari maka cahayanya mengatasi cahaya matahari, dan bila ia berdiri dalam cahaya lampu maka cahayanya mengatasi cahaya lampu itu. (ghalaba dau’uhu ‘ala dau’i al-siraj).
 
Dan berkenaan dengan cahaya yang keluar di celah-celah gigi Nabi s.a.w. al-Baijuri menafsirkan bahjawa itu cahaya hissi bukan hanya ma’nawi, sebab kalimah ru’iya itu merujuk kepada melihat. (ibid. hal. 27).
 
Dan dalam hubungan dengan kenyataan kota Madinah cerah dengan cahaya dengan kedatangan nabi s.a.w. beliau memahaminya cahaya yang hissi selain daripada yang ma’nawinya. (ibid. hal.196).
 
Dalam hubungan dengan hadith yang kuat sandarannya dalam Tirmidhi berkenaan dengan Allah mengenakan cahayanya atas sekelian makhluk, dan yang mengenanya dan yang tidak mengenannya ialah seperti berikut:
 
حَدَّثَنَا ‏ ‏الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ ‏ ‏قَال سَمِعْتُ ‏ ‏عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو ‏ ‏يَقُولُ ‏
‏سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقُولُ ‏ ‏إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ
فَأَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ فَلِذَلِكَ أَقُولُ جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ
‏قَالَ ‏ ‏أَبُو عِيسَى ‏ ‏هَذَا ‏ ‏حَدِيثٌ حَسَنٌ
 
Diriwayatkan kepada kami oleh al-Hasan bin ‘Arafah, Isma’il bin ‘Iyash meriwayatkan kepada kami dari Yahya bin Abi ‘Amru al-Syaibani, dari ‘Abdullah bin al-Dailami, katanya Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru berkata: Aku mendengar Rasulullah salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla menjadikan sekelian makhluk dalam zulmah, kemudian Ia melemparkan ke atas mereka daripada NurNya, maka sesiapa yang terkena daripada Nur itu dia mendapat hidayat dan sesiapa yang tidak terkena Nur itu atasnya ia tersesat.Dengan itu maka aku berkata: Qalam sudah kering atas Ilmu Allah.Kata Abu ‘Isa (Tirmidhi): hadith hasan. (http://www.hadith.al-islam.com/Display/Display-asp?Doc=2&ID=41787&SearchText)
 
Hadith ini ialah berkenaan dengan takdir Ilahi tentang taraf-taraf makhluk mendapat cahaya-nur- dari Tuhan dalam kehidupannya dan agamanya. Dengan ini maka boleh difahamkan bahawa hidup mukminin adalah berdasarkan hakikat cahayanya, dan Nabi s.a.w. adalah mukmin yang pertama sekali yang mendapat bahagian cahaya itu, dan ia melebihi orang lain dengan sifatnya sebagai cahaya- termasuklah melebihi walaupun malaikat yang terjadi daripada cahaya. Maka Nabi s.a.w. adalah makhluk pertama yang mendapat cahaya itu melebihi para malaikat dan lainnya.
Dalam kitab Al-Anwar al-Muhammadiyyah mkin al-Mawahib al-laduniyyah karangan Syaikh Yusuf bin Ismai’l al-Nabhani (Dar al-Fikr, tanpa tarik) disebut oleh beliau beberapa maklumat berkenaan dengan Nur Muhammad. Antaranya ialah seperti berikut:
 
