Sabtu, 31 Oktober 2009

Spirit Memimpin


Memimpin adalah pekerjaan mulia, bila pelakunya jujur. Sebab dengannya ia akan mendapatkan kepercayaan. Lebih dari itu ia akan mendapatkan pahala yang besar, sebab yang ia tolong bukan orang perorang, melainkan sejumlah besar manusia. Karenanya Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada pemimpin yang adil bahwa kelak ia akan termasuk golongan yang dilindungi dari terik yang sangat panas di hari kiamat. Untuk itu tidak cukup seorang pemimpin sekedar bermodal uang, karena kebutuhan rakyat bukan hanya uang. Banyak orang salah paham tentang kepemimpinan.

Sebagian mengira bahwa yang penting dalam memimpin adalah bagaimana membuat rakyat sejahtera secara materi. Bila ini target yang diperjuangkan pemimpin, maka ia akan menjadikan kegiatan pokoknya semata mengejar materi. Pemasukan negara ditingkatkan. Adapun sisi lainnya seperti moral dan agama diabaikan. Akibatnya rakyat menjadi kaya secara materi namun kering dari segi ruhani. Penelitian membuktikan bahwa banyaj rakyat yang hidup di negara-negara kaya menderita secara psikologis. Padahal mereka dari segi materi terpenuhi. Diantara penyakit yang banyak menimpa masyarakat kaya adalah bunuh diri. Ini menunjukkan bahwa kekayaan secara materi bukan satu-satunya target kepemimpinan.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang penting adalah bagaimana membuat negara menjadi maju secara teknologi. Ini juga tidak menjamin kebahagiaan rakyatnya. Teknologi bukan segala-galanya bagi kemanusiaan. Bahkan boleh jadi kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pembangunan moral justru akan melahirkan bencana bagi manusia. Tidak sedikit masyarakat yang maju secara teknologi, mereka mengalami berbagai penderitaan. Banyak teknologi digunakan untuk membunuh dan berbuat jahat. Dari sini nampak bahwa kepemimpinan bukan hanya berpikir tentang teknologi melainkan harus berpikir secara utuh bagaimana menyelamatkan kemanusiaan dalam negerinya.

Sebagian yang lain melihat bahwa yang penting bagaimana membuat negara menjadi kuat dan ditakuti oleh negara-negara lain. Pemimpin seperti ini cenderung akan sibuk memperhatikan pembangunan militernya. Dan biasanya dia tidak akan perhitungan untuk berkorban demi peningkatan persenjataan. Tidak hanya itu ia akan berusahan untuk menakut-nakuti negara lain supaya tunduk di bawahnya. Dalam dirinya tertanam kerakusan untuk berkuasa. Pemimpin seperti ini hadir bukan membawa rahmat, melainkan membawa ancaman bagi kemanusiaan.

Kita tidak butuh pemimpin seperti yang kita gambarkan di atas. Kita butuh pemimpin yang bertanggungjawab, adil dan jujur. Sebab persepsi kepemimpinan yang kita gambarkan tadi adalah persepsi materialisme. Sementara manusia bukan hanya makhluk materi melainkan juga ruhani. Karena itu sosok kepemimpinan yang baik dan membawa rahmat bukan terletak pada idealisme materialistik yang menggebu-gebu, melainkan terletak pada kepribadiannya yang penuh tanggung jawab. Berbagai contoh kepemimpinan bermunculan dalam sejarah. Namun yang paling berhasil bukan karena kekayaan negerinya, melainkan karena kejujurannya dan tanggung jawabnya yang tinggi. Dari sini kita ambil kesimpulan bahwa masalah pemimpin adalah masalah moral, sekaligus masalah iman. Sebab semakin kuat iman seorang pemimpin pasti akan semakin baik moralnya. Bila moralnya baik, maka rakyatnya pasti sejahtera. Wallaahu a’lam bish shawab. (Dr. Amir Faisol Fath, sumber : Majalah Tatsqif edisi 37)

Zionis Bangun Tembok Rasis di Perbatasan Mesir


Salah satu stasiun radio resmi milik Israel memberitakan upaya dari PM. Benyamin Netanyahu yang meminta kementrian Militer, Transportasi dan Keamanan dalam Negeri untuk mewujudkan agenda pembangunan tembok pembatas di perbatasan Mesir. Alasan pembangunan itu adalah untuk menutup masuknya orang asing secara ilegal melalui perbatasan. Dalam siarannya kemudian diberitakan, langkah-langkah awal yang akan ditempuh untuk mewujudkan proyek rasis itu. Langkah pertama adalah dengan ujicoba pembangunan di beberapa lokasi khusus di perbatasan dengan jarak tembok yang pendek, yang pada tahun berikutnya akan disempurnakan hingga membentengi seluruh perbatasan.

Sumber dari radio Zionis ini kemudian memberitakan, langkah yang diambil Netanyahu didapat dari pertemuan khusus terkait pembicaraan solusi strategis untuk menutup total masuknya orang asing secara ilegal. Dalam pertemuan itu juga tengah dibicarakan, kesepakatan memberikan sanksi berat bagi warganya yang mempekerjakan dan menjamin keberadaan orang asing non legal.

Sementara itu di hari yang sama, Rabu (28/10) sebanyak 5 orang warga Palestina terluka ketika berupaya menghalangi Zionis dengan buldosernya menyapu rumah-rumah penduduk di wilayah Hebron, Selatan Tepi Barat.

Sumber dari Palestina kemudian menyebutkan, alat-alat berat militer Israel hari itu memaksa masuk ke wilayah Hebron dan mulai melakukan penghancuran dan merobohkan rumah-rumah warga Palestina. Diwaktu yang sama terjadi bentrokan yang menyebabkan terlukanya 5 orang warga, empat dari mereka adalah perempuan.

Masih dalam pemberitaan pendudukan Yahudi. Dari wilayah Selatan Hebron, dilaporkan dua kepala keluarga dipaksa hengkang dan mengosongkan rumah mereka, sebelum kemudian rumah tersebut dirobohkan dan rata dengan tanah. (sn/ism, eramuslim)

Kamis, 29 Oktober 2009

Belajar dari Umar bin Abdul Aziz

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Belajar dari Umar bin Abdul Aziz cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Belajar dari Umar bin Abdul Aziz, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.

Rabu, 28 Oktober 2009

Organisasi Ekstrim Israel Mulai Ubah Al-Aqsha Jadi Kuil Yahudi


Pemerintah penjajah Israel di kota Al-Quds (Jerusalem) menegaskan akan melanjutkan politiknya meyahudikan masjid Al-Aqsa dan mengubahnya menjadi kuil Yahudi. Yakni dengan cara mengizinkan warga yahudi menistakan masjid Al-Aqsha dan yahudi menyebutnya itu sebagai "kunjungan biasa".

Itu terjadi setelah bentrokan pada Ahad (25/10) antara warga Palestina yang berjaga di masjid dengan pasukan Israel yang melepaskan tembakan peluru karet, bom suara, dan gas air mata.

Sementara itu, rabi-rabi Yahudi radikal dan politikus Israel melakukan aksi kerusuhan di Al-Quds dengan menyebarkan seruan serangan ke masjid Al-Aqsha.

Demikian juga dengan lembaga-lembaga agama radikal Israel “Organisasi HAM di Jabal Haikal” melakukan pertemuan Senin lalu di kota Al-Quds yang diikuti oleh tokoh agama dan anggota parlemen, Knesset, yang menegaskan pentingnya memasuki dan merangsek masjid Al-Aqsa.

