Jumat, 16 Desember 2011

Kajian Tentang Untuk Apa Kita Berhaji ?

Saudaraku! Mungkin saat ini ayahanda, ibunda, atau salah seorang kerabat anda sedang menunaikan ibadah haji. Mereka sedang berusaha menyempurnakan keislaman mereka dengan menegakkan rukunnya yang kelima.

Anda bisa bayangkan, bila selama ini, mereka sedang membangun istana. Mereka merancang, istana mereka didirikan di atas lima pilar. Selama ini mereka telah berhasil memancangkan empat pilar, dan sekarang mereka sedang berusaha menegakkan pilar yang kelima. Dengan tegaknya pilar kelima, maka istana mereka akan sempurna dan siap dihuni.

Demikianlah gambaran tentang kedudukan ibadah Haji bagi agama mereka.

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ. متفق عليه

"Agama Islam tegak di atas lima pilar: Mengesakan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, puasa bulan ramadhan, dan Haji." (Muttafaqun 'alaih)

Tapi menurut anda: apa sih oleh-oleh paling istimewa yang akan di bawa pulang oleh ayahanda atau ibunda yang sedang berhaji?

Mungkin anda berkata: oleh-oleh yang paling istimewa adalah air zam-zam. Mungkin juga ada yang berkata: "perhiasan emas dari negeri arab," atau "kurma ajwah (kurma nabi)." Dan kali saja ada yang berkata: "yang paling istimewa ialah baju arab."

Saudaraku! Semua yang disebutkan di atas saat ini tidak lagi istimewa, karena dengan mudah anda mendapatkannya di Tanah Abang, atau bahkan di kota-kota kecil. Betapa banyak pertokoan yang special menyediakan berbagai oleh-oleh khas Arab Saudi.

Tidak perlu khawatir dan berkecil hati saudaraku! Masih ada oleh-oleh istimewa yang dapat dibawa pulang oleh keluarga anda. Oleh-oleh yang satu ini tidak mungkin di dapatkan selain di tanah suci Makkah. Hingga kapanpun oleh-oleh yang satu ini hanya ada di sana, dan tidak mungkin ada pengusaha yang bisa menyediakannya di tempat lain. Dan semoga keluarga anda benar-benar berhasil membawa pulang oleh-oleh tersebut, sehingga andapun pasti berbahagia karena mendapatkannya.

Besarkan hati anda, karena bila saudara anda benar-benar menunaikan haji sebagaimana mestinya - walaupun bekal uang yang ia bawa tidak cukup banyak-, ia pasti akan membawakan oleh-oleh itu untuk anda.

وأَذِّن فِي النَّاسِ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِنْ بَهِيمَة الأَنْعَام

"Dan kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rizki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (Qs. Al Hajj: 27-28)

Ulama' ahli tafsir menjelaskan bahwa maksud kata "menyaksikan manfaat" adalah mendapatkannya, bukan sekedar melihat, akan tetapi memperolehnya.

Ibnu Abbas menafsiri kata (مَنَافع) ayat ini dengan mengatakan: "Manfaat di dunia dan manfaat di akhirat, adapun manfaat di akhirat adalah keridloan Allah Subhanhu Wa Ta'ala, dan manfaat di dunia adalah mendapatkan pembagian daging korban, sesembelihan, dan perdagangan." (Ad Durrul Mantsur 6/37)

Dan Al Mujahid menafsirkan dengan berkata: "Manfaat adalah perdagangan dan setiap hal yang menjadikan Allah ridla dari urusan dunia dan akhirat." (Tafsir At Thobari 17/147)

Saudaraku! Ibadah haji bukan hanya suatu rentetan amalan sakral yang tidak diketahui manfaat dan hikmah dari pelaksanaannya. Akan tetapi ibadah haji –sebagaimana ibadah-ibadah lainnya- sarat dengan maksud-maksud dan hikmah-hikmah yang indah nan besar.

Betapa tidak! Dengan menunaikan ibadah haji, berarti saudara anda sedang menjalankan suatu training iman. Bila saudara anda berhasil menjalankan pelatihan ini dengan baik, maka mereka memiliki semangat iman, taqwa dan akhlaq nabi Ibrahim 'alaihissalam dan keluarganya. Indah bukan, sepulang dari haji, saudara anda memiliki iman, ketaqwaan, dan akhlaq nabi Ibrahim dan keluarganya.