Maksud yang pertama (dalam Kitab al-Anwar al-Muhammadiyyah…): Ketahuilah bahawa bilamana berhubung Iradat Allah Taala bagi mengadakan makhlukNya maka Ia menzahirkan Hakikat Muhammadiyyah dari anwarNya (dengan Qudrat dan IradatNya-UEM) kemudian Ia menimbulkan daripada (nur itu) alam-alam semuanya, alam tingginya dan alam rendahnya, kemudian Ia memasyhurkan kenabian Baginda walhal Adam belum ada lagi, melainkan sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda salla’llahu ‘alaihi wa sallam-(ia adalah) antara roh dan jasad (yakni belum ada lagi), kemudian terpancarlah daripada Baginda (yaitu nurnya itu-UEM) para arwah , maka ia adalah dari jenis yang tinggi mengatasi semua jenis, dan ia adalah bapa akbar (punca terbesar) bagi sekelian yang wujud (al-ab al-akbar li-jami’ al-maujudat);dan bila habis edaran masa dengan Nama yang Batin pada haknya salla’Llahu ‘alaihi wa sallam (bagi berpindah) kepada wujud jasadnya dan pertambatan roh dengannya, berpindahlah hukum zaman itu kepada Nama yang Zahir, maka zahirlah Muhammad salla’Llah u ‘alaihi wa sallam dengan keseluruhan (dirinya dan hakikat)nya, dengan jisim dan rohnya sekali. Maka (makna yang sedemikian itu boleh terdapat) dalam (riwayat) Sahih Imam Muslim, bahawasanya Baginda bersabda: Sesungguhnya Allah Taala memaktubkan takdir sekelian makhluk (maqadir al-khalq) sebelum dijadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun (melambangkan masa yang terlalu amat lama yang tidak boleh ditentukan oleh manusia-UEM) dan ‘ArashNya berada di atas air. Dan termasuk ke dalam jumlah yang termaktub (demikian itu) ialah bahawa Nabi Muhammad adalah khatam al-Nabiyyin. (Maka dalam hubungan dengan hakikat yang sedemikian itulah ada riwayat-UEM) dari al-‘Irbad bin Sariyah dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bahawa Baginda bersabda: Sesungguhnya aku di Sisi Allah adalah khatam sekelian para nabi walhal Adam masih terbujur dalam jasadnya, terbujur jasaadnya, belum tertiup roh padanya. Dan (ada riwayat hadith) dari Maisarah al-Dabbi katanya: Aku bertanya kepada Baginda: Wahai Rasulullah, bilakah tuanhamba menjadi nabi? Jawabnya: Sewaktu Adam masih antara roh dan jasad. (hal. 9)
 
Dalam Sahih Muslim dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam bahawa Baginda bersabda: Sesungguhnya Allah azza wa jalla memaktubkan takdir sekelian makhluk sebelum dijadikan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun dan ‘ArashNya berada di atas air, dan termasuk ke dalam jumlah yang termaktub dalam Ibu Kitab ialah bahawa Nabi Muhammad adalah khatam sekelian anbia. (ibid. hal.9).
 
Dan dari al-‘Irbad bin Sariyah dari Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam: sabdanya: Sesungguhnya aku di sisi Allah adalah khatam anbiya’ walhal Adam terbujur dalam jasadnya iaitu terbujur sebelum ditiupkan roh padanya. (ibid. hal. 9-10).
 
Hadith-hadith yang menunjukkan kedudukan hakiki dan kelebihan nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam juga dibicarakan oleh al-Imam Suyuti (men. 911 Hijrah) dalam kitabnya al-Hawi lil-Fatawi, (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1421/2000) dalam jilid 2 hal.136 dan seterusnya. Beliau menulis antaranya:
 
Hadith dari Saidina ‘Umar bin al-Khattab, Anas, Jabir, ibn ‘Abbas, ibn ‘Umar, Abi Darda’, Abu Hurairan dan lainnya (meriwayatkan) bahawa nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam memberitahu yang Baginda itu tertulis (namanya) atas ‘Arash dan tiap-tiap langit, dan tiap-tiap pintu Syurga, atas daun-daun Syurga: ‘la ilaha illa’Llah Muhammadun Rasulullah’ Dan tidak termaktub yang demikian itu dalam alam malakut melainkan atas daripada nama-nama anbia lainnya [dan itu tidak lain] melainkan untuk para malaikat menyaksikannya dan [untuk mereka mengetahui] hal keadaan Baginda diutus kepada mereka[ juga selain daripada diutus kepada manusia].
 
