Selasa, 13 Desember 2011

Amalia Rehman Memeluk Agama Islam

Sebelum matahari muncul dari ufuk timur, Amalia Rehman membangunkan suaminya, Habib, putrinya yang berusia 14 tahun, Ilana, dan putranya yang berusia 11 tahun, Moosa, di ruang tamu untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. "Allahu akbar," kata Moosa dengan lantang, seraya menggetarkan bunyi "r", mengimami setiap anggota keluarga yang berbaris dalam dua shaf menghadap timur ke arah kota Mekkah. Ruangan tersebut hanya dikelilingi oleh tembok polos, dengan dua buah prasasti bertulisan Arab tergantung di dinding. "Allahu akbar," ulang Moosa dan seluruh anggota keluarga melanjutkan gerakan shalat. Setelah selesai shalat, Amalia membangunkan dua putra terkecilnya, Mikail yang berusia 7 tahun, dan Daaniel yang berumur 4 tahun, agar segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah (anak-anak yang belum baligh belum diwajibkan untuk shalat lima waktu, namun anak-anak dapat bergabung dengan keluarga untuk shalat berjamaah dalam salah satu atau kelima shalat wajib). Setelah menyisir rambut mereka, mengikat tali sepatu mereka, dan menghibur mereka agar tetap ceria dan bersemangat menjalani hari-hari bersekolah, Amalia berangkat ke sekolah Islam di north Austin dimana Amalia mengajar untuk menutup biaya pendidikan putra-putranya; Ilana bersekolah di sekolah umum di Leander. Sebelum melangkah keluar rumah, Amalia menutup kepalanya dengan sebuah jilbab satin berwarna hijau, kemudian menutup pakaiannya dengan kain jilbab panjang berwarna hitam, pakaian tradisional wanita Muslimah.

Rutinitas tersebut mungkin saja menjadi hal biasa yang selalu dilakukan oleh keluarga-keluarga Muslim di Amerika Serikat, namun kasus Amalia menjadi luar biasa. Amalia, yang kini berusia 43 tahun dan menetap di Leander, adalah seorang Yahudi kelahiran Israel yang kemudian memutuskan untuk berpidah keyakinan dan memeluk Islam sejak 20 tahun yang lalu. Alasannya bukan karena perselisihan Muslim dengan Yahudi, bukan karena Israel melawan Arab, dan bukan juga masalah politik. Semuanya karena masalah keyakinan. Dahulu, dia harus bersitegang dengan seluruh anggota keluarganya, berdebat dengan rekan-rekan Muslim, dan masyarakat untuk dapat menjalankan ibadah. Namun, dia mengatakan bahwa semuanya benar-benar terbayar lunas. "Pada usia 7 tahun, saya biasanya berdoa kepada Tuhan agar saya dapat menjadi orang terpandai di dunia, mengetahui segala hal," katanya sambil duduk untuk santap siang, menu makan siangnya terdiri dari brownies buatan sendiri dan cola diet. "Saya dapat mengatakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, bukannya saya mengetahui segalanya, namun saya telah menemukan segalanya, saya menemukan kebenaran dalam Islam.

Amalia dilahirkan dalam keluarga Yahudi, ibunya seorang Yahudi Amerika dari Mattapan, Mass, dan ayahnya berasal dari Israel. Saat menginjak remaja, ayahnya, Abraham Zadok, bertempur bersama pasukan bawah tanah yang membantu terciptanya negara Israel pada tahun 1948. Ia sekarang adalah seorang pria renta berumur 70 tahun yang tidak terlalu tinggi, Abraham mengenakan topi pemimpin orkestra berwarna hijau dan selalu ditemani oleh satu pak rokok Marlboro di dalam kantungnya. Saat berbicara, kumisnya yang lebar dan lebat mendominasi wajahnya yang kecil dan telah ditumbuhi keriput. "Jaman dulu, kota Yerusalem adalah milik orang-orang Arab," katanya dalam aksen Israel yang kental. "Kami tidak punya tempat tinggal saat pergi ke Yerusalem. Kaum Yahudi tidak punya makanan dan air minum, kami semua menderita."

