Minggu, 29 Mei 2011

Sabda Rasulullah Tentang Salam

Assalammualaikum warrahmatullah wabarakatuh, Semoga Keselamatan atas kamu sekalian dan Rahmatullah dan BerkahNya. Ucapan dan ungkapan pertama ketika bertemu sorang muslim dengan muslim lainya. Kalimat itu juga sebagai pembuka perkenalan atau awal pembicaraan persaudaraan muslim.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : ’’Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu belumlah beriman sebelum saling menyayangi. Maukah aku tunjukan yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling sayang menyayangi ? Yaitu sebarluaskanlah salam diantara kamu sekalian ’’.( HR Muslim)

Tentunya kita ingin anak-anak kita memiliki sifat-sifat yang Rasulullah sebutkan diatas maka orang tua sejak dini telah mengajarkan anaknya untuk bisa mengucapkan salam walau kosa katanya belum jelas betul, setiap orang tua akan bangga bila anaknya belum bisa bicara tapi sudah bisa memberi salam dengan bahasanya sendiri yang cadel dan manja.    

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. pernah melewati anak-anak lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim)

Pembuka atau ta’aruf

Karena bimbingan orang tua dan kebiasaan yang baik menyebutkan salam dalam permulaan perkenalan atau perjumpaan seorang muslim dengan saudaranya, anak-anakpun dengan mudah mengikutinya. Disekolahpun demikian, para guru selalu memulai pelajaran dengan salam. Suasana yang sepi menjadi riuh dan gembira dengan sautan salam, mencairkan suasana.

Bila ada dua orang anak belum kenal bertemu maka memulainya dengan berjabat tangan dan ucapan salam, suasanapun menjadi akrab. Tak ada pembatas atau kasta diantara muslim satu dengan lainnya, semua sama dimata Allah.

Mengandung pendidikan etika  dan sosial

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : ’’Wahai sekalian manusia , sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkan tali persahabatan,dan shalatlah sewaktu orang sedang tidur; niscaya kamu sekalian  aka masuk surga dengan selamat ( HR. At Turmudzy.)

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menganjurkan sesama muslim untuk saling berinteraksi yang dimulai dengan salam berarti  siapapun dia semua orang muslim harus kita sayangi hargai dan dihormati dengan mendoakannya .

Untuk seorang anak pendidikan lewat mengucapkan salam ini sangat menyentuh hati, hati anak menjadi lembut dan membiasakan sifat santun dan ramah karena dalam mengucapkan salam dan membalas salam harus penuh keikhlasan dan kegembiraan.

Anak juga diajarkan etika memasuki rumah, tata krama dan menghormati orang yang ada didalam rumah.

An Nuur : 27. ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:

”Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa ra. datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali”. (Shahih Muslim No.4006)

Sebagai doa

Artinya adalah ; sesama muslim saling mendoakan untuk selamat , mendapat rahmat dan keberkahan dalam setiap langkah hidupnya. Terasa sekali adanya kasih sayang dan mengharapkan saudaranya selamat dan sejahtera selalu berarti tak ada rasa kebencian, permusuhan yang ada adalah saling menguatkan dalam keimanan, kebenaran dan kesabaran yang di gambarkan dalam surat Al Ashr ayat 3 .   

”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Pengikat tali silaturahim

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : ’’Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu belumlah beriman sebelum saling menyayangi. Maukah aku tunjukan yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling sayang menyayangi ? Yaitu sebarluaskanlah salam diantara kamu sekalian ’’.( HR Muslim)

Seorang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan Rosulnya ia akan mengikuti semua perintah dan tuntunan dari Allah da Rosulnya, agar mendapat ridho –Nya dan syafaat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, dan mengharap balasan surga, sebaik-baik tempat kembali. Karena sifat manusia bila berbuat baik adalah karena niat kepada apa yang diharapkannya.

Begitu pula anak-anak, ia akan melakukannya karena orang tua telah memberikan penjelasan dan pembiasaan juga mengharapkan ridho orang tua dan rido Allah subhanahu wa ta'ala.

Dari Anas r.a. berkata; ’’ Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda kepadaku : Wahai anakku, bila kamu datang pada keluargamu maka ucapkanlah salam niscaya kamu dan keluargamu mendapat barakah.’’[ HR. At Tumudzy]

Berbahagianya persaudaraan hanya dengan satu ucapan salam bisa untuk semua orang yang ada dihadapannya dan balasan salamnya berlipat ganda dan bergemuruh mengikat semua yang hadir menjadi satu dan hati bersemangat.

Pada saat itu kita dapat merasakan kebesaran Islam lewat ikatan silaturahimnya dan ikatan hati menjadi kekuatan kesatuan umat Islam yang tidak dimiliki oleh agama dan bangsa lain. Hati manusia tidak bisa diikat dengan harta dan atau kekuatan, hanya  Allah yang bisa menghimpunnya .

Saudaraku, betapa banyaknya umat muslim yang berpaling dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian menggantinya dengan kebiasaan orang-orang kafir. Lihatlah bagaimana kebiasaan mereka dalam berpakaian, berkata, tata cara makan, dan pola pikir yang sangat jauh dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mirip kebiasaan orang-orang kafir.

Pembaca yang budiman, tidakkah kita pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Maka kita semestinya bersemangat dalam melakukan kebaikan dan menghidupkan serta menyuburkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saudariku seakidah, menebar salam antar umat muslim adalah salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya setiap diri menumbuhkan kebiasaan yag mulia ini pada diri sendiri dan lingkungannya.

Dalam Shahih Muslim (54) disebutkan: Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.”

Di dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan diantara syarat masuk surga adalah keimanan kemudian menggantungkan keimanan dengan saling cinta-mencintai sesama muslim, dan itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan salah satu caranya, yaitu menebarkan salam antara sesama muslim.


Wajibnya Menjawab Salam

Saudaraku seiman, jika ada yang mengucapkan salam kepada kita sedang kita dalam kondisi sendiri, maka kita wajib menjawabnya karena menjawab salam dalam kondisi tersebut hukumnya adalah fardu ‘ain. Sedang jika salam diucapkan pada suatu rombongan atau kelompok, maka hukum menjawabnya adalah fardu kifayah. Jika salah satu dari kelompok tersebut telah menjawab salam yang diucapkan kepada mereka, maka sudah cukup. Sedang hukum memulai salam adalah sunnah (dianjurkan) namun untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah, jika sudah ada yang mengucapkan maka sudah cukup.

Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Adab Mengucapkan Salam

1. Mengucapkannya Dengan Sempurna

Pembaca, semoga Allah merahmatiku dan merahmati kalian semua, sangat dianjurkan bagi kita untuk mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.”

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Imran bin Hushain radiallau ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan , ‘Assalaamu’alaikum’. Maka dijawab oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi salam, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’. Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh’.” (Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195, dan At-Tirmidzi no. 2689 dan beliau meng-hasankannya).

2. Memulai Salam Terlebih Dahulu

Saudariku di jalan Allah, memulai mengucapkan salam kepada orang lain adalah sangat dianjurkan. Hendaknya yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberi salam kepada yang sedang duduk, dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, serta yang berkendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Hal tersebut sejalan dengan hadist dari Abu Hurairah. Pengucapan salam yang berkendaraan kepada yang berjalan adalah sebagai bentuk syukur dan salah satu keutamaannya adalah agar menghilangkan kesombongan.

Dalam hadits tersebut, bukan berarti bahwa apabila orang-orang yang diutamakan untuk memulai salam tidak melakukannya, kemudian gugurlah ucapan salam atas orang yang lebih kecil, atau yang tidak berkendaraan, dan semisalnya. Akan tetapi Islam tetap menganjurkan kaum muslimin mengucapkan salam kepada yang lainnya walaupun orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada orang yang berkendaraan, sebagaiman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559)

Salah satu upaya menyebarkan salam diantar kaum muslimin adalah mengucapkan salam kepada setiap muslim, walaupun kita tidak mengenalnya.

Hal ini didasari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu ‘anhuma, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam bagaimana yang bagus?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39)

3. Mengulangi Salam Tatkala Berjumpa Lagi Walaupun Berselang Sesaat

Bagi seseorang yang telah mengucapkan salam kepada saudaranya, kemudian berpisah, lalu bertemu lagi walaupun perpisahan itu hanya sesaat, maka dianjurkan mengulang salamnya. Bahkan seandainya terpisah oleh suatu pohon lalu berjumpa lagi, maka dianjurkan mengucapkan salam, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon, dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah dia mengucapkan salam (lagi).” (HR. Abu Dawud: 4200, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4650, dan lihat Silsilah Shohihah: 186)

4. Tidak Mengganggu Orang yang Tidur Dengan Salamnya

Dari Miqdad bin Aswad radiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Kami mengangkat jatah minuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena beliau belum datang), kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam datang di malam hari, maka beliau mengucapkan salam dengan ucapan yang tidak sampai mengganggu/ membangunkan orang tidur dan dapat didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).” (HR. Timidzi: 2719 dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam Adab Az-Zifaf hal. 167-196 cet. terbaru)

5. Tidak Memulai Ucapan Salam Kepada Orang Yahudi dan Nasrani

Dari Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mengucapkan salam lebih dahulu kepada Yahudi dan Nashrani, dan bila kalian bertemu mereka pada suatu jalan maka desaklah mereka ke sisi jalan yang sempit.”

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia dan unggul dari yang lainnya. Jika mereka mengucapkan salam kepada kita, maka balaslah salamnya dengan ucapan ‘Wa ‘alaikum’.

6. Berusaha Membalas Salam Dengan yang Lebih Baik atau Semisalnya

Maksudnya, tidak layak kita membalas salam orang lain dengan salam yang lebih sedikit. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Kebiasaan Para Sahabat Berjabat Tangan

Adalah kebiasaan para sahabat jika mereka berjumpa maka saling berjabat tangan antar satu dengan yang lain. Maka apabila kita bertemu dengan seorang teman, cukupkanlah dengan berjabat tangan disertai dengan ucapan salam (Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh) tanpa berpelukan kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian, karena memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik radiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Apabila sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saling berjumpa, maka mereka saling berjabat tangan dan apabila mereka datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.” (HR. At-Tabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 97 dan Imam Al-Haitsami berkata dalam kitab Majma’uz Zawaa’id VIII/ 36, “Para perawinya adalah para perawi tsiqah.”)

Saudaraku muslimah, yang berusaha meniti jalan kebenaran, hendaklah adab-adab di atas kita jaga. Kita berusaha untuk menanamkannya pada diri kita, memupuknya, memeliharanya serta mengajak orang lain kepadanya. Semoga Allah, Dzat yang membalas kebaikan sebesar dzarrah dengan kebaikan dan membalas keburukan sebesar dzarrah dengan keburukan memberikan kita keistiqamahan untuk senantiasa berjalan di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a'lam.

Maraji:

   1. Terjemah: Adab Harian Muslim Teladan. ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani. Pustaka Ibnu  Katsir. Cetakan pertama. 2005.
   2. Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 7. Shofar 1428 H.
   3. Catatan Kajian ‘Kitabul Jami’ min Taudhiihul Ahkam min Buluughul Maraam’.
   4.  bunyan.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...