Betapa bahagia dan beruntungnya diri anda bila memiliki saudara yang berjiwa luhur dan berakhlaq mulia seperti jiwa dan akhlaq nabi Ibrahim dan keluarganya 'alaihimussalam? Betapa damai dan bahagianya keluarga dan masyarakat anda bila di tengah-tengah mereka hidup beberapa sosok yang demikian adanya?

Ketika menjalankan ibadah haji, saudara anda pasti melakukan ritual "napak tilas" dengan perjuangan nabi Ibrahim dan keluarganya dalam membuktikan keimanan mereka kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala.

Setelah berpuluh-puluh tahun nabi Ibrahim 'alaihissalam menikahi Sarah, beliau belum kunjung dikarunia seorang putra. Saudara dapat membayangkan betapa bahagianya ketika beliau menikahi Hajar, beliau dikarunia seorang putra yang tampan, yang kemudian beliau beri nama Ismail 'alaihissalam.

Akan tetapi tatkala rasa kasih dan cinta menjadi seorang ayah, beliau mendapatkan ujian yang begitu berat dari Allah.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar menempatkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail (yang kala itu masih menyusui), di Makah (yang dahulu bernama pegunungan Faran). Beliau diuji, apakah kecintaannya kepada istri dan putranya melebihi kecintaannya kepada Allah Ta'ala atau tidak?

Beliau menempatkan keduanya di atas sebuah batu besar, yang terletas di atas sumur zam-zam (kala itu di tempat tersebut tidak ada air, juga tidak ada penghuninya). Lalu Nabi Ibrahim hanya memberi bekal untuk keduanya sekantung korma, dan sebejana air.
Setelah beliau meninggalkan keduanya dan tidak lagi dapat menyaksikan sosok mereka, beliau berdoa kepada Allah:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ. إبراهيم 37
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (Qs. Ibrahim: 37)

Subhanallah! Suatu ujian yang begitu berat berhasil beliau tunaikan dengan sempurna. Beliau berhasil membuktikan bahwa kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala melebihi kecintaan kepada selain-Nya.

(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه

"Tiga hal, yang bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia dapat mengeyam betapa manisnya keimanan: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain keduanya, ia mencintai seseorang tidak lain kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya bila hendak dicampakkan ke dalam kobaran api." (Muttafaqun 'alaih)

Saudaraku! Kerabat anda yang sedang menunaikan ibadah haji menjadi saksi sejarah bagaimana kota Makkah –walaupun telah mengalami kemajuan yang luar biasa- tetap saja tidak berubah, lembah yang gersang dan bebatuan gunung yang ada. Di tempat itulah Nabi Ibrahim 'alaihissalam meletakkan istri dan putranya tercinta.

Kegersangan Makkah tidak menjadikan beliau ciut hati untuk tetap menjalankan perintah Allah Subhanhu Wa Ta'ala.

Coba kembali anda membaca doa nabi Ibrahim di atas! Tidakkah doa nabi Ibrahim 'alaihissalam ini membuat anda keheranan dan berpikir?

Betapa dalam doanya, beliau tidak sedikitpun meminta agar istri dan putranya diselamatkan dari kehausan atau kelaparan. Padahal beliau mengetahui sepenuhnya bahwa di tempat ini tidak ada tetumbuhan, penduduk atau mata air. Walau demikian beliau tidak merisaukannya. Yang beliau harapkan dan mohon hanyalah agar Allah Ta'ala menjadikan istri dan keturunannya sebagai orang-orang yang menegakkan sholat.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak pernah mengawatirkan masalah rizki keluarganya, karena beliau yakin bahwa urusan rizki keluarganya telah ditentukan Allah Subhanhu Wa Ta'ala. Karenanya beliau tidak merasa perlu untuk merisaukannya. Yang beliau risaukan ialah amal mereka, karenanya beliau memohon agar keturunannya, Allah jadikan sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan sholat.
Doa beliau ini juga dapat menjadi pelajaran bagi anda bahwa bila anda dan keluarga anda patuh mendirikan sholat dengan benar, niscaya Allah Ta'ala akan memudahkan rizki anda.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى. طه 132

"Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Qs. Thoha: 132)

Ulama' ahli tafsir menjelaskan bahwa: bila seseorang menegakkan sholat dengan baik, dengan menyempurnakan rukun, wajib, dan khusu'nya, niscaya rizkinya lancar. Rizkinya akan ia peroleh dari jalan-jalan yang tidak ia sangka-sangka. (Tafsir At Thobary 16/236 & Ibnu Katsir 3/172)

Saudaraku! Silahkan anda menanti oleh-oleh iman dan ketakwaan ini dari saudara anda. Semoga semangat ini berhasil menyatu dalam jiwa mereka sepulang dari menunaikan ibadah haji. Semoga cahaya keimanan dan ketaqwaan mereka ini menerangi setiap derap kehidupan keluarga anda.

Saudaraku! Tatkala nabi Ibrahim 'alaihissalam bergegas meninggalkan istri dan putra tercintanya, istri beliau Hajar membuntutinya, dan bertanya: "Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi, apakah engkau akan tinggalkan kami di lembah ini, yang tidak berpenghuni, juga tidak ada sesuatu?" Hajar mengulang-ulang pertanyaanya ini. Walau demikian Nabi Ibrahim tidak menoleh sedikitpun.

Menyadari pertanyaanya tidak disukai oleh sang suami, Hajar mengubah pertanyaanya: "Apakah Allah yang memerintahkan engkau dengan hal ini?" Mendengar pertanyaan istrinya demikian ini, Nabi Ibrahim menjawab: "Ya." Dan mendengar jawaban suaminya ini, Hajar berkata: "Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami." (HR. Bukhori)

Allahu Akbar! Gambaran pasangan suami-istri yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Nabi Ibrahim tidak sudi menjawab pertanyaan istrinya yang mencerminkan lemahnya iman kepada Allah. Beliau tidak sudi mendengar dan menjawab pertanyaan: "Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi, apakah engkau akan tinggalkan kami di lembah ini, yang tidak berpenghuni, juga tidak ada sesuatu?"

Akan tetapi tatkala keimanan dan ketakwaan Hajar telah berkobar, sehingga beliau mengubah pertanyaanya menjadi: "Apakah Allah yang memerintahkan engkau dengan hal ini?" Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan senang hati menjawab pertanyaan ini.

Lemahnya fisik Hajar dan terbatasnya kemampuan beliau, tidak menjadikan iman beliau luntur. Iman Hajar tetap berkobar bahwa bila ia menjalankan perintah Allah, pasti mendapat pertolongan dan tidak akan sengsara karenanya.

Demikianlah saudaraku seyogyanya anda bersikap, dan semoga keluarga anda pulang dengan membawa cahaya iman dan ketakwaan semacam ini. Dengan demikian, yang ada dalam keluarga anda hanyalah: apakah Allah yang memerintahkan engkau dengan hal ini?

Saudaraku! Kuasakah anda untuk senantiasa berkata: "Kalau ini adalah benar perintah Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami" (?)

Saudaraku! Mungkinkah ayahanda, ibunda atau kerabat anda akan membawakan untuk anda oleh-oleh super istimewa ini? Akankah semboyan ini dapat terucap selalu dari lisan mereka sepulangnya dari menunaikan ibadah haji?

Mungkinkah pertanyaan: "apa untungnya?", "nasib kita bagaimana?", "Masa depanmu bagaimana?" dan pertanyan-pertanyaan serupa dapat sirna dari keluarga anda?

Semoga semboyan dan slogan: "Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami" benar-benar dapat menerangi setiap usaha dan perjuangan keluarga anda.

Saudaraku! Inilah oleh-oleh istimewa yang sedang diperjuangkan oleh saudara anda untuk dibawa pulang ke tengah-tengah keluarga anda. Karena itu, setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengkisahkan kisah perjuangan Hajar mencari air, dan berlari-lari antara gunung shafa dan marwah, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ

"Itulah kisah kenapa manusia (disyari'atkan) bersa'i, (berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah)" (HR Bukhori)

Saudaraku! Selamat menantikan oleh-oleh istimewa ini dari ayahanda, atau ibunda atau kerabat anda yang sekarang ini sedang menjalani ibadah haji. Wallahu a'alam bisshawab.

****
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...