Selasa, 20 Desember 2011

Kaidah-kaidah alam dan Syariat di Dalam Melihat Musibah


  •         Kaidah pertama, Hukum Perubahan dan Pergantian Keadaan.


Hal ini disebabkan ALLAH سبحانه و تعالى . Memang telah menakdirkan adanya dua hal yang bersifat pertentangan, jika satu hal telah mencapai batas puncaknya, maka akan muncul kebaliknya. Malam, jika telah habis masa keberadaannya dan telah menyelesaikan perjalanannya, maka akan di ganti dengan datangnya fajar, ini adalah hukum yang telah berlaku dan akan tetap berlaku. Karena siang dan malam masing-masing telah memiliki jangka waktu yang telah di tetapkan.


Hukum ini berlaku pada semua masa yang ada, hari, bulan, tahun, musim-musim yang ada, masa-masa berbuah, masa-masa panen, masa-masa mengandung, masa-masa sakit, masa-masa berkuasa, masa-masak kaya dan miskin, masa-masa sulit dan mudah, masa-masa bahagia dan sedih, masa-masa bertemu dan berpisah, masa-masa jaya dan terpuruk, kalah dan menang, berhasil dan gagal serta kondisi dan sifat-sifat yang lainya. Memang hal inilah yang di tetapkan oleh-NYA bagi penduduk bumi, yaitu pergantian dan perbuatan roda dunia sepanjang masa.



  •         Kaidah kedua, Musibah dan Kesedihan.


Bahwa Musibah dan kesedihan pada mulanya terasa sangat berat dan besar sekali, kemudian berjalannya waktu, maka akan mulai terasa ringan dan kecil. Kengerian sebuah musibah tidak akan berlangsung terus-menerus, tetapi pertama kali terjadi memang menimbulkan pukulan yang sangat berat dan menyakitkan, namun kemudian secara berangsur-angsur mulai mereda dan menghilang. Sama seperti sebuah luka, pada mulanya luka memang menganga, namun kemudian akan berangsur mengering dan akhirnya sembuh seperti sedia kala.

Kemampuan untuk bersabar pada pukulan pertama adalah yang membedakan antara orang yang kuat dengan yang lemah, antara orang yang memiliki kemuliaan dengan yang tidak. Seseorang yang tertimpah musibah jangan sampai mengira bahwa ia akan selamanya di dalam cengkraman musibah tersebut. Hal ini sama sekali tidak akan terjadi, karna musibah dan bencana tidak lain seperti tamu, yang pasti datang, yang pasti pergi kembali.

Di antara kelembutan dan kasih sayang ALLAH swt. Adalah memberikan kesiapan diri kepada para hamba-NYA untuk mampu berinteraksi dan mengahadapi berbagai musibah dan kesedihan, walaupun harus dengan sedikit kesulitan dan kelitihan. Karna musibah tidaklah seperti kematian, di turunkan untuk membinasakan seorang hamba, akan tetapi musibah diturunkan untuk menguji, menyeleksi, membersihkan, menyucikan, mendidik dan untuk menghapus dosa serta kesalahan.


  •         Kaidah Ketiga, Tanpa Musibah dan Bencana.


Seandainya tanpa adanya musibah dan bencana, maka anda tidak akan bisa merasakan besarnya nilai kenikmatan, juga anda tidak akan bisa merasakan nikmatnya keadaan bahagia dan nikmatnya kesehatan. Karna kenikmatan yang paling mahal dan manis adalah jika seseorang terlebih dahulu merasakan geetir dan pahitnya musibah. Seandainya dia tidak terlebih dahulu merasakan kegetiran dan kepahitan, maka dia tidak akan bisa merasa nikmat yang sedang dia dapatkan. Justru dia akan merasa jenuh, bosan dan akhirnya lupa bahwa sebenarnya dia sedang mendapatkan nikmat yang besar.


Padanya saat musibah menimpah dirinya maka pada saat itu dia akan sadar dan ingat akan hari-hari kebahagiaan yang sebelumnya pernah dia rasakan. Sehingga dia akhirnya mampu mengetahui besarnya kenikmatan tersebut, dia akan menggemgam erat-erat kenikmatan dan kebahagiaan tersebut mensyukuri serta mengikatnya dengan ketaatan kepada ALLAH سبحانه و تعالى


Jika seandainya seorang hamba tidak pernah merasakan musibah dan kesempitan, maka anda  bisa melihat kehidupannya akan dihantui dengan keresahan dan kegelisahan. Karna dirinya selalu dalam sebuah kondisi hidup yang tetap dan membosankan. Kebahagiaan dan keceriaan tidak akan bisa dirasakan kecuali oleh orang yang pernah tertimpa musibah dan kesempitan hidup.

Orang sehat tidak akan mengetahui nilai dan harga sebuah kesehatan kecuali jika dia sakit. Orang yang bebas tidak akan bisa dapat mengetahui harga dan nilai sebuah kebebasan kecuali jika dia di penjara. Begitu juga, seekor ular tidak kan merasakan nikmatnya santapan yang dia mangsa kecuali jika dia telah lapar.



  •  Kaidah keempat, Meringankan Beban Orang yang Tertimpa Musibah.


Sebuah musibah pasti memiliki batas tertentu yang telah ditetapkan, setiap jam yang dia lewati, maka berarti beban berat yang dia pikul semakin berkurang, karna sebenarnya dia sedang berjalan menuju pintu kemudahan dan kebahagiaan serta semakin jauh dari kawasan bencana dan kesedihan.

Diceritakan bahwa ketika Yahya bin Khalid al-Barmaki dipenjara, dia menulis sebuah surat untuk khalifah Harun bin ar-Rasyid seperti berikut, “Ketahuilah bahwa setiap jam yan lewat pasti mengambil haknya yang berada di dalam kesengsaraanku dan mengambil haknya yang berada di dalam kenikmatan dan kebahagiaanmu, begitu seterusnya, sampai nanti kita berdua bertemu di hadapan ALLAH سبحانه و تعالى



  •      Kaidah kelima, Kondisi Kesempitan telah sampai pada Puncaknya


Barangsiapa yang mau membaca kembali sejarah, mau mempalajari kejadiaan atau fenomena yang bisa dijadikan teladan dan peringatan, maka dia akan sadar bahwa puncak kesempurnaan sesuatu tidak lain merupakan awal munculnya kekurangan di dalamnya serta awal mula kesirnaannya, baik itu berupa nikmat maupun musibah, seperti yang di katakan oleh seorang penyair.


“Setiap sesuatu yang telah mencapai titik kesempurnaan yang telah di tetapkan untuknya, maka hal itu menjadi tanda bahwa sesuatu tersebut akan mengalami kekurangan.”


“Jika sesuatu telah sempurna, maka aka tampak kekurangan, jika sesuatu hal dikatakan telah sempurna, maka nantikan saja kesirnaanya.”


Jika gelap malam telah mencapai puncaknya, maka akan datang setelahnya cahaya fajar, jika rembulan telah purnama, maka dia akan berangsur berkurang kemballi, jika sinar matahari telah sempurna di siang hari dan telah sampai di tengah-tengah langit, maka dia akan mulai bergeser menuju tempat terbenam. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...