Jumat, 12 Agustus 2011

Kajian Tentang Kaidah Bahasa Arab

بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ




Telah berkata pengarang kitab Al Ajrumiyah (As Syaikh As Shonhajy) rahimahullah:



Macam-macam Kalam

Al kalam adalah Lafadz yang tersusun yang berfaedah dengan bahasa arab. Kalam itu ada tiga bagian : Isim, fi’il, dan huruf yang memiliki arti.



Isim itu dikenal dengan khafadh, tanwin, dan kemasukan alif dan lam. Dan huruf khafadh itu adalah :




مِنْ, وَإِلَى, وَعَنْ, وَعَلَى, وَفِي, وَرُبَّ, وَالْبَاءُ, وَالْكَافُ, وَاللَّام


dan huruf qasam (sumpah) yaitu waw, ba dan ta.



Fiil itu dikenal dengan huruf




ِقَدْ, وَالسِّينِ وَسَوْفَ وَتَاءِ اَلتَّأْنِيثِ اَلسَّاكِنَة(ta ta’nits yang mati) ِ



Huruf itu adalah sesuatu yang tidak sah bersamanya petunjuk isim dan petunjuk fi’il.



Bab Al I’rab

I’rab itu adalah berubahnya akhir-akhir kalimat karena perbedaann amil-amil yang masuk atasnya baik secara lafadz atau taqdir. Bagian i’rab itu ada empat, yaitu rafa’, nashab, khofadh atau jar, dan jazm.

Setiap isim itu bisa rafa’, nashab, khafad dan tidak bisa jazm

Setiap fi’il itu bisa rafa’, nashab, jazm, dan tidak bisa khofadh.



Bab Mengenal tanda-tanda I’rab

1. Bagi rafa’ itu ada empat tanda, yaitu dhammah, waw, alif dan Nun

Adapun Dhammah, maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada empat tempat :

1. Pada Isim Mufrad,

2. Jama’ taktsir

3. Jama’ muannas salim, dan

4. fiil mudhari’ yang tidak bersambung di akhirnya dengan sesuatu



Adapun waw, maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada dua tempat :

1. Pada jama’ mudzakkar salim, dan

2. Isim-isim yang lima yaitu




أَبُوكَ, وَأَخُوكَ, وَحَمُوكَ, وَفُوكَ, وَذُو مَالٍ


Adapun alif, maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada isim-isim tatsniyyah yang tertentu

Adapun Nun maka ia menjadi tanda bagi rafa’ pada fi’il mudhari yang bersambung dengan dhamir tatsniyah, dhamir jama’, dan dhamir muannats mukhatabah.



2. Bagi Nashab itu ada lima tanda, yaitu Fathah, alif, kasrah, ya, dan hadzfunnuun (membuang nun).

Adapun fathah maka ia menjadi tanda bagi nashab pada tiga tempat :

1. Pada Isim Mufrad

2. Jama’ taksir, dan

3. fi’il Mudhari apabila masuk atasnya amil yang menashobkan dan tidak bersambung di akhirnya dengan sesuatupun

adapun alif, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada isim-isim yang lima contohnya :

رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ (aku melihat bapakmu dan saudaramu)dan apa-apa yang menyerupai contoh ini.

Adapun kasrah, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada jama’ muannats salim

Adapun ya, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada tatsniyah dan jama’

Adapun Hadzfunnuun, maka ia menjadi tanda bagi nashab pada fi’il-fi’il yang lima yang ketika rafa’nya dengan tetap nun.



3. Bagi Khafadh atau jar itu ada 3 tanda, yaitu kasrah, ya, dan fathah.

Adapun kasrah, maka ia menjadi tanda bagi khafadh pada tiga tempat:

1. Isim Mufrad yang menerima tanwin

2. jama’ taksir yang menerima tanwin, dan

3. jama’ muannats salim

adapun ya, maka ia menjadi tanda bagi khafadh pada tiga tempat:

1. Pada isim-isim yang lima

2. Isim Tatsniyah, dan

3. jama’

adapun fathah, maka ia menjadi tanda bagi khafadh pada isim-isim yang tidak menerima tanwin.



4. Bagi jazm itu ada 2 tanda, yaitu sukun dan al hadzfu (membuang).

Adapun sukun, maka ia menjadi tanda bagi jazm pada fi’il yang shahih akhirnya

Adapun al hadzfu, maka ia menjadi tanda bagi jazm pada fi’il mudhari yang mu’tal akhirnya dan pada fi’il-fi’il yang ketika rafa’nya dengan tetap nun.



Fashl (pasal)

Yang di i'rab itu ada dua bagian : ada yang di i’rab dengan harkat (baris) dan ada yang di i’rab dengan huruf.

Maka yang di i’rab dengan baris itu ada empat macam :

1. Isim Mufrad

2. Jama’ taktsir

3. Jama’ muannats salim, dan

4. Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung dengan akhirnya sesuatupun



Dan semuanya itu (yang di i’rab dengan baris) di rafa’kan dengan dhammah, dinashabkan dengan fathah, dan dijazmkan dengan sukun. Dan keluar dari itu tiga hal; jama’ muannats salim dinashabkan dengan kasrah, isim yang tidak menerima tanwin dijarkan (dikhafadhkan) dengan fathah dan fi’il mudhari’ yang mu’tal akhirnya dijazmkan dengan membuang akhirnya



Yang dii’rab dengan huruf itu ada empat macam :

1. Isim Tatsniyah

2. Jama’ mudzakkar salim

3. isim-isim yang lima, dan

4. fi’il-fiil yang lima, yaitu يفعلان وتفعلان ويفعلون وتفعلون وتفعلين


adapun isim tatsniyah, maka ia dirafa’kan dengan alif, dinashabkan dengan ya dan dijarkan dengan ya.

Adapun jama’ mudzakkar salim, maka ia dirafa’kan dengan waw, dinashabkan dengan ya dan dijarkan dengan ya.

Adapun Isim-isim yang lima, maka di rafa’kan dengan waw, dinashabkan dengan alif, dan dijarkan dengan ya.

Adapun fi’il-fi’il yang lima, maka dirafa’kan dengan huruf nun, dan dinashabkan dan dijazamkan dengan membuang huruf nun.



Bab tentang Fi’il-fi’il

Fi’il itu ada tiga :

1. Fiil Madhi

2. Fiil Mudhari’

3. Fiil Amr



Contohnya ضَرَبَ(madhi), (mudhari’) , وَيَضْرِبُ (amr’), وَاضْرِبْ



Maka Fiil Madhi itu difathahkan selamanya dan fiil amar dijazamkan selamanya dan fiil mudhari’ itu fiil yang di awalnya terdapat salah satu dari huruf tambahan yang empat yang terkumpul dalam perkataan anaytu (alif, nun, ya, dan ta). Fiil mudhari’ itu dirafa’kan selamanya kecuali adaa amil nashab atau jazm yang masuk padanya.



Maka amil nashab (huruf yang menashabkan) itu ada sepuluh, yaitu:




أَنْ, وَلَنْ, وَإِذَنْ, وَكَيْ, وَلَامُ كَيْ, وَلَامُ اَلْجُحُودِ, وَحَتَّى, وَالْجَوَابُ بِالْفَاءِ, وَالْوَاوِ, وَأَوْ.


Dan amil jazm itu ada delapan belas, yaitu :




لَمْ, وَلَمَّا, وَأَلَمْ, وَأَلَمَّا, وَلَامُ اَلْأَمْرِ وَالدُّعَاءِ, وَ "لَا" فِي اَلنَّهْيِ وَالدُّعَاءِ, وَإِنْ وَمَا وَمَنْ وَمَهْمَا, وَإِذْمَا ، وأي وَمَتَى, وَأَيْنَ وَأَيَّانَ, وَأَنَّى, وَحَيْثُمَا, وَكَيْفَمَا, وَإِذًا فِي اَلشِّعْرِ خاصة. (dan idzan pada syair tertentu)



Bab Tentang Isim-isim yang Dirafa’kan

Isim-isim yang dirafa’kan itu ada tujuh :

1. Isim Faa’il

2. Isim Maf’ul yang tidak disebut failnya (naaibul fa’il)

3. Mubtada

4. khabar mubtada

5. Isim Kaana dan saudara-saudaranya

6. khabar inna dan saudara-saudaranya

7. Dan yang mengikuti yang dirafa’kan, yaitu ada empat : Na’at, ‘athaf, taukid, dan badal



Bab Faa’il

Faa’il adalah isim yang dirafa’kan yang disebut sebelum faa’il itu fi’ilnya. Dan faa’il itu ada dua bagian, yaitu faa’il isim dzhahir dan faa’il isim dhamir.

Maka faa’il isim dzhahir itu seperti contoh




قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي,



Dan Faa’il isim dhamir itu ada 12, yaitu :




ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن



Bab Maf’ul yang tidak disebut Faa’ilnya (Naaibul faa’il)

Naaibul faa’il adalah isim yang dirafa’kan yang tidak disebut bersamanya faa’ilnya. jika fi’ilnya itu fi’il madhi maka didhammahkan huruf awalnya dan dikasrahkan apa yang sebelum akhirnya dan jika fi’ilnya itu fi’il mudhari’ maka didhammahkan huruf awalnya dan difathahkan huruf yang sebelum akhirnya. Naa’ibul faa’il itu ada dua, yaitu Naaibul faa’il isim dzhahir dan naaibul faa’il isim dhamir.

Maka naaibul faa’il isim dzhahir itu contohnya :




ضُرِبَ زَيْدٌ" وَ"يُضْرَبُ زَيْدٌ" وَ"أُكْرِمَ عَمْرٌو" وَ"يُكْرَمُ عَمْرٌو


dan naaibul faa’il isim dhamir contohnya:




ضُرِبْتُ وَضُرِبْنَا, وَضُرِبْتَ, وَضُرِبْتِ, وَضُرِبْتُمَا, وَضُرِبْتُمْ, وَضُرِبْتُنَّ, وَضُرِبَ, وَضُرِبَتْ, وَضُرِبَا, وَضُرِبُوا, وضُربن



Bab Mubtada dan khabar

Mubtada adalah isim yang dirafa’kan yang terbebas dari amil-amil lafadzh.

Khabar adalah isim yang dirafa’akan yang disandarkan kepada mubtada’. Contohnya :




"زَيْدٌ قَائِمٌ" وَ"الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ" وَ"الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ "


Mubtada itu ada dua bagian, yaitu mubtada isim dzahir dan mubtada isim dhamir

Maka Mubtada isim dzahir itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (seperti contoh di atas)

Mubtada isim dhamir itu ada dua belas :




أنا ونحن وأنتَ وأنتِ و وأنتما وأنُتم وأنتن وهو وهى وهما وهم وهن

Dan apa-apa yang menyerupai contoh ini(أنا قائم) و(نحن قائمون)contohnya :



Khabar itu ada dua bagian, yaitu khabar mufrad dan khabar ghair (bukan) mufrad.

Khabar mufrad contohnya زيد قائم

Khabar ghair mufrad itu ada empat :

1. Jar dan majrur

2. dzharaf

3. fi’il beserta faa’ilnya

4. Mubtada beserta khabarnya.




Contohnya: (زيد فى الدار وزيد عندك وزيد قام ابوه وزيد جاريته ذاهبة)



Bab Amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khabar

Amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khabar itu ada tiga macam, yaitu kaana dan saudara-saudaranya, innna dan saudara-saudaranya dan dzhanna (dzhanantu) dan saudara-saudaranya.



Adapun kaana dan saudara-saudaranya maka sesungguhnya mereka merafa’kan isism (mubtada) dan menashabkan khabar. Maka kaana dan suadara-saudaranya itu adalah : كَانَ, وَأَمْسَى, وَأَصْبَحَ, وَأَضْحَى, وَظَلَّ, وَبَاتَ, وَصَارَ, وَلَيْسَ, وَمَا زَالَ, وَمَا اِنْفَكَّ, وَمَا فَتِئَ, وَمَا بَرِحَ, وَمَا دَامَ,


dan apa-apa yang bisa ditashrif dari semuanya, seperti :




َ كَانَ, وَيَكُونُ, وَكُنْ, وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ,


Contohnya :




"كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا, وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا"

dan sesuatu yang menyerupai contoh ini.



Adapun inna dan saudara-saudaranya maka sesungguhnya mereka itu menashabkan mubtada dan merafa’kan khabar. inna dan saudara-saudaranya adalah :




إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ،

إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌcontohnya :



Makna inna dan anna adalah untuk taukid (penekanan), laakinna untuk istidraak (mempertentangkan), kaanna untuk tasybih (penyerupaan), laita untuk tamanniy (pengandaian), la’alla untuk tarajiy (pengharapan kebaikan) dan tawaqqu’ (ketakutan dari nasib buruk).



Adapun dzhanantu (dzhanna) dan saudara-saudaranya maka sesunggunya mereka itu menashabkan mubtada dan khabar karena keduanya itu (mubtada dan khabar) adalah maf’ul bagi dzhanna dan saudara-saudaranya. Dzhanantu dan saudara-saudaranya itu :




ظَنَنْتُ، وَحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ؛

ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًاcontohnya :



Bab Na’at (sifat)




Na’at itu mengikuti yang disifati pada keadaan rafa’nya, nashabnya, khafadhnya, ma’rifatnya, dan nakirahnya. Contohnya:




قَامَ زَيْدٌ اَلْعَاقِلُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْعَاقِلَ, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْعَاقِلِ.


Ma’rifat (kata khusus) itu ada lima:

أَنَا وَأَنْتَ1. Isim Dhamir (kata ganti), contohnya :

زَيْدٍ وَمَكَّةَ2. Isim Alam (nama), contohnya:



هَذَا, وَهَذِهِ, وَهَؤُلَاءِ3. Isim Mubham (kata tunjuk), contohnya :



اَلرَّجُلُ وَالْغُلَامُ4.Isim yang terdapat alif lam (al), contohnya :



5. apa-apa yang diidhafahkan kepada salah satu dari ini yang empat.



Nakirah (kata umum) adalah setiap isim yang tersebar (beraneka ragam) pada jenisnya ,tidak tertentu pada sesuatupun. Dan untuk memudahkannya, nakirah itu adalah setiap yang dapat اَلرَّجُلُ وَالْغُلَامُmenerima alif lam, contohnya



Bab ‘Athaf

Huruf ‘athaf ada sepuluh, yaitu :




اَلْوَاوُ, وَالْفَاءُ, وَثُمَّ, وَأَوْ, وَأَمْ, وَإِمَّا, وَبَلْ, وَلَا, وَلَكِنْ, وَحَتَّى فِي بَعْضِ اَلْمَوَاضِعِ


Waw, fa, tsumma, aw, am, imma, bal, la, laakin, dan hatta pada sebagian tempat.

Jika kamu athafkan dalam keadaan rafa’ maka rafa’akan, dalam keadan nashab maka nashabkan, dalam keadaan khafad maka khafadhkan, dalam keadaan jazm maka jazmkan. Contohnya :




"قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو, وَرَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَعَمْرٍو, وَزَيْدٌ لَمْ يَقُمْ وَلَمْ يَقْعُدْ



Bab Taukid (menekankan atau menguatkan)

Taukid itu mengikuti yang diperkuat dalam keadaan rafa’nya, nashabnya, khafadhnya, dan ma’rifatnya. Taukid itu telah tertentu lafadzh-lafazhnya, yaitu :




اَلنَّفْسُ, وَالْعَيْنُ, وَكُلُّ, وَأَجْمَعُ


Dan yang mengikuti ajam’u, yaitu




أَكْتَعُ, وَأَبْتَعُ, وَأَبْصَعُ


Contohnya :

قَامَ زَيْدٌ نَفْسُهُ, وَرَأَيْتُ اَلْقَوْمَ كُلَّهُمْ, وَمَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِينَ.



Bab Badal

Apabila dibadalkan isim dengan isim atau fi’il dengan fi’il maka mengikuti badalnya itu pada seluruh i’rabnya. Badal itu ada empat :




بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْء1.

َبَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ2.

َبَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ3.

َبَدَلُ اَلْغَلَطِ4.



Contohnya:




"قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ, وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ

Kamu ingin berkata al farasa (kuda) akan tetapi kamu ternyata salah,

رَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَmaka kamu ganti dengan zaidan menjadi



Bab Isim-isim Yang dinashabkan

Isim-isim yang dinashabkan itu ada lima belas:

1. Maf’ul bih

2. Mashdar

3. Dzharaf zaman

4. Dzharaf makan

5. Hal

6. Tamyiz

7. Mustatsna

8. Isim Laa

9. Munada

10. Maf’ul min ajlih

11. Maf’ul ma’ah

12. Khabar kaana

13. Isim inna

14. khabar saudara kaana dan isim saudara inna

15. Yang mengikut dinashabkan, yaitu ada empat : na’at, ‘athaf, taukid, dan badal



Bab Maf’ul bih

Maf’ul bih adalah isim yang dinashabkan yang dikenakan padanya suatu perbuatan.

ضَرَبْتُ زَيْدًا, وَرَكِبْتُ اَلْفَرَسَ Contohnya :



Maf’ul bih itu ada dua bagian, yaitu maf’ul bih dzhahir dan maf’ul bih dhamir.

Maf’ul bih dzhahir telah dijelaskan sebelumnya (pada bab-bab yang menjelaskan tentang dzhahir).

Sedangkan maf’ul bih dhamir itu terbagi menjadi dua:

1. Muttashil (bersambung)

Maf’ul bih dhamir muttashil ada dua belas, yaitu :




ضَرَبَنِي, وَضَرَبَنَا, وَضَرَبَكَ, وَضَرَبَكِ, وَضَرَبَكُمَا, وَضَرَبَكُمْ, وَضَرَبَكُنَّ, وَضَرَبَهُ, وَضَرَبَهَا, وَضَرَبَهُمَا, وَضَرَبَهُمْ, وَضَرَبَهُنَّ



2. Munfashil (terpisah)

Maf’ul bih dhamir munfashil ada dua belas, yaitu:




إِيَّايَ, وَإِيَّانَا, وَإِيَّاكَ, وَإِيَّاكِ, وَإِيَّاكُمَا, وَإِيَّاكُمْ, وَإِيَّاكُنَّ, وَإِيَّاهُ, وَإِيَّاهَا, وَإِيَّاهُمَا, وَإِيَّاهُمْ, وَإِيَّاهُنَّ.



Bab Mashdar

Mashdar adalah isim yang dinashabkan yang datang menempati tempat ketiga dalam tashrif fi’il. Contohnya :




ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا


Mashdar terbagi dua :




1. Lafdzhy

2. Ma’nawy




Jika lafazdh mashdarnya bersesuaian dengan lafadzh fi’ilnya maka itu trmasuk mashdar lafdzhy contohnya :




قَتَلْتُهُ قَتْلًا


Dan jika mashdarnya bersesuaian dengan makna fi’ilnya bukan lafadhznya maka itu adalah mashdar ma’nawy. Contohnya :




جَلَسْتُ قُعُودًا, ، وقمت وُقُوفًا



Bab Dzharaf Zaman (keterangan waktu) dan Dzaharaf Makan (keterangan tempat)

Dzharaf zaman itu adalah isim zaman yang dinashabkan dengan taqdir maknanya fi (pada). Contoh dzharaf zaman :




اَلْيَوْمِ, وَاللَّيْلَةِ, وَغَدْوَةً, وَبُكْرَةً, وَسَحَرًا, وَغَدًا, وَعَتَمَةً, وَصَبَاحًا, وَمَسَاءً, وَأَبَدًا, وَأَمَدًا, وَحِينًا


Dzharaf makan adalah isim makan yang dinashabkan dengan taqdir maknanya fi (pada). Contohnya:




أَمَامَ, وَخَلْفَ, وَقُدَّامَ, وَوَرَاءَ, وَفَوْقَ, وَتَحْتَ, وَعِنْدَ, وَمَعَ, وَإِزَاءَ, وَحِذَاءَ, وَتِلْقَاءَ, وَثَمَّ, وَهُنَا



Bab Haal

Haal adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan tata cara yang sebelumnya samar.

Contohnya :




جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا" وَ"رَكِبْتُ اَلْفَرَسَ مُسْرَجًا" وَ"لَقِيتُ عَبْدَ اَللَّهِ رَاكِبًا"


Haal itu pasti nakirah dan haal itu hanya terjadi setelah kalamnya sempurna dan shahibul haal itu pasti ma’rifat.



Bab Tamyiz

Tamyiz itu adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan dzat yang sebelumnya samar. Contohnya :




"تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا", وَ"تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا" وَ"طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا" وَ"اِشْتَرَيْتُ عِشْرِينَ غُلَامًا" وَ"مَلَكْتُ تِسْعِينَ نَعْجَةً" وَ"زَيْدٌ أَكْرَمُ مِنْكَ أَبًا" وَ"أَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا"



Tamyiz itu pasti nakirah dan tamyiz hanya terjadi setelah kalamnya sempurna



Bab Istitsna

Huruf istitsna itu ada delapan, yiatu :

إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا

Maka mustatsna (kalimat yang di istitsnakan) dengan huruf illaa dinashabkan jika

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"خَرَجَ اَلنَّاسُ إِلَّا عَمْرًا kalamnya taam mujab contohnya :



Jika kalamnya manfiy taam, maka boleh menjadikannya badal atau menashabkannya

مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"إِلَّا زَيْدًا karena istitsna contohnya :



Jika kalamnya naaqish (kurang), maka i’rabnya sesuai dengan amil-amilnya,. Contohnya:

"مَا قَامَ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"مَا ضَرَبْتُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ

Dan Mustatsna dengan khalaa, ‘adaa, dan haasyaa maka boleh kita menashabkannya atau menjarkannya. Contohnya :

"قَامَ اَلْقَوْمُ خَلَا زَيْدًا وَزَيْدٍ" وَ"عَدَا عَمْرًا وَعَمْرٍو" وَ"حَاشَا بَكْرًا وَبَكْرٍ".



Bab Laa

Ketahuilah! Bahwa apabila laa bertemu langsung dengan isim nakirah maka laa menashabkan isim nakirah dengan tanpa tanwin dan tidak mengulang-ulang laa. Contohnya : لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ

Jika laa tidak bertemu langsung dengan nakirah maka wajib mengulang-ulang laa.

Contohnya : لَا فِي اَلدَّارِ رَجُلٌ وَلَا اِمْرَأَةٌ

Jika mengulang-ulang laa (berarti bertemu langsung dengan nakirah), maka boleh mengamalkannya (menjadikan laa sebagai amil yang menashabkan) atau menyia-nyiakannya. Maka jika kamu suka, kamu katakan : لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةَ

Dan jika kamu suka, kamu katakan:




لَا رَجُلٌ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةٌ".



Bab Munada (yang dipanggil)

Munada itu ada lima, yaitu :

.1المفرد اَلْعَلَمُ,(nama-nama)

.2 وَالنَّكِرَةُ اَلْمَقْصُودَةُ,(nakirah yang termaksud)

.3 وَالنَّكِرَةُ غَيْرُ اَلْمَقْصُودَةِ,(nakirah yang tidak termaksud)

.4 وَالْمُضَافُ,(yang diidhafahkan)

.5 وَالشَّبِيهُ بِالْمُضَافِ (yang menyerupai mudhaf)

Adapun mufrad ‘alam dan nakirah maqsudah maka ia dimabnikan atas dhammah

يَا زَيْدُ وَيَا رَجُلُ dengan tanpa tanwin contohnya

Dan tiga munada sisanya itu tidak lain dinashabkan.



Bab Maf’ul min Ajlih

Maf’ul min ajlih adalah isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu perbuatan. Contohnya :




قَامَ زَيْدٌ إِجْلَالًا لِعَمْرٍو وَقَصَدْتُكَ اِبْتِغَاءَ مَعْرُوفِكَ.



Bab Maf’ul Ma’ah

Maf’ul ma’ah adalah isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sesuatu yang bersamanya dilakukan suatu perbuatan. Contohnya :

جَاءَ اَلْأَمِيرُ وَالْجَيْشَ وَاِسْتَوَى اَلْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ



Adapun khabar kaana dan saudara-saudaranya dan ismu inna dan saudara-saudaranya maka sungguh telah diberikan penjelasannya pada bab isim-isim yang dirafa’akan begitu juga dengan yang mengikut dinashabkan (na’at, ‘athaf, taukid, badal) telah dijelaskan disana.



Bab Isim-isim yang Dikhafadhkan (dijarkan)

Isim-isim yang dikhafadhkan itu ada tiga bagian :

1. Dikhafadhkan dengan huruf khafadh

2. Dikhafadhkan dengan idhafah

3. Dikhafadhkan karena mengikuti yang sebelumnya



Adapun yang dijarkan dengan huruf yaitu apa-apa yang dijarkan dengan huruf




مِنْ, وَإِلَى, وَعَنْ, وَعَلَى, وَفِي, وَرُبَّ, وَالْبَاءِ, وَالْكَافِ, وَاللَّامِ, dan dengan huruf sumpah yaitu

اَلْوَاوُ, وَالْبَاءُ, وَالتَّاءُِdan dengan مُذْ, وَمُنْذُ.


Adapun yang dijarkan dengan idhafah maka contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ dan yang dijarkan dengan idhafah itu ada dua, pertama yang ditaqdirkan dengan lam dan kedua yang ditakdirkan dengan min.

Maka yang ditaqdirkan dengan lam contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ

Dan yang ditaqdirkan dengan min contohnya: ثَوْبُ خَزٍّ وَبَابُ سَاجٍ وَخَاتَمُ حَدِيدٍ



-Allah Maha Mengetahui kebenaran-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...