Bahkan tokoh agama yahudi itu memberikan izin untuk menaiki masjid Al-Aqsha. Seorang tokoh Yahudi radikal, Nakhom Rabinovets menegaskan, “Masuknya ribuan warga yahudi ke masjid suci Al-Aqsha yang merupakan bukit haikal membuktikan kepada pemerintah Israel dan polisinya dan kepada seluruh dunia bahwa kami tidak akan mengalah dari tempat suci kami.” (bn-bsyr, infopalestina.com)

Air Mani (sperma) Suci Atau Najis

Tanya: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Pak Ustadz saya ingin tahu hukum sperma itu najis atau bukan? Karena saya bingung mendengar kajian di radio, ada yang menyatakan bahwa sperma itu najis jadi harus dibersihkan dengan di cuci, Namun ada yang menyatakan bahwa sperma/mani itu suci tapi kalau terkena baju cukup dibersihkan saja tidakperlu dicuci. Mohon penjelasan, jazakumulloh khoir. katsiran. (Nur Rochman Syafi'i)


Jawab: Wa'alaikumsalamwarahmatullahi wabarakatuhu. Yang lebih kuat dari pendapat ulama bahwa mani adalah suci.
Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata::
وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ
"ٍSungguh aku dahulu menggosoknya (mengeriknya) dari baju Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau shalat dengannya" (HR. Muslim)
Kalau mani itu najis maka tidak cukup hanya menggosoknya, akan tetapi harus dengan membersihkan semuanya dengan air.
Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:
الأصل وجوب تطهير الثياب من الأنجاس قليلها وكثيرها فإذا ثبت جواز حمل قليله في الصلاة ثبت ذلك في كثيره فإن القياس لا يفرق بينهما
"Pada asalnya wajib membersihkan pakaian dari semua najis sedikitnya dan banyaknya, maka apabila diperbolehkan yang sedikit di dalam shalat maka diperbolehkan juga banyaknya, karena qiyas tidak membedakan antara keduanya" (Majmu Al-Fatawa 21/589)
Namun yang lebih utama adalah membersihkan air mani dengan air karena meski suci mani adalah sesuatu yang menjijikkan, seperti halnya dahak.
Sebagaimana ucapan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ النُّخَام وَالْبُزَاقِ أَمِطْهُ عَنْكَ بِإِذْخِرَةٍ .
"Dia (mani) itu seperti dahak dan ludah, hilangkanlah dengan idzkhirah (sejenis rumput yang harum baunya)" (Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthny di dalam As-Sunan 1/225 no:448 , cet. Mu'assasatur Risalah)
Oleh karena itu terkadang 'Aisyah radhiyallahu 'anhaa membersihkan air mani tersebut dengan air, dari Sulaiman bin Yasaar rahimahullah beliau berkata:
سألت عائشة عن المني يصيب الثوب فقالت كنت أغسله من ثوب رسول الله صلى الله عليه و سلم فيخرج إلى الصلاة وأثر الغسل في ثوبه بقع الماء
"Aku bertanya kepada 'Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab: Dahulu aku mencucinya dari pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau pergi shalat dan bekas cucian di pakaiannya berupa noda air" (Muttafaqun 'alaihi).
Berkata Ibnu 'Abbaas radhiyallahu 'anhuma:
إذا احتلمت في ثوبك فأمطه بإذخرة أو خرقة ولا تغسله إن شئت إلا أن تقذر أو تكره أن يرى في ثوبك
"Apabila kamu mimpi basah dan air mani mengenai pakaianmu maka usaplah dengan idzkhirah (sejenis rumput) atau secarik kain dan jangan dicuci kalau kamu mau, kecuali kalau kamu merasa jijik dan kamu tidak suka kalau hal itu terlihat pada pakaianmu" (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 1/368 no: 1438)
Berkata At-Tirmidzy rahimahullahu:
وَحَدِيثُ عَائِشَةَ أَنَّهَا غَسَلَتْ مَنِيًّا مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- - لَيْسَ بِمُخَالِفٍ لِحَدِيثِ الْفَرْكِ لأَنَّهُ وَإِنْ كَانَ الْفَرْكُ يُجْزِئُ فَقَدْ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ لاَ يُرَى عَلَى ثَوْبِهِ أَثَرُهُ
"Dan hadist 'Aisyah dimana beliau mencuci mani dari pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bertentangan dengan hadist yang menyatakan bahwa 'Aisyah menggosok mani tersebut, karena meskipun bila digosok sudah mencukupi akan tetapi dianjurkan untuk menghilangkan bekasnya" (Sunan At-Tirmidzy 1/201-202 )
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu:
أما المني فإنه طاهر لا يلزم غسل ما أصابه إلا على سبيل إزالة الأثر فقط
"Adapun mani maka dia suci, tidak wajib mencuci apa yang dikenainya kecuali hanya sekedar menghilangkan bekas saja" (Majmu' Fatawa wa Rasail Syeikh 'Utsaimin 11/222 no:169 )
Wallahu a'lam.

Selasa, 27 Oktober 2009

Miqdad Ilyasa


Miqdad. Mungkin tidak banyak kaum muslimin yang mengenal nama ini. Ia memang tidak populer seperti sahabat Nabi yang lain. Namun perannya sungguh luar biasa. Sirah nabawiyah mengabadikan salah satu perannya saat perang Badar. Saat itu, kaum muslimin yang berjumlah sekitar 300 orang berniat mencegat kafilah Abu Sufyan. Mereka keluar Madinah bukan untuk berhadapan dengan pasukan perang, pada mulanya. Namun Allah menakdirkan lain. Yang mereka temui adalah 1000-an pasukan Quraisy dengan senjata lengkap! Siap berperang.

Rasulullah menginginkan pendapat kaum muslimin tentang perang yang tidak diduga ini. Beliau juga berharap komitmen Muhajirin dan Anshar untuk membela Islam dan meneguhkan eksistensi Madinah yang baru dibangunnya di mata dunia. Maka, setelah dua komandan perang angkat bicara, yakni Abu Bakar dan Umar. Kini giliran Miqdad dengan jawaban yang mengesankan:

يا رسول الله، امض لما أراك الله،فنحن معك،والله لا نقول لك كما قالت بنو إسرائيل لموسى : { فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ } [ المائدة : 24] ، ولكن اذهب أنت وربك فقاتلا إنا معكما مقاتلون، فوالذي بعثك بالحق لو سرت بنا إلى بَرْك الغِمَاد لجالدنا معك من دونه حتى تبلغه .
“Ya Rasulullah, jangan ragu! Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Ya. Miqdad adalah salah satu dari tiga komandan muhajirin pada perang Badar dan kata-katanya menguatkan tekad pasukan Badar yang akhirnya menorehkan kemenangan gemilang dan menjadi pondasi bagi kemenangan Islam berikutnya.

Ilyasa adalah nama Nabi. Namannya disebutkan di dalam Al-Qur'an diantaranya pada QS. Al-An'am ayat 86. Dialah sahabat sekaligus keponakan Nabi Ilyas. Sewaktu masih belia Ilyas datang ke rumahnya karena dikejar kaumnya yang durhaka dan menentang dakwahnya.