Dan ibn ‘Asakir mengeluarkan riwayat daripada Ka’b al-Ahbar bahawa Adammemberi wasiat kepada anaknya Syith katanya: Tiap-tiap kali kamu berzikir menyebut nama Allah maka sebutkan juga dengannya nama Muhammad; sesungguhnya aku melihat nama Baginda itu termaktub atas tiang ‘Arash walhal aku di antara ruh dan jasad, kemudian aku mengerling lihat lalu aku dapati tidak ada mana-mana tempat di langit melainkan tertulis padanya nama Muhammad. Dan aku tidak melihat dalam Syurga sebuah istana dan bilik melainkan tertulis padanya nama Muhammad, dan aku melihat namanya tertulis atas leher bidadari… (hal 136-137 al-Hawi).
 
Imam al-Suyuti seterusnya menyatakan seperti berikut:
 
Dan al-Subki menyatakan dalam kitab karangannya bahawa Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada sekelian anbia –Adam dan nabi-nabi kemudiannya, bahawa Baginda salla’Llahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi bagi mereka dan Rasul atas mereka semuanya, dan boleh diambil dalil tentang yang demikian itu daripada hadith nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam ‘Aku sudah nabi walhal Adam [masih] antara ruh dan jasad’ dan hadithnya ‘Aku dibangkitkan kepada umat manusia seluruhnya’ (bu’ithtu ilan-nas kaffatan’). Katanya [yakni kata al-Subki]: Dan kerana ini Allah mengambil janji atas semua nabi-nabi untuk nabi Muhammad, seperti dalam firman Allah: [bermaksud] ‘Dan Allah mengambil perjanjian …adakah kamu berikrar dan mengambil sebagai perjanjian denganKu, mereka berkata kami berikrar, firmanNya Saksikanlah, Aku bersama kamu sebagai saksi’ [Ali ‘Imran.81][Kata Imam al-Suyuti]: Dikeluarkan hadith oleh ibn Abi Hatim dari al-Suddi tentang ayat itu, katanya: Tidak dibangkit seseorang nabi mulai dari Adam melainkan Allah mengambil janjinya supaya ia benar-benar beriman dengan Muhammad .Dan ibn ‘Asakir mengeluarkan hadith dari ibn ‘Abbas, katanya: Terus-menerus Allah mengutamakan dan mendahulukan nabiu Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Adam dan nabi-nabi selepas daripadanya …(ibid.II.137)
 
Dan al-Hakim mengeluarkan hadith dari ibn ‘Abbas katanya: Allah mewahyukan kepada ‘Isa: Berimanlah engkau den gan Muhammad dan suruhlah sesiapa yang bertemu dengan Baginda itu dari umatmu supaya beriman dengannya, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak jadikan Adam, Syurga, dan Neraka.
Kata al-Subki: Kita tahu melalui khabar [hadith] yang sahih hasilnya kesempurnaan –sebelum Adam dijadikan lagi- bagi nabi kita Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Tuhannya, dan Tuhan telah kurniakan kmepada Baginda itu nubuwwah dari waktu itu lagi [waktu Adam pun belum ada], kemudian Allah mengambil dari para nabi ikut janji untuk beriman dengan Muhammad, untuk memberitahu kepada mereka bahawa bagfinda itu terdahulu dean terkedepan daripada mereka, dan Baginda itu nabi dan rasul bagi mereka, dan pada makna mengambil janji itu ada makna istikhlaf [yakni para nabi lain itu bertindak atas nama Muhammad], kerana itu masuklah di dalamnya [dalam kata-kata tentangnya] lam al-qasam dalam ‘latu’minunna bihi’ dan ‘wa latansurunnahu’ [maknanya kamu benar-benar beriman dengannya dan kamu benar-benar menolongnya bila sampai masanya]. (ibid.II.137)
 
Kemudian Imam al-Suyuti seterusnya menyebut tentang kelebihan nabi s.a.w. diambil janji untuknya, bagaimana nabi-nabi lain menjadi makmum sembahyang di belakangnya pada malam Isra’ Mi’raj, kemudian bagaimana nabi ada dua wazir di langit Jibril dan Mika’il, dan di bumi dua, iaitu Abu Bakar dan ‘Umar, berdasarkan hadith yang dikeluarkan oleh ibn al-Mundhir, ibn Abi Hatim, al-tabarani, ibn Marduyah, dan Abu Nu’aim dalam ‘al-Dala’il’.
 