Walaupun kedua orangtuanya berasal dari keluarga yang religius, mereka berdua membesarkan Amalia dan kedua saudara laki-lakinya sebagai Yahudi tradisional yang tidak ortodoks; mereka hadir di sinagog hanya pada hari raya, mereka juga mengonsumsi daging babi. Pada usia 13 tahun, Amalia memutuskan bahwa dia ingin menjadi seseorang yang lebih religius. "Dia adalah gadis yang ambisius," kata Abraham. "Dia selalu ingin menjadi yang terbaik, yang terpandai." Selalu ngotot dalam setiap usahanya, dia kemudian pergi mempelajari ajaran Yahudi dan berdebat dengan rekan-rekan satu keyakinan. Masih dalam pencarian keagamaan, Amalia kemudian mendaftar dalam kelas Talmud sembari berkuliah mengambil jurusan psikologi di universitas Chicago. Amalia memandang saat-saat tersebut sebagai saat-saat yang paling dia nikmati, mungkin karena berhubungan langsung dengan agama para nenek moyangnya. Akhirnya, dia kembali dibenturkan pada tembok yang sama yang pertama dia hadapi saat masih remaja. "Kaum Yahudi tidak mengutip Torah; mereka mengikuti apa kata rabbi, bukan firman Tuhan. Semuanya didasarkan pada siapa yang dianggap paling benar. Hal ini terlalu ambigu, membingungkan saya. Ini bukan agama sungguhan. Bukan ajaran yang benar."

Hingga kini, teman-teman dan keluarganya masih beranggapan bahwa Amalia memeluk Islam karena bujukan suaminya, Habib. Namun, perjalanan Amalia menemukan Islam justru dimulai jauh sebelum itu, tepatnya setelah dia dan keluarganya pindah ke California. Dia menjalin pertemanan dengan sejumlah pria Arab yang biasa mengunjungi stan buah kering dan kacang-kacangan milik ayahnya di pasar rakyat San Jose. "Dahulu, saya memandang rendah orang Arab," kata Amalia, seraya menuangkan segelas susu untuk anak bungsunya yang baru saja menghabiskan sepotong brownies. "Jika anda tumbuh di lingkungan Yahudi, anda akan berpikiran seperti itu. Hal itu sudah ditanamkan sejak masih anak-anak."

Disamping perasaan tersebut, Amalia menemukan dirinya semakin dekat dengan orang-orang Arab tersebut dan juga keyakinan mereka, kemudian Amalia sering menghabiskan waktu di apartemen mereka. "Satu hal yang saya catat mengenai orang-orang yang saya temui, walaupun saya memiliki prasangka buruk terhadap mereka, mereka berperilaku sangat baik dan santun satu sama lain – melihat hal itu, saya sangat ingin turut menjadi bagian dari mereka, sebuah bagian dari rasa saling memiliki atas sesuatu yang sangat agung." Dalam kehidupannya waktu itu, Amalia telah merasakan segalanya kecuali rasa saling menerima. Ajaran Yahudi di masa lalunya membuat Amalia tidak merasakan hubungan religius yang dalam, sekembalinya dari Chicago, hubungan dengan ibunya menegang. "Orang-orang mengatakan bahwa saya memeluk Islam karena disanalah satu-satunya tempat dimana saya merasa sangat nyaman, satu-satunya ajaran yang terbuka terhadap diri saya, dan tempat dimana segalanya dihalangi oleh keluarga saya." Amalia mengakui bahwa ada beberapa kebenaran dalam hal tersebut, dan dia bersyukur bahwa Allah telah menunjukkan jalan yang benar kepadanya sehingga dia dapat memeluk Islam.

Saat Amalia dan kawan-kawannya menonton televisi pada suatu sore, ada sebuah berita mengenai seekor bagal (hewan setengah kuda setengah keledai) betina yang melahirkan bayi bagal. "Itu merupakan sebuah pertanda akhir zaman," kata seorang pria. Satu pernyataan ini membuka pikiran Amalia terhadap sebuah aspek dalam Islam yang belum pernah dia ketahui sebelumnya – perjalanan untuk membuktikan kebenaran kitab Al Quran. Bara api pelajar dalam dirinya kembali menyala dan bergolak. "Pendekatan Allah kepada setiap manusia benar-benar sangat sesuai. Saya menemukan jalan Allah dengan jalan keingintahuan, rasa haus akan ilmu pengetahuan, rasa haus akan rahasia kehidupan dan kematian, serta makna hidup."