Dari dua nama inilah, kami terinspirasi untuk memberikan nama anak kedua kami yang baru lahir 3 hari lalu. Kami memang ingin memberikan nama yang bagus dan jarang dipakai. Dan alhamdulillah sepengetahuan kami belum ada yang memakai nama itu: Miqdad Ilyasa. Untuk meyakinkan kami juga mengecek di Google dan ternyata memang belum ada hasil pencarian untuk "Miqdad Ilyasa". Semoga menjadi anak shalih yang berkontribusi untuk Islam. Mohon doanya. [Muchlisin]

Minggu, 25 Oktober 2009

Hukum Menelan Air Mani (Sperma)

Tanya: Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Pada saat ML dengan istri, istri meminum sperma yang saya keluarkan. bagaimana hukumnya menurut islam..? Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. (HW).


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Menurut pendapat yang kuat tidak boleh menelan atau meminum sperma karena beberapa alasan berikut:
Pertama: Perbuatan tersebut memungkinkan tertelannya sesuatu yang najis seperti madzi, wadi, atau air kencing.
Kedua: Mani termasuk sesuatu mustakhbats (menjijikkan), sehingga ulama yang mengatakan mani itu suci pun berpendapat tidak boleh menelannya, karena firman Allah:
وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ [الأعراف:157]
"Dan dia (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) mengharamkan perkara-perkara yang khabits (sangat kotor/jelek)" (Al-A'raaf:157)
Berkata An-Nawawy rahimahullahu:
هل يحل أكل المني الطاهر؟ فيه وجهان: الصحيح المشهور أنه لا يحل لأنه مستخبث
"Bolehkah menelan mani yang suci?Ada 2 pendapat, dan yang benar dan masyhur bahwasanya itu tidak halal karena mustakhbats (menjijikkan)" (Al-Majmu' 2/575)
Ketiga: Sebagian ahli kesehatan mengatakan bahwa secara kedokteran ternyata perbuatan ini apabila dilakukan berulang-ulang akan membahayakan karena air mani yang hidup tersebut bisa melukai dinding lambung sehingga mengakibatkan pendarahan di lambung.
Wallahu a'lam.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Bukan Untuk Pemburu Dunia


Pada bulan ini, Dzul-Qa’idah, tahun kesepuluh dari nubuwah, Rasulullah SAW kembali ke Makkah. Beliau baru saja mendakwahi penduduk Thaif. Namun, yang beliau dapatkan bukan sambutan untuk bergabung dengan agama tauhid ini, melainkan pengusiran. Pengusiran yang sangat menyakitkan, sebab bukan hanya kata-kata yang mereka gunakan mengusir Nabi, batu juga mereka lemparkan. Rasulullah pun berdarah-darah. Hatinya lebih sedih lagi. Malaikat datang menawarkan bantuan untuk menghukum mereka, tapi Rasulullah memaafkan begitu saja. Bahkan mendoakan mereka.

Kini beliau kembali ke Makkah. Seketika itu pula beliau memulai lagi dakwahnya kepada berbagai kabilah. Salah satu kabilah yang didakwahi untuk masuk Islam adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah. Bagaimana sambutan mereka? Baiharah bin Firas, salah seorang pemuka kabilah itu berkata kepada Rasulullah, “Apa pendapatmu jika kami berbaiat kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Allah memenangkan dirimu dalam menghadapi orang-orang yang menentangmu, apakah kami masih mempunyai kedudukan sepeninggalmu?”

Rasulullah menjawab, “Kedudukan itu hanya pada Allah. Dia meletakkannya menurut kehendak-Nya.”

Baiharah berkata, “Apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang-orang Arab sepeninggalmu? Kalau pun Allah memenangkanmu, toh kedudukan itu juga akan jatuh kepada selain kami. Jadi, kami tidak membutuhkan agamamu.”

Mereka semua menolak seruan Rasulullah. Namun, Rasulullah tidak ingin agama ini dijadikan lahan bisnis duniawi. Maka beliau tidak mau menerima tawaran transaksi itu. Masuk Islam dan berjuang memenangkannya, tapi tujuannya meraih kedudukan duniawi.

Toh, tugas seorang dai hanya menyampaikan. Bukan untuk memastikan manusia mendukung dakwah sebanyak-banyaknya. Apalagi mendukung dakwah dengan motif kekuasaan. Inilah hal yang perlu disadari oleh seluruh dai penerus Rasulullah. Sehingga pada akhirnya, dakwah Islam benar-benar digerakkan hanya oleh orang-orang yang ikhlas mengembannya, bukan karena hasrat harta, jabatan, dan kekuasaan di baliknya. Maka sejarah mencatat, dakwah Islam yang menuai keberhasilan luar biasa itu diawali dari fase Makkiyah yang tidak mengenal istilah munafik di dalamnya. Para dainya adalah orang-orang yang semata-mata berjuang karena Allah. Allah pun memberkahi dakwah yang demikian itu.

Tampaknya, ini pula yang disadari oleh Hasan Al-Banna sehingga ia mengatakan kepada orang-orang oportunis yang tidak mau memberikan dukungan pada dakwah kecuali setelah mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dan keuntungan yang dihasilkan: “Kasihanilah dirimu! Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika Anda ikhlas. Juga surga, jika Allah mengetahui kebaikan pada diri Anda. Kami adalah orang-orang yang tidak mempunyai popularitas dan miskin harta. Urusan kami hanyalah mengorbankan apa yang ada pada kami dan mengerahkan segala yang di tangan kami. Setelah itu kami mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala, Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Rasulullah berlalu dari Bani Amir bin Sha’sha’ah dan mengabaikan tawaran orang-orang seperti Baiharah. Rasulullah bergegas menemui kabilah-kabilah lain, mendakwahi orang-orang yang ditemuinya. Islam yang suci ini memang hanya pantas diperjuangkan oleh orang-orang yang berhati suci pula, bukan mereka para pemburu dunia. [Muchlisin]

Do’a di Perang Khandaq


Sekitar satu bulan lamanya perang urat syaraf (psy war) itu terjadi. Perang urat saraf antara umat Islam di Madinah dengan pasukan koalisi (ahzab) terbesar saat itu; Quraisy, Kinanah, Bani Sulaim, kabilah-kabilah Ghathafan, dan lain-lain. Madinah benar-benar terancam. 10.000 pasukan itu telah berkumpul di depan Madinah untuk menyerang. Namun, mereka tidak mampu memasuki gerbang Madinah karena umat Islam telah membuat parit di depan kota.

Meski pertempuran fisik tidak terjadi, kedua belah pihak dilanda ketegangan dan kekhawatiran. Pasukan ahzab tidak siap untuk melakukan pengepungan karena mereka datang hanya dengan satu tekad: menyerang! Sementara penduduk Madinah juga dilanda kekhawatiran kalau-kalau mereka nekat menyerang, menyeberangi parit yang mereka gali.

Khandaq (parit) sebenarnya merupakan strategi yang bagus. Strategi baru ini belum dikenal dan tidak pernah terpikirkan oleh pasukan ahzab. Kesiapsiagaan pasukan Islam juga bentuk ikhtiar yang luar biasa. Mereka bahkan tidak sempat memejamkan mata. Namun, ada lagi satu hal yang tidak dilupakan Rasulullah dan para shahabatnya. Doa. Ya, doa! Mereka menyadari sepenuhnya bahwa khandaq dan ikhtiar lain merupakan wasilah semata, sementara kemenangan ditentukan oleh Allah SWT. Maka sebagaimana di perang Badar Rasulullah berdoa, pada perang Khandaq ini pun Rasulullah berdoa. Doa Rasulullah SAW itu adalah:
Allaahumma munzila al-kitaab, sarii’a al-hisaab, ahzimi al-ahzaab, Allaahumma ahzimhum wa zalzilhum
“Ya Allah yang menurunkan Al-Kitab dan yang cepat hisab-Nya, kalahkanlah pasukan musuh. Ya Allah, kalahkanlah dan guncangkanlah mereka.”