Pada tahap ini penulis ingin menukilkan catatan Dr GF Haddad dalam artikelnya “The Light of Muhammad” dalam http://www.abc.se/~m9783/nurn_e.html dan dalam artikelnya “The First Thing that Allah created was my nur” dalam http://www.abc.sel/~m9783/fiqhi/fiqha_e30.html;
 
Antara para ulama yang disebut oleh beliau yang membicarakan soal Nur Muhammad ialah:
 
bullet
Qadi ‘Iyad yang terkenal dengan kitab al-Shifanya,
bullet
Imam al-Suyuti dalam Tafsir Jalalainnya
bullet
Firuzabadi dalam Tanwir al-Miqbasnya atau tafsir ibn ‘Abbasnya
bullet
Imam Fakhru’d-Din al-Razi, mujaddid abad ke 6 Hijrah, dengan Tafsir al-Kabirnya
bullet
Qadi al-Baidawi dengan Tafsir al-Baidawinya
bullet
Al-Baghwi dengan Ma’alim al-Tanzilnya
bullet
Pengarang tafsir Abi Su’ud dengan huraiannya
bullet
Al-Tabari dengan Tafsir at-tabarinya
bullet
Pengarang Tafsir al-Khazin dengan huraiannya
bullet
Al-Nasafi dengan Tafsir al-Madariknya
bullet
Al-Sawi dengan syarahnya atas al-jalalain
bullet
Al-Alusi dengan Ruh al-ma’aninya
bullet
Ismail Haqqi dengan syarahnya atas Tafsir Ruh al-Ma’ani
bullet
Al-Qari dengan Sharah al-Shifanya
bullet
Suyuti dengan al-Riyad al-Aniqanya
bullet
Ibn Kathir dengan Tafsirnya
bullet
Qadi ‘Iyad dengan al-Shifanya
bullet
Al-Nisaburi dengan tafsirnya Ghara’ib al-Qur’an
bullet
Al-Zarqani dengan Sharah al-mawahib al-laduniyyahnya
bullet
Ibn Hajar dengan al-Isabahnya
bullet
Tirmidhi dengan Sunannya
bullet
Baihaqi dengan Daala’il al-Nubuwwahnya
bullet
Ibn Hajar Haitami dengan D ala’il al-Nubuwwahnya
bullet
Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad dengan kitab hadith mereka masing-masing yang memberi gambaran tentang nabi s.a.w.
bullet
Al-Hakim dengan al-Mustadraknya
bullet
Ibn Kathir dengan Tafsirnya dan Maulid Rasul Allahnya
bullet
Ibn Ishaq dengan Sirahnya
bullet
Dhahabio dengan Mizan al-I’tidalnya
bullet
Al-Tabari dengan al-Riyad al-Nadiranya
bullet
Al-Shahrastani dengan al-Milal wan-Nihalnya
bullet
‘Abd al-Haq al-Dihlawi dengan Madarij al-Nubuwwahnya (dalam Bahasa Parsi)
bullet
‘Abd al-Hayy al-Lucknowi dengan al-Athar al-marfu’ fi al-akhbar al-maudu’anya
bullet
‘Abd al-Razzaq dengan Musnadnya
bullet
‘Abidin (Ahmad al-Shami) men.1320 H. dengan komentarnya atas syair ibn Hajar al-Haitami al-Ni’;matul-Kubra ‘alal-‘Alamin 
bullet
Al-‘Ajluni (Isma’il bin Muhammad, men.1162) dengan Kashf al-Khafa’nya
bullet
Bakri (Sayyoid Abu al-hasan Ahmad ibn ‘Abd Allah men.abad ke3 H) dengan al-Anwar fi Maulid al-Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallamnya
bullet
Diyarbakri (Husain bin Muhammad, meninggal 966 H.) yang memulakan kitabnya Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfasi Nafisa dengan kata-kata Segala puji-pujian tertentu bagi Allah yang menjadikan cahaya nabiNya sebelum daripada segala sesuatu…”
bullet
Fasi (Muhammad ibn Ahmad men.1052 H.) dengan kitabnya Matali’ al-Masarrat
bullet
Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani men.561 H. dengan kitabnya Sirr al-Asrar fi Ma Yuhtahu ilaihi al-Abrar (hal.12-14 edisi Lahore) yang menyatakan: Ia memberi dalil bahawa Baginda adalah punca bagi segala sesuatu yang maujud, dan Allah Maha Mengetahui.
bullet
Haqqi (Ismail, men.1137) menukil hadith itu dalam tafsirnya Ruh al-Bayan
bullet
Ibn Hajar al-Haitami (men.974 H) dengan Fatawa Hadithiyyahnya
bullet
Syaikh Ismail al-Dihlawi (men.1246 H) dengan risalahnya Yek Rauzah di mana beliau menyatakan: Sebagaimana yang diisyaratkan oleh riwayat: perkara yang awal dijadikan Allah adalah nurku.
bullet
Sulaiman al-Jamal (men.1204 H) yang menukil hadith tentang nur Muhammad awal-awal dijadikan Allah, dalam syarahnya ke atas al-Busiri berjudul al-Futuhat al-Ahmadiyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah.
bullet
‘Abd al-Qadir al-Jili dengan Namus al-A’zam wa al.-Qamus al-Aqdam fi Ma’rifat Qadar al-Bani sallka’lahu ‘alaihi wa sallam menyebut hadith nur Muhammad.
bullet
Kharputi (‘Umar bin Ahmad, men.1299) dalam syarahnya terhadap al-Busiri menyebutnya.
bullet
Maliki al-Hasani (Muhammad ibn ‘Alawi) menyebutnya dalam syarahnya terhadap kitab al-Qari Hasyiyah Al-Maurid al-Rawi fi Maulid al-Nabi. Pada halaman 40 beliau menyatakan “Sanad Jabir adalah sahih tanpa pertikaian, tetapi ulama berbeza pendapat tentang teksnya kerana khususiahnya, Baihaqi juga meriwayatkan hadith itu dengan beberapa kelainan.”
 
