Selasa, 20 Desember 2011

Saya Percaya Bahwa Cinta Adalah Buta


Saya memang percaya hal ini ketika saya menyasikan dan membuktikan sendiri. Kita sering melihat orang yang mencintai salah seorang alim, dia menerima semua yang dikatakan oleh orang alim tersebut, dia selalu membenarkan kesalahan-kesalahannya dan mencari-cari alasan untuk hal tersebut. Seolah-olah, di matanya orang alim tersebut adalah sosok uang ma’shum (terjaga dari kesalahan) dan tiadalah yang di ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya

Sering kita melihat seseorang yang terlanjur senang terhadap salah seorang penyair, dia benar-benar terpesona dengan setiap karya syairnya. Kasidah-kasidah yang di hasilkan oleh penyair walaupun hanya dari butiran-butiran  embun, namun di matanya seolah-olah dikelilingi butiran-butiran permata dan mutiara. Sering kita menyaksikan seseorang yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan, dia seolah-olah berubah menjadi seperti seorang penyembah berhala, bahkan ada orang yang mati gara-gara cintanya kepada seorang peremuan.


Dari kenyataan ini saya menyadari bahwa cinta jika benar-benar telah tertanam kuat di dalam hati, maka bisa membuat seseorang tidak bisa berpikir sehat dan objektif lagi, dia tidak bisa mengenali lagi kebaikan dan kemungkaran. Di matanya, kesalahan-kesalahan sang kekasih adalah kebaikan dan luka yang di alaminya bagaikan sebuah balsam yang di oleskan di tubuhnya.

Di matanya, kesalahan sang kekasih masih tetap bisa dipersepsikan lain dan perbuatan sang kekasih yang menyakitkan, dia pandang dari sisi lain. Di matanya, kebaikan sang kekasih yang hanya secuil tampak begitu banyak dan benar-benar “berkah’

“Suatu perbuatan yang menurutku tidak baik jika dilakukan oleh orang lain, namun jika yang melakukan perbuatan tersebut kamu, maka perbuatan tersebut di mataku berubah menjadi baik”

Ada seorang penuntut ilmu yang sangat mencintai gurunya, dia mengatakan bahwa sang guru terkenal dengan hafalannya yang kuat. Jika ada seorang penuntut ilmu yang sangat mencintai gurunya, maka jika sang guru sebenarnya hanya hafal hadits-hadits yang termuat dalam kitab Al-Arba’iin an Nawawiyah, maka dia akan menceritakan bahwa sang guru hafal hadits-hadits yang termuat dalam kitab hadits Kutubus Sittah.

Jika sang guru hanya pernah membaca kutab Zaadul Mustaqni, maka dia akan menceritakan bahwa sang guru telah membaca kitab Al-Mughni sebanyak lima kali. Kemudian dia juga menceritakan kepada anda tentang kecerdasan, sikap zuhud dan sikap wara’ sang guru, karna dia berbicara sebagai orang yang sangat mencintai sang guru.

Dan sebaliknya, kebencian membuat seseorang berbuat tidak adil dan tidak bisa melihat secara objektif. Kebencian bisa membakar seluruh kebaikan orang yang dibenci, di matanya prilaku-prilaku baik orang yang di bencinya tampak sebagai prilaku-prilaku tercela. Di matanya, kejujuran orang yang di bencinya tampak sebagai kebohongan dan penipuan, budi pekertinya yang luhur tampak sebagai kemunafikan, keberagamaanya yang kuat tampak hanya sebagai kedok untuk menutupi-menutupi kejelakan, kekayaan tampak seperti hasil penipuan dan keilmuan yang di milikinya tampak seperti suara gemerencing yang tidak berarti.

“Orang yang mencintai, pandangannya kabur terhadap segala aib dan kejelekan orang yang di cintai. Seperti halnya orang yang membenci, pandangannya sangat tajam dan mampu melihat seluruh kejelekan-kejelekan orang yang di benci.”

Wahai hamba-hamba ALLAH !!! Bersikaplah adil dan tenga-tengah di dalam mencintai dan membenci dan marilah kita meminta perlindungan kepada ALLAH dari bisikan hawa nafsu

ALLAH سبحانه و تعالى berfirman :

“…Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karna dia akan menyesatkan kamu dari jalan ALLAH…”(QS.Shaad:26)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...