Allah kembali memperkenankan do’a Rasul-Nya. Allah mengirimkan angin taufan kepada pasukan ahzab, sehingga kemah-kemah mereka porak-poranda. Mereka ketakutan dan dilanda kekacauan. Mereka pun pulang dengan kekalahan dan kerugian. Perang urat syaraf itupun berakhir pada bulan yang sama dengan yang kita hadapi saat ini, bulan Dzul-Qa’idah. Tahun 5 H.

Umat Islam kembali bersuka cita. Bersyukur atas kemenangan yang dianugerahkan kepada mereka. Maka, kedudukan Islam pun makin kokoh, dakwah Islam makin berpengaruh. Dan, satu pelajaran yang kita dapatkan: untuk mendapatkan kemenangan dan kesuksesan kita harus melewati pintu ikhtiar yang optimal, dan doa orang yang beriman adalah kuncinya. [Muchlisin]

Membaca Ayat Kursy Setelah Al-Fatihah

Tanya: Pak Roy, Saya mau tanya pada saat kita sholat fardhu setelah membaca Al-fatihah kita membaca ayat kursi, hal ini apa diperbolehkan ? Saya coba cari referensinya kebanyakan orang melakukan ini pada shalat hajat. Mungkin kalau bapak bisa bantu saya untuk sharing knowledgenya. Thanks. (Sandy.M)


Jawab: Diperbolehkan membaca ayat kursi setelah Al-Fatihah ketika shalat fardhu karena keumuman firman Allah ta'ala:
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ )المزمل:20)
"Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Quran" (Al-Muzammil:20)
Maksudnya adalah di dalam shalat (Ma'alimut Tanzil, Al-Baghawy 8/257)
Dan keumuman sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
ثم اقرأ بأم القرآن وبما شاء الله أن تقرأ.
"Kemudian bacalah Ummul Quran (Al-Fatihah) dan apa yang Allah kehendaki untuk kamu baca" (HR.Abu Dawud dan ini adalah lafadz beliau, At-Tirmidzy, dari Rifa'ah bin Rafi' radhiyallahu 'anhu, dihasankan oleh At-Tirmidzy dan Syeikh Al-Albany)
Berkata Qais bin Abi Hazim rahimahullahu:
"Aku shalat di belakang Ibnu Abbas di Bashrah kemudian pada rakaat pertama beliau membaca Alhamdulillah (yakni:Al-Fatihah) dan ayat pertama dari surat Al-Baqarah (yakni ألم), kemudian beliau ruku', kemudian ketika rakaat kedua beliau membaca Alhamdulillah (yakni: Al-Fatihah) dan ayat kedua dari surat Al-Baqarah, kemudian beliau ruku'. Setelah selesai shalat maka beliau menghadapkan diri beliau kepada kami seraya berkata: Sesungguhnya Allah berfirman: فاقرؤوا ما تيسر منه (Maka bacalah apa yang mudah darinya) (Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthny 1/136 no:1279, dan Al-Baihaqi 2/60 no:2371, isnadnya dihasankan oleh Ad-Daruqutny).
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:
نرى أنه لا بأس أن يقرأ الإنسان آية من سورة في الفريضة وفي النافلة
"Kami memandang diperbolehkan seseorang membaca satu ayat dari sebuah surat ketika shalat fardhu maupun sunnah" (Asy-Syarh Al-Mumti' 3/74).
Dengan demikian diperbolehkan setelah Al-Fatihah kita membaca ayat kursy dalam shalat fardhu maupun sunnah, tanpa mengkhususkan atau menyunahkan membaca ayat tersebut pada shalat tertentu karena ini membutuhkan dalil.
Adapun shalat hajat maka bisa antum lihat keterangannya disini.
Wallahu a'lam.

Jumat, 23 Oktober 2009

Serial Haji & Idul Adha 3: Keutamaan Haji


Menyambung tema sebelumnya, yaitu Pengertian dan Perintah Haji serta Urgensi Haji, Serial Haji & Idul Adha ke-3 ini mengambil tema Keutamaan Haji. Tulisan ini diambil dari Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq.

Ada 5 keutamaan haji yang akan disertai dengan hadits-hadits yang menjelaskannya. Pertama, haji merupakan amal yang paling utama. Kedua, haji merupakan jihad. Ketiga, haji menghapus dosa. Keempat, orang yang melakukan haji merupakan duta Allah. Dan kelima, ganjaran haji adalah surga.
***

1. Haji merupakan amal paling utama


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - سُئِلَ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
Rasulullah SAW ditanya mengenai amal yang paling utama. Maka jawab beliau: "yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Tanya orang itu lagi, "Kemudian apa?" jawab beliau, "Kemudian berjihad di jalan Allah" Ditanya pula "Setelah itu apa?" Beliau menjawab, "Setelah itu haji yang mabrur." (HR. Bukhari)

Haji mabrur ialah haji yang tidak dinodai oleh dosa. Sedangkan menurut hasan, ciri-cirinya adalah bila seseorang kembali dari haji dengan mencintai akhirat dan tidak menghiraukan dunia. Diriwayatkan secara marfu' dengan sanad hasan bahwa haji mabrur/dipenuhi kebajikan itu adalah bila seseorang suka menyumbangkan makanan dan lemah lembut dalam ucapan.

2. Haji merupakan jihad

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال : إني جبان ، وإني ضعيف ، فقال : « هلم إلى جهاد لا شوكة فيه : الحج »
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata "Aku ini penakut dan aku ini lemah." Ujar Nabi, "Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya yaitu naik haji." (HR. Abdurrazaq dan Thabrani, perawi-perawinya dapat dipercaya)

جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
Jihad dari orang yang telah tua, dari orang yang lemah, dan dari wanita adalah haji dan umrah. (HR. An-Nasai dengan sanad hasan)

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
Dari Aisyah, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, menurut engkau jihad itu adalah amal yang paling utama. Kalau begitu tidakkah kami akan berjihad?" Jawab Rasulullah SAW, "Bagi kalian adalah jihad yang lebih utama, yaitu haji yang mabrur." (HR. Bukhari)

3. Haji menghapus dosa

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak menjima' istrinya pada waktu terlarang dan tidak pula berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan ibunya. (HR. Muslim)

فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلاَمَ فِى قَلْبِى أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَمِينَهُ - قَالَ - فَقَبَضْتُ يَدِى. قَالَ « مَا لَكَ يَا عَمْرُو ». قَالَ قُلْتُ أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ.
قَالَ « تَشْتَرِطُ بِمَاذَا ». قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لِى. قَالَ « أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ »
Tatkala Allah telah menanamkan Islam di hatiku, aku datang menemui Rasulullah SAW, lalu berkata, "Ulurkanlah tanganmu agar aku membai'at kepadamu." Nabi pun mengulurkan tangannya, tapi aku masih mengatupkan talapak tanganku." Maka tanya beliau, "Bagaimana engkau ini wahai Amar?" aku menjawab, "Aku akan mengajukan syarat" "Apa syaratnya?" tanya Rasulullah SAW. "Yaitu agar aku diampuni" jawabku. Maka sabda beliau, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam itu menghapuskan keadaan sebelumnya, begitu juga hijrah menghapuskan apa yang sebelumnya, juga haji menghapuskan apa yang sebelumnya?" (HR. Muslim)