Ini antara teks-teks yang disebut oleh beliau dalam tulisannya.
 
 
Kesimpulan:
 
Daripada pembentangan riwayat-riwayat di atas berdasarkan dokumentasi para mufassirin dan muhaddithin yang merupakan imam-imam dalam bidangnya, ada beberapa kesimpulan yang boleh dibuat. Antaranya ialah: bahawa Nabi Muhammad s.a.w. sudah ada hakikatnya, nurnya, sebelum sekelian makhluk dijadikan. Bahkan nurnyalah yang merupakan makhluk pertama yang dijadikan oleh Tuhan, sebagai kekasihNya. Ia juga punca bagi sekelian makhluk yang lain, baik alam tinggi atau alam bawah atau alam rendahnya, alam yang boleh dipandang dengan mata atau alam yang tidak boleh dipandang dengan mata. Ia makhluk yang terawal dicipta dan yang terkemudian sekali dibangkit dengan jasad dan rohnya dalam sejarah alam ini. Namun kewujudannya sebagai nabi dan rasul diketahui oleh sekalian nabi dan rasul dalam seluruh sejarah umat manusia, antaranya, khususnya jelas daripada hadith-hadith berkenaan dengan Isra’ dan Mi’raj yang banyak dinukil oleh ibn Kathir dalam Tafsirnya berkenaan dengan ayat awal Surah bani Isra’il.
 
Nampaknya tidak timbul keperluan untuk sesiapa terlintas pada mindanya dan terfikir bahawa ulama tafsir, hadith, sirah, syama’il dan lainnya yang berbicara berkenaan dengan nabi meminjam idea itu daripada mana-mana punca lain; tidak ada tercatit dalam sejarah berlaku “peminjaman” idea ini dalam ulama kita, kecuali ada penyelidikan kemudian yang mengikuti kaedah yang boleh diterima oleh ahli ilmu kita. Nampaknya ia timbul daripada sumber Ahlis-Sunnah sendiri. Ini jelas sampai para nabi dan rasul membuat perjanjian dengan Tuhan untuk beriman kepadanya dan membantunya bila ia zahir dalam sejarah perjuangannya. Riwayat tentangnya berada dalam generasi-generasi anbia dalam sejarah nampaknya diterima oleh ulama yang berotoritas dalam ilmunya. Dalam umat ini.
 