Hingga akhirnya pada suatu hari, Amalia berkata, "saya sedang mempertimbangkan untuk memeluk Islam." Ekspresi keterkejutan dan kegembiraan di wajah-wajah para teman Muslimnya langsung memantapkan hati Amalia. Walau, tentu saja, keluarganya tidak turut bahagia. Walaupun kedua orang tuanya mungkin tidak sepenuhnya mengetahui bahwa Amalia telah mengucapkan dua kalimat syahadat, syarat untuk menjadi seorang Muslim, mereka menyaksikan Amalia memiliki satu teman pria yang spesial. Amalia dan temannya, yang disebut sebagai "si Arab" oleh pihak keluarga, telah menikah selama enam tahun dan dikaruniai seorang putri, Ilana.

"Saya benci Muslim. Mereka kaum yang rendah. Mereka melempari orang Israel denga batu. Saya tidak memercayai mereka," kata Abraham dalam bahasa Inggris yang terpotong-potong. Amalia mengatakan bahwa semua orang yang mengenalnya menyebut dirinya orang gila. Ibunya tidak pernah berbicara lagi kepadanya dan meninggal beberapa tahun kemudian tanpa sempat berbaikan. "Ibunda Amalia membenci suami Amalia," kata Abraham. "Ibunya adalah orang yang sangat Zionis dan anti Islam."

Memastikan apa yang terjadi dalam fase kehidupan tersebut sangat sulit bagi Amalia. Amalia tidak membahas dengan ayahnya mengenai apa yang terjadi di tahun-tahun tersebut. "Dia (Amalia) selalu terbuka dan ramah, namun dia sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih. Tampaknya dia tidak punya kekhawatiran," kata Emma Barron, seorang teman dekat Amalia dari California.

Bertahun-tahun kemudian, Amalia bertemu dengan Habib, seorang Muslim kelahiran Pakistan. "Saya ingat dia pernah mengatakan bahwa Habib tampak lebih tua (9 tahun lebih tua) namun pria yang lebih tua memperlakukan wanita dengan lebih baik," kata Barron.

Dengan terpisahkan ruang dan waktu selama bertahun-tahun dan dengan mengarungi mahligai pernikahan barunya, keyakinan Amalia kian berkembang.

Hubungannya dengan keluarga sedikit berkembang namun tetap kaku, hubungan dengan para saudara laki-lakinya dibatasi. "Dalam pikiran mereka hanya ada kata penghianatan; mereka tidak melihatnya sebagai penemuan jati diri. Mereka mungkin lebih senang melihat saya menjadi biarawati ketimbang seorang Muslim. Mereka memandang kaum Muslim sebagai orang-orang anti-Yahudi, anti-Israel." Kata Abraham. "Dia seperti musuh saya. Saya rasa anda menuai apa yang anda semai. Saya mencoba memberikan yang terbaik untuk keluarga saya, namun saya gagal," kata Abraham dengan mendesah.

Amalia menyimpulkan bahwa kemarahan ibunya terhadap perpindahan agama yang dia lakukan mempengaruhi ayahnya pada tahun-tahun pertama, hal tersebut membuat tegang hubungan mereka. Kini, Amalia dan ayahnya menyebut hubungan mereka "baik-baik saja". "Jauh lebih sulit ketika ibunda Amalia masih hidup," kata Annette, 38, yang berganti keyakinan dari Kristen ke Yahudi saat menikahi Abraham. "Sekarang mereka sudah lebih dekat dan saling berkunjung, namun, Abraham masih tidak menyukai Habib."

Amalia dan Annette (yang lima tahun lebih muda) memiliki hubungan pertemanan yang dekat. Setelah bertahun-tahun, Annette menyaksikan perubahan dalam diri Amalia saat imannya bertambah kuat. "Dia sudah tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa. Dia benar-benar bercermin dan melihat kedalam dirinya ketika orang-orang disekelilingnya memandangnya dengan berbeda." Annette menggambarkan amalia sebagai seseorang yang berkemauan kuat, namun tetap tenang, sehingga mampu melewati setiap sindiran Abraham.

Kisah Amalia, walaupun tidak umum, tidaklah benar-benar aneh. Mohammed Ghounem, seorang Muslim kelahiran Mesir yang kini menetap di AS, menyebut sebuah situs internet bernama "Jews for Allah". Dia mengungkapkan bahwa anggotanya mencapai 400 orang, kebanyakan warga AS, yang mengikuti jalan yang mirip dengan Amalia. "Keluarga dan kawan-kawan menghadapi masa yang sulit ketika ada kerabatnya yang berganti keyakinan dari Yahudi dan memeluk Islam." Kata Ghounem. "Banyak yang akhirnya kehilangan hubungan keluarga dan dukungan keuangan."

Dalam komunitas Yahudi, pertanyaan mengenai perpindahan keyakinan menimbulkan beragam respon dari masyarakat. Rabbi Yosef Levertov dari Chabad House-Lubavich, sebuah jemaat ortodoks di universitas Texas di Austin, menyatakan bahwa hukum-hukum Yahudi sangat ketat mengenai pergantian keyakinan di mata Tuhan. "Hal tersebut tidak menggugurkan kewajiban mereka sebagai Yahudi. Mereka masih harus menjawab pertanyaan Tuhan." Rabbi Samual Barth, yang mengepalai jemaat Agudas Achim di Austin, mengatakan bahwa Yahudi yang berpindah keyakinan tidak dipandang sebagai orang yang hidup dalam kesalahan, namun mereka masih bisa dikuburkan di pemakaman Yahudi. Levertov tidak setuju mengutip hukum Yahudi yang ketat, namun mengatakan bahwa hal tersebut mungkin dapat dipertimbangkan atas dasar kasus per kasus. "Dahulu, orang-orang biasanya duduk dan melakukan shiva (perkabungan untuk orang yang meninggal) untuk Yahudi yang berpindah keyakinan, namun sudah tidak lagi dilakukan sekarang."

Secara keagamaan, berpindah keyakinan ke Islam dipandang oleh para pemuka Yahudi sebagai hal yang tidak terlalu serius karena Islam sendiri adalah agama yang berTuhan satu. Jika seorang Yahudi berpindah ke agama yang berTuhan banyak, maka reaksi yang timbul akan jauh lebih keras. Namun bisa juga sebaliknya. "Kaum Yahudi menaruh curiga terhadap Islam. Islam dipandang anti-Semit dan memerangi Israel, kata Barth. Levertov mengamini, dia menambahkan bahwa dirinya percaya dengan iklim perpolitikan sekarang, reaksi terhadap perpindahan keyakinan ke Islam akan lebih keras.

Dalam masa dimana komunikasi antara dua keyakinan sangat minim, ada seorang wanita yang, dengan tenang, tampaknya menjembatani kedua kubu. Namun, itu cara pandang Amalia. "Saya tidak melihat perpindahan keyakinan sebagai sesuatu yang menggabungkan dua hal yang berbeda. Saya melihatnya sebagai masalah keyakinan semata." Amalia memisahkan masalah politik dengan keagamaan, seperti halnya memisahkan gereja dan negara. Baginya, kericuhan di Timur Tengah tidak ada hubungannya dengan memilih Islam sebagai keyakinan.

Dalam beberapa hal mengenai Timur Tengah, mengenai masalah Yerusalem, misalnya, Amalia menjadi bermasalah. "Sebagai seorang Muslim, saya adalah pewaris Yerusalem, bukannya sebagai seorang Yahudi," kata Amalia saat mulai menyiapkan makan malam. "Saya rasa Yahudi tetap harus mendapatkan tempat, namun Yerusaleem harus berada di tangan kaum Muslim. Seperti halnya Mekkah.

Walaupun banyak hal yang rumit dalam hidupnya, Amalia menemukan kedamaian dalam dirinya, dia telah menemukan agama yang tepat. Dia telah menemukan jalan kebenaran. "Lucunya, saya dulu berdoa saat usia 7 tahun, kini saya berusia 40 tahun, sungguh jalan yang panjang untuk mendapatkan mimpi yang diinginkan semasa kecil."

Nicole Williams, seorang teman dan rekan kerja di sekolah Islam, menceritakan sebuah kisah yang membuat Amalia merasa nyaman dengan keadaannya yang tidak umum. Sebuah kartu diputar di sekolah dan ditandatangani setiap orang. Amalia agaknya menulis dalam ukuran besar sehingga seluruh tempat menjadi terisi. Salah seorang guru, yang merupakan orang kelahiran Palestina, menghampiri Amalia dan Nicole, lalu dengan bercanda mengeluhkan bahwa dia tidak mendapat cukup ruang untuk menulis. Amalia mempertahankan pendapatnya. Hal itu berlangsung selama sekitar satu menit hingga Nicole menengahi, "agaknya saya harus membangun tembok untuk memisahkan kalian!" Ketiganya kemudian tertawa lepas. (dn/jfa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...