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُورِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ
Hendaknya engkau melakukan haji dan umrah itu secara beriringan karena keduanya akan melenyapkan kemiskinan dan kesalahan tak ubahnya seperti kipas angin menerbangkan kotoran-kotoran besi, emas, dan perak. Dan tiadalah ganjaran bagi haji yang mabrur itu selain surga. (HR. An-Nasa'i dan Tirmidzi)

4. Orang yang melakukan haji merupakan duta Allah

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
Orang yang mengerjakan haji dan orang-orang yang mengerjakan umrah merupakan duta-duta Allah. Jika mereka memohon kepada-Nya pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun pastilah diampuni-Nya. (Hr. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

5. Ganjaran Haji adalah Surga

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tiada ganjarannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

هذا البيت دعامة الاسلام، فمن خرج يؤم هذا البيت من حاج أو معتمر، كان مضمونا على الله، إن قبضه أن يدخله الجنة " وإن رده، رده بأجر وغنيمة "
Rumah ini adalah tiang Islam. Maka siapa yang berangkat menuju rumah ini, baik untuk mengerjakan haji maupun umrah, maka telah dijamin oleh Allah jika ia meninggal akan dimasukkan-Nya ke dalam surga dan jika kembali akan diberkahi-Nya dengan oleh-oleh pahala. (HR. ibnu Juraij dengan sanad hasan).

Wallahu a'lam [Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]

Kamis, 22 Oktober 2009

Serial Haji & Idul Adha 2: Urgensi Haji Secara Ruhiyah


Setelah menampilkan tema Pengertian dan Perintah Haji, kini Serial Haji & Idul Adha mengajak mengkaji tema Urgensi Haji Secara Ruhiyah. Tema kedua ini diambilkan langsung dari buku Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4. Semoga Serial Haji & Idul Adha ke-2 ini memotivasi kita yang belum bisa naik haji tahun 2009 (Dulhijah 1430 H) untuk segera berusaha memenuhi panggilan Ilahi, menjalankan rukun Islam kelima ini. Selamat membaca.
***

Ada 5 hal urgensi ibadah haji dalam kaitannya dengan pembinaan ruhani jamaah yang menunaikannya. Kami nukilkan dengan beberapa perubahan dari buku Al-Islam tulisan Syaikh Sa'id Hawwa.

1. Ibadah Haji adalah Simbol Kepasrahan Total Kepada Allah SWT

Sebagaimana telah maklum bahwa ibadah haji berisi ketaatan secara mutlak, tanpa melihat kandungan maknanya, kepada perintah Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Thawaf, wuquf, sa'i, ramyul jumar, tahallul, dan lain-lain amalan haji, hanyalah simbol-simbol ketaatan seorang hamba kepada perintah Allah tanpa tawar menawar.

Ia juga merupakan simbol ketertautan kita dengan Nabiyullah Ibrahim a.s. dengan cara menghidupkan syiarnya dan mengelilingi ka'bah yang dibangunnya. Selain itu, haji juga simbol bagi kesatuan umat seluruh dunia tanpa mempertimbangkan jenis suku bangsa, negara, dan warna kulit. Sedangkan kesatuan kaum Muslimin terbentuk oleh satunya akidah dan syariatnya.

2. Ibadah Haji adalah Penerapan Secara Aplikatif Berbagai Prinsip Islam

Ia adalah aplikasi konkret dari ukhuwah islamiyah, di mana setiap orang ketika haji merasa bahwa dirinya adalah saudara bagi sesama Muslim seluruh dunia.

Ia juga aplikasi konkret dari makna persamaan derajat berbagai bangsa tatkala mereka memeluk Islam. Ia merupakan aplikasi konkret dari firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [الحجرات/13]
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13)

Ibadah haji itu telah menjadi media paling konkret untuk mempertemukan berbagai bangsa Muslim di dunia.

3. Haji adalah Medan Pembinaan untuk Mengantarkan Muslim ke Derajat Tertinggi

Dengan haji seorang hamba belajar sambil melatih kesabaran. Bukankah salah satu hadits Nabi menyebutkan bahwa "jihad yang paling utama adalah haji mabrur"? (HR. Bukhari dan dari Aisyah). Dengan haji hidup selalu dalam suasana ibadah; bersikap ramah dan kasih sayang kepada sesama mukmin, mengendalikan emosi dan nafsu, juga memahami arti kebisingan dan kekerasan. Selain itu, orang yang beribadah haji juga berarti memahami hakikat ubudiyah kepada Allah dan berinfak fi sabilillah tanpa imbalan, mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah, dan merendahkan sesuatu yang direndahkan Allah.

4. Haji dapat Membangkitkan berbagai Perasaan dan Sikap pada Jiwa Manusia

Dalam amalan ibadah haji seorang jamaah melakukan tapak tilas perjalanan nabiyullah Ibrahim a.s. Maka ibadah haji juga berarti mengenang kembali perjalanan hidup generasi masa lalu yang pernah hidup di tempat ini, sekaligus menyambungkan ruhani kita dengan mereka dalam ikatan akidah dan penghambaan kepada Allah SWT.

5. Pada Ibadah Haji terdapat Nilai dan pelajaran yang tak Terhitung

Di dalam setiap amalan haji terkandung berbagai pelajaran dan makna. Kalau manusia menyadari, haji akan melahirkan pemahaman-pemahaman yang Rabbani lebih banyak, peningkatan akhlak islami, semangat meneladani Rasulullah SAW secara lebih dalam. Beberapa praktek ibadah haji sarat dengan kandungan hikmah simbolis hakikat hidup.

Arafah adalah tempat berkumpulnya manusia sebelum melaksanakan thawaf rukun. Semua orang yang berniat haji berkumpul di padang Arafah. Secara serentak dan bersamaan mereka memulai keberangkatan untuk mengagungkan Ka'bah. Kemudian menuju Muzdalifah dalam keadaan telah bertaubat dan berserah diri. Mereka menuju Ka'bah dengan jiwa bersih.

Dari Muzdalifah mereka berangkat menuju Mina untuk melontar jumrah sebelum thawaf, sebagai pernyataan bahwa musuh Allah adalah musuh mereka. Kemudian memotong hewan qurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas karunia-Nya dalam menghalalkan binatang ternak kepada mereka. Lalu mencukur rambut sebagai persiapan thawaf dengan jiwa bersih, pakaian suci dan penampilan bagus.

Setelah itu mereka menuju Makkah dan berthawaf di sekeliling Ka'bah sambil mengagungkannya karena Allah telah mengagungkannya.

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]

... dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. Al-Haj : 32)

Kemudian sa'i antara Shafa dan Marwa sebagaimana pernah dilakukan ibu mereka, Hajar yang shalihah, pada hari permulaan Baitullah dibangun. Seterusnya mereka kembali lagi ke Mina untuk melontarkan jumrah sebagai pernyataan permusuhan total terhadap syetan untuk selama-lamanya.

Haji juga membawa kembali umat Islam kepada markas Islam pertama, agama Ibrahim dan Muhammad alaihimassalam. Perjalanan kembali ini akan memperkuat ikatan seorang Muslim kepada pusat Islam. Ia adalah negeri spiritualnya, kiblatnya, orientasi jasadnya, titik tolak semangat dan cita-citanya.

Sekembalinya dari tempat ini sebagaian besar bentuk kehidupan muslim telah berubah dan berganti. Dulu keterikatannya dengan markas Islam hanya bersifat teoritis, namun kini telah menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan diamalkan.