Kalau terlintas diminda bahawa ini adalah tidak munasabah pada akal, maka banyak perkara yang boleh dikatakan tidak munasabah pada akal yang berfikir secara ‘biasa’, misalnya teori quantum tentang dunia yang ada ini dengan benda-bendanya tidak “pejal’ bahkan ia samaada bersifat sebagai gelombang atau zarrah yang tidak menentu sifatnya, samaada gelombang atau zarrah. Yang kelihatan pejal, keras pada pandangan mata, pada neraca teori quantum adalah tidak demikian. Kalau mengikut fikiran secara ‘biasa” e=mc2 adalah tidak munasabah; tetapi pada ahlinya ia bukan sahaja ‘munasabah’ tetapi ada kebenarannya yang sangat nyata. Atau lihat sahaja benih manusia yang terpancar ke dalam rahim, kemudian selepas sembilan bulan lebih kurang ia menjadi manusia kecil yang bergerak, hidup, demikian seterusnya, kemudian berkata-kata dalam beberapa bulan. Orang boleh berkata sekarang: itu memang demikian. Ya, memang demikian yang berlaku dalam sunnah Tuhan. Demikian pula kita boleh sebutkan demikian sunnah Tuhan dalam hubungan dengan kejadian alam daripada nur Nabi kita s.a.w.
 
Kalau terlintas pada minda tentang hal yang demikian berlawanan dengan kejadian manusia, dan nabi juga, daripada tanah, maka perspektifnya ialah: pada hakikatnya tanah itupun asalnya daripada ‘nur’, yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk tanah dan lainnya. Tetapi asalnya daripada zat-sebelum-benda yang satu itu, nur itu, sebagaimana yang dihuraikan oleh kosmologi ulama Sunni kita. Allah memberi rahmat kepada mereka.
 
Dengan itu ‘nur’ nabi itu bukan sahaja maknawi, secara bahasa misalan, tetapi memang hakikatnya ia nur, yang melintasi sekelian nur, sehingga ia makhluk yang berupa nur yang daripadanya dijadikan nur-nur yang lain dan zat-zat yang lain.
 
Kalau sekarang mereka berbicara tentang alam dari segi elektron, proton, neutron, ‘quarks’, ‘photon’ dan apa lagi, maka pada kita, sekalian daripada itu semua, dasar segalanya adalah asalnya ‘nur’ nabi kita. Yang lain-lain itu, bila benar pada pengamatan ilmiah yang mentaati syarat-syaratnya boleh diterima.
 
Kalau terlintas untuk minda sesiapa membuat tanggapan bahawa ini pantheisma, ini juga tidak timbul, sebab pantheism adalah falsafah Barat yang baharu timbul dalam abad ke IX yang memaksudkan serba-Tuhan, semuanya juzuk-juzuk daripada Tuhan, walhal ini bukan demikian. Yang diajarkan ialah bahawa Tuhan menjadikan nur Baginda sebagai makhluk terawal, yang menjadi punca segalanya kemudian Baginda muncul dengan jasadnya dan rohnya bila tiba gilirannya di akhir zaman.
 
Inilah antara yang terlintas pada penulis yang kurang pengetahuan ini untuk menukilkan riwayat-riwayat dari punca-punca para ulama yang muktabar dalam umat ini untuk kefahaman dan pegangan bersama. Mudah-mudahan kita semua mendapat rahmat dan barakah dariNya.
 
Amin ya Rabbal-‘alamin.
Wallahu’a’lam.
 
 
 
===============================
 
*Penulis amat berterima kasih kepada Encik Aman Hj Hasan dan Encik ‘Abd al-‘Aziz Hj Hasan dari Pustaka Aman Press –jazaka’llahu khairan kathiran untuk mereka berdua – atas kebenaran menggunakan bahan-bahan yang ada dalam Aman Press untuk menjayakan penulisan ini. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...