Nabi SAW bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu tidak berlaku keji dan tidak berbuat fasik, ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya. (HR. Imam yang enam kecuali Abu Daud).

Haji menghidupkan kenangan Rabbani yang abadi yang pernah dikenal manusia. Kenangan sebuah keluarga yang tidak pernah memperdulikan apa pun dalam menjalankan perintah Allah. Kenangan seorang anak yang menyerahkan dirinya menjadi kurban untuk Allah. Kenangan seorang ibu yang yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah; seorang ibu yang taat kepada Allah dan suaminya. Kenangan orang-orang yang sepenuhnya tawakal kepada Allah dan kenangan terhadap terbebasnya orang-orang yang tertindas. Bila mereka telah kembali ke rumah dengan rasa kemenangan maka semuanya akan terkenang.

Ia adalah neraca yang dengannya dapat diketahui orang-orang yang memperhatikan persoalan umat Islam dan kondisinya, yang memperhatikan kekuatan, kebaikan, kelemahan, kebodohan, kehinaan, kemiskinan, kemuliaan atau kejayannya. Orang-orang yang memperhatikan semua itu akan tampak jelas hanya dalam ibadah haji.

Selain itu, haji merupakan media utama untuk menghancurkan virus-virus yang disebar di tengah-tengah umat. Virus kolonialisme, nasionalisme, harta, jabatan, kekuasaan, setan Timur dan Barat. Dengan haji akbar, semua virus tersebut dapat dimusnahkan.

Haji adalah salah satu jalan pembebasan dari segala kenistaan syaitani menuju kehormatan ketuhanan, Zat Yang Mahakasih. Tidak ragu lagi, jika para ulama Islam dapat memfungsikan haji dan mendudukkannya secara proporsional, maka ia akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan umat. [Sumber: Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4]

Rabu, 21 Oktober 2009

Serial Haji & Idul Adha 1: Pengertian dan Perintah Haji


Hari ini kita telah berada di awal bulan Dzulqoidah 1430 H. Satu bulan lagi umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha dengan beberapa ibadah khas-nya; haji, shalat idul adha, dan menyembelih hewan qurban. Khusus untuk haji, beberapa hari lagi para jamaah dari Indonesia terutama kloter-kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Menyongsong Idul Adha ini, blog BERSAMA DAKWAH berniat menampilkan Serial Haji & Idul Adha. Semoga posting ini bermanfaat bagi para calon jamaah haji, dan juga kita semua, umat Islam yang akan menyambut idul adha dan memiliki cita-cita naik haji. Serial Haji & Idul Adha ini diawali dengan tema Pengertian dan Perintah Haji. Selamat membaca.
***

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Haji, sebagaimana ibadah yang lain, memiliki kekhasan, bahkan kekhasannya sangat mencolok. Jika ibadah lain ada yang merupakan ibadah badaniyah dan ada juga yang ibadah maliyah, haji adalah kombinasi dari keduanya. Artinya, haji membutuhkan amalan fisik dalam menjalankannya dan juga membutuhkan harta. Semakin jauh domisili seorang muslim dari Makkah, semakin besar pula harta yang dibutuhkannya untuk menunaikan haji.

Pengertian Haji
Sayyid Sabiq mendefinisikan haji dalam Fiqih Sunnah sebagai berikut:

هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته.
Haji adalah mengunjungi Makkah untuk mengerjakan ibadah thawaf, sa’i, wuquf di arafah, dan ibadah-ibadah lain untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap keridhaan-Nya.

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan suatu kewajiban agama. Seandainya ada yang menyangkal hukum wajibnya, berarti ia telah kafir dan murtad dari agama Islam.

Perintah Haji

Kebanyakan ulama lebih condong bahwa diwajibkannya haji adalah pada tahun keenam Hijriah karena pada tahun itulah turun wahyu dari Allah SWT.

أَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ [البقرة/196]
Hendaklah kamu sempurnakan haji dan umrah karena Allah (QS. Al-Baqarah : 196)

Hal ini didasarkan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “menyempurnakan” adalah mulai diwajibkannya. Hal ini dikuatkan qiraat Alqamah, Masruq, dan Ibrahim Nakha’i yang membaca “Hendaklah kamu tegakkan.” (Diriwayatkan Imam Thabrani dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim menguatkan pendapat bahwa mulai diwajibkan haji itu adalah pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriah.

Dalil Al-Qur'an yang juga menunjukkan wajibnya ibadah haji adalah QS. Ali Imran ayat 97 dan QS. Al-Hajj ayat 27.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران/97]
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran : 97)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguatkan ayat di atas sebagai dalil wajibnya haji, meskipun beliau juga mencantumkan pendapat kedua yang mengatakan bahwa dalil wajibnya haji adalah QS. Al-Baqarah : 196 di atas.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ [الحج/27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27)

Ayat ini berkisah tentang perintah Allah kepada Ibrahim. Ibrahim semula ragu, apakah bisa aku memanggil manusia? Namun Allah-lah yang menjadikan suaranya tidak dibatasi oleh kegaduhan atau penghalang yang lain, sehingga sampailah suara itu ke berbagai penjuru.

Adapun dalil wajibnya haji dari hadits Nabi SAW antara lain:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان
Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari Muslim)

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثاً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ ». ثُمَّ قَالَ « ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ »
“Hai manusia, telah difardukan atas kalian melakukan ibadah haji. Karena itu, berhajilah kalian.” Ketika ada seorang laki-laki bertanya, “Apakah untuk setiap tahun, wahai Rasulullah?” Nabi SAW diam hingga laki-laki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku katakan ‘Ya’ niscaya akan diwajibkan (setiap tahunnya), tetapi niscaya kalian tidak akan mampu.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Terimalah dariku apa yang aku tinggalkan buat kalian, krb sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena mereka banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu hal, maka kerjakanlah sebagian darinya semampu kalian; dan apabila aku larang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah oleh kalian.” (HR. Ahmad. Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa)

Wallahu a'lam. Bersambung ke Serial Haji & Idul Adha 2. [Muchlisin]

Senin, 19 Oktober 2009

Ukhuwah dalam Berjama'ah

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Ukhuwah dalam Berjama'ah cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Ukhuwah dalam Berjama'ah, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.

Makna Kalimat: Demi bapak dan ibuku

Tanya: Assalamualaikum. Ustadz. Barokalloh fiik. Ana memiliki pertanyaan yang sampai saat ini belum menjumpai jawabannya. Yaitu, sebagaimana kita fahami bersama bahwa sumpah harus semata-mata kepada Alloh. Namun, bagaimana dengan ucapan sumpah yang pernah di lontarkan oleh Shohabat ABu Bakar, beliau mengatakan:" Demi Bapak dan ibuku. Lalu bagaimana cara membedakan sumpah di atas.?? Jazakumuloh khoiron. (Mukhlish Abu Dzar Al-Batawy)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wa fiika barakallahu.
Kalimat بأبي وأمي bukanlah termasuk sumpah, akan tetapi dia adalah kalimat yang digunakan oleh orang arab untuk mengungkapkan dalamnya rasa cinta kepada seseorang dan tingginya kedudukan dia. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, An-Nawawy 15/184).
Asal dari kalimat ini adalah: أنت مَفْدِيٌّ بأبي وأمي atau فَدَيْتُكَ بأبي وأمي artinya: Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku (yaitu apabila terjadi sesuatu yang tidak baik), kemudian disingkat menjadi: بأبي وأمي karena sering digunakan dan juga karena sudah maklumnya (diketahuinya) orang yang dimaksud. (Lihat An-Nihayah fii gharibil Hadist wal Atsar, Ibnul Atsir 1/20 cet. Dar Ihya At-Turats Al-'Araby, dan Lisanul 'Arab, Ibnu Mandhur hal: 17 cet.Darul Ma'arif,)
Jadi kalau mau diartikan maka diartikan lengkap menjadi: "Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku", atau "Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu" dll, bukan "Demi bapak dan ibuku" yang berarti sumpah.
Wallahu ta'ala 'alam.

Al-Qur'an: Sudahkah Kita Mentadabburinya?


Pernahkah kita membaca Al-Qur'an tetapi jiwa kita justru merasa gersang? Atau kita menghabiskan halaman-halamannya sementara ruh kita tetap dilanda kekeringan? Atau bahkan kita merasa begitu berat dan terpaksa membacanya karena mengejar target tilawah?

Jika itu terjadi, mari beristighfar kepada Allah SWT. Al-Qur'an diturunkan bukan untuk menyusahkan kita, termasuk dalam membacanya. "Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaahaa : 2). Lalu mengapa hati kita demikian membatu untuk bisa tersentuh ayat-ayat-Nya? Hati itu seharusnya melembut saat membacanya, lalu ia mengajak mata untuk meneteskan air matanya.

Al-Qur'an itu indah. Keindahannya bisa dirasakan oleh fitrah manusia meskipun tidak tahu artinya. Inilah penjelasan mengapa seseorang bisa menangis tersedu-sedu saat berada di belakang imam yang membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh kekshuyu'an. Ini pula alasan seseorang yang masuk Islam dan ditanya; mengapa? Ia menjawab: "Kitab sucinya umat Islam, Al-Qur'an; ayat-ayatnya bisa dirasakan oleh hati meskipun belum dimengerti terjemahnya."

Terlebih saat Al-Qur'an dipahami artinya. Ia begitu indah, memukau jiwa. Ia memang kitab yang memiliki daya magnetis, di samping kebenaran mutlak yang dikandungnya. Inilah yang membuat Abu Jahal dan beberapa kawannya diam-diam menguping Rasulullah membaca Al-Qur'an.

Al-Qur'an juga banyak memaparkan ayat-Nya dengan gaya cerita. Keindahan Al-Qur'an dalam bercerita demikian luar biasa inilah yang kemudian menginspirasi Sayyid Qutb untuk menulisnya dalam Taushiir Al-Fanny fi Al-Qur'an.

Kita bisa mentadabburi Al-Qur'an jika kita tahu artinya. Kalaupun belum bisa bahasa Arab, banyak terjemah yang bisa membantu kita. Agar kita memahami isinya, para ulama' telah menyusun banyak tafsir untuk kita baca. Saat kita memahami maksudnya, saat itulah kita bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kita. Dan inilah yang dirindukan para sahabat Nabi. Mereka membaca Al-Qur'an untuk mengaplikasikannya.

"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah : 2)

Saat kita merasakan nikmatnya membaca Al-Qur'an dan merindukannya untuk kita aplikasikan, saat itulah iman kita meninggi.

"...dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)" (QS. Al-Anfal : 2)

Semoga kita termasuk orang-orang yang terakhir ini. [Muchlisin]

Minggu, 18 Oktober 2009

Pakaian Muslimah (1): Kewajiban Jilbab Dan Khimar

Tanya: Assalamu'alaykum warohmatullah. Ustadz, saya ingin bertanya berkaitan dengan jilbab muslimah. Sebenarnya seperti apa yang benar? Insya Allah sudah tahu syaratnya, menutupi seluruh tubuh, longgar, tebal, tidak menarik perhatian, tidak tasyabbuh dengan laki-laki dan wanita kafir, dll. Sedikit saya gambarkan mengenai busana saya sehari-hari (afwan), saya memakai gamis yang gelap tidak menarik perhatian. Hitam, atau merah hati, warna anggur. Namun kerudung saya hingga perut. Nah kerudung saya ini yang suka dipermasalahkan oleh teman-teman ngaji saya. Mereka memakai hingga lutut. Sebenarnya panjang krudung itu sampai mana ustadz? Bukankah di alquran itu hingga dada? An nur 31. Kalau saya berdalil begitu, maka teman-teman mengatakan yang sampai dada itu kerudung dalam. Saya jadi bingung ustadz. Padahal gamis saya sendiri sudah longgar, tebal. Tapi kerudung saya seperut. Apakah itu belum syar'i? Kerudung saya juga lebar. Tidak macam-macam dengan perhiasan. Dan masalah penggunaan sarung tangan. Bagaimana ustadz hukum nya, apakah wajib? Kan katanya yang bikin aurot adalah telapak tangan. Berarti punggung tangan aurot? Mohon penjelasannya. Jazakallahu khairan. Wassalamu'alaikum. (Ummu Hindun)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
ٍHijab syar'I bagi seorang wanita muslimah ketika keluar rumah setelah memakai gamis (baju panjang) adalah khimar (kerudung penutup kepala, leher, dan dada), dan jilbab (baju setelah gamis dan khimar yang menutup seluruh badan wanita/abaya).
Yang penanya kenakan sekarang-wallahu a'lam- adalah khimar yang tercantum dalam firman Allah ta'ala:
(وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ )(النور: من الآية31)
" Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke juyub (celah-celah pakaian) mereka" (QS. 24:31)
Berkata Ath-Thabary rahimahullahu:
وليلقين خُمُرهنّ ...على جيوبهنّ، ليسترن بذلك شعورهنّ وأعناقهن وقُرْطَهُنَّ.
"Hendaknya mereka melemparkan khimar-khimar mereka di atas celah pakaian mereka supaya mereka bisa menutupi rambut, leher , dan anting-anting mereka" (Jami'ul Bayan 17/262, tahqiq Abdullah At-Turky)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu:
يعني: المقانع يعمل لها صَنفات ضاربات على صدور النساء، لتواري ما تحتها من صدرها وترائبها؛ ليخالفن شعارَ نساء أهل الجاهلية، فإنهن لم يكن يفعلن ذلك، بل كانت المرأة تمر بين الرجال مسفحة بصدرها، لا يواريه شيء، وربما أظهرت عنقها وذوائب شعرها وأقرطة آذانها. ...والخُمُر: جمع خِمار، وهو ما يُخَمر به، أي: يغطى به الرأس، وهي التي تسميها الناس المقانع.
"Khimar, nama lainnya adalah Al-Maqani', yaitu kain yang memiliki ujung-ujung yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan payudaranya, hal ini dilakukan untuk menyelisihi syi'ar wanita jahiliyyah karena mereka tidak melakukan yang demikian, bahkan wanita jahiliyyah dahulu melewati para lelaki dalam keadaan terbuka dadanya, tidak tertutupi sesuatu, terkadang memperlihatkan lehernya dan ikatan-ikatan rambutnya, dan anting-anting yang ada di telinganya…dan khumur adalah jama' dari khimar, artinya apa-apa yang digunakan untuk menutupi, maksudnya disini adalah yang digunakan untuk menutupi kepala, yang manusia menyebutnya Al-Maqani' (Tafsir Ibnu Katsir 10/218, cet. Muassah Qurthubah)
Lihat keterangan yang semakna di kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Al-Baghawy, Tafsir Al-Alusy, Fathul Qadir dll, ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31.
Dan kitab-kitab fiqh seperti Mawahibul Jalil (4/418, cet. Dar 'Alamil Kutub), Al-Fawakih Ad-Dawany (1/334 cet. Darul Kutub Al-'Ilmiyyah), Mughny Al-Muhtaj (1/502, cet.Darul Ma'rifah) dll.
Demikian pula kitab-kitab lughah (bahasa) seperti Al-Mishbahul Munir (1/248, cet. Al-Mathba'ah Al-Amiriyyah), Az-Zahir fii ma'ani kalimatin nas (1/513, tahqiq Hatim Shalih Dhamin), Lisanul 'Arab hal:1261, Mu'jamu Lughatil Fuqaha, dll.
Yang intinya bahwa pengertian khimar di dalam surat An-Nur ayat 31 adalah kain kerudung yang digunakan wanita untuk menutup kepala sehingga tertutup rambut, leher, anting-anting dan dada mereka.

Sementara itu wajib bagi wanita muslimah mengenakan jilbab setelah mengenakan khimar ketika keluar rumah, sebagaimana tercantum dalam firman Allah ta'ala :
(يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً) (الأحزاب:59)
" Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59).
Para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan jilbab, ada yang mengatakan sama dengan khimar, ada yang mengatakan lebih besar, dll (lihat Lisanul Arab hal: 649).
Dan yang benar –wallahu a'lamu- jilbab adalah pakaian setelah khimar, lebih besar dari khimar, menutup seluruh badan wanita.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu:
والجلباب هو: الرداء فوق الخمار
"Dan jilbab adalah pakaian di atas khimar " (Tafsir Ibnu Katsir 11/252)
Berkata Al-Baghawy rahimahullahu:
وهو الملاءة التي تشتمل بها المرأة فوق الدرع والخمار.
"Jilbab nama lainnya adalah Al-Mula'ah dimana wanita menutupi dirinya dengannya, dipakai di atas Ad-Dir' (gamis/baju panjang dalam/daster) dan Al-Khimar" (Ma'alimut Tanzil 5/376, cet. Dar Ath-Thaibah)
Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:
و الجلابيب هي الملاحف التي تعم الرأس و البدن
"Dan jilbab nama lain dari milhafah, yang menutupi kepala dan badan" (Syarhul 'Umdah 2/270)
Berkata Abu Abdillah Al-Qurthuby rahimahullahu:
الجلابيب جمع جلباب، وهو ثوب أكبر من الخمار...والصحيح أنه الثوب الذي يستر جميع البدن.
"الجلابيب adalah jama' جلباب, yaitu kain yang lebih besar dari khimar…dan yang benar bahwasanya jilbab adalah kain yang menutup seluruh badan" (Al-Jami' li Ahkamil Quran 17/230, tahqiq Abdullah At-Turky)
Berkata Syeikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy rahimahullahu:
فقد قال غير واحد من أهل العلم إن معنى : يدنين عليهن من جلابيبهن : أنهن يسترن بها جميع وجوههن ، ولا يظهر منهن شيء إلا عين واحدة تبصر بها ، وممن قال به ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبيدة السلماني وغيرهم
"Beberapa ulama telah mengatakan bahwa makna " يدنين عليهن من جلابيبهن" bahwasanya para wanita tersebut menutup dengan jilbab tersebut seluruh wajah mereka, dan tidak nampak sesuatupun darinya kecuali satu mata yang digunakan untuk melihat, diantara yang mengatakan demikian Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas, dan Ubaidah As-Salmany dan lain-lain." (Adhwa'ul Bayan 4/288)

Oleh karena itu hendaknya penanya melengkapi busana muslimahnya dengan jilbab setelah mengenakan khimar.
Datang dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah:
والمشروع أن يكون الخمار ملاصقا لرأسها، ثم تلتحف فوقه بملحفة وهي الجلباب؛ لقول الله سبحانه: سورة الأحزاب الآية 59 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ الآية.
"Yang disyari'atkan adalah hendaknya khimar menempel di kepalanya, kemudian menutup di atasnya dengan milhafah, yaitu jilbab, karena firman Allah ta'alaa dalam surat Al-Ahzab ayat 59:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 17/176)
Berkata Syeikh Al-Albany rahimahullahu:
فالحق الذي يقتضِيه العمل بما في آيتي النّور والأحزاب ؛ أنّ المرأة يجب عليها إذا خرجت من دارها أنْ تختمر وتلبس الجلباب على الخمار؛ لأنّه كما قلنا : أسْتر لها وأبعد عن أنْ يصف حجم رأسها وأكتافها , وهذا أمر يطلبه الشّارع ... واعلم أنّ هذا الجمع بين الخمار والجلباب من المرأة إذا خرجت قد أخلّ به جماهير النّساء المسلمات ؛ فإنّ الواقع منهنّ إمّا الجلباب وحده على رؤوسهن أو الخمار , وقد يكون غير سابغ في بعضهن... أفما آن للنّساء الصّالحات حيثما كنّ أنْ ينْتبهن من غفلتهن ويتّقين الله في أنفسهن ويضعن الجلابيب على خُمرهن
"Maka yang benar, sebagai pengamalan dari dua ayat, An-Nur dan Al-Ahzab, adalah bahwasanya wanita apabila keluar dari rumahnya wajib atasnya mengenakan khimar dan jilbab di atas khimar, karena yang demikian lebih menutup dan lebih tidak terlihat bentuk kepala dan pundaknya, dan ini yang diinginkan Pembuat syari'at…dan ketahuilah bahwa menggabungkan antara khimar dengan jilbab bagi wanita apabila keluar rumah telah dilalaikan oleh mayoritas wanita muslimah, karena yang terjadi adalah mereka mengenakan jilbab saja atau khimar saja, itu saja kadang tidak menutup seluruhnya…apakah belum waktunya wanita-wanita shalihah dimanapun mereka berada supaya sadar dari kelalaian mereka dan bertaqwa kepada Allah dalam diri-diri mereka, dan mengenakan jilbab di atas khimar-khimar mereka??" (Jilbab Al-Mar'ah Al-Muslimah hal: 85-86)

Berkata Syeikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu:
حجابها باللباس، وهو يتكون من: الجلباب والخمار، …فيكون تعريف الحجاب باللباس هو:ستر المرأة جميع بدنها، ومنه الوجه والكفان والقدمان، وستر زينتها المكتسبة بما يمنع الأجانب عنها رؤية شيء من ذلك، ويكون هذا الحجاب بـ الجلباب والخمار
"Hijab wanita dengan pakaian terdiri dari jilbab dan khimar…maka definisi hijab dengan pakaian adalah seorang wanita menutupi seluruh badannya termasuk wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki, dan menutupi perhiasan yang dia usahakan dengan apa-apa yang mencegah laki-laki asing melihat sebagian dari perhiasan-perhiasan tersebut, dan hijab ini terdiri dari jilbab dan khimar" (Hirasatul Fadhilah 29-30)

Sebagian ulama mengatakan bahwa jilbab tidak harus satu potong kain, akan tetapi diperbolehkan 2 potong dengan syarat bisa menutupi badan sesuai dengan yang disyari'atkan (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 17/178).
Wallahu a'lam.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Dunia Kita Hidup Kita


Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada malampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekitar 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau? Bukankah bumi ini terlalu luas untuk mereka berdua, dan karenanya bisa sangat menyeramkan? Lalu seperti apakah bumi dalam persepsi mereka berdua; datar atau bulat? Indah atau jelek? Menyenangkan atau menyengsarakan?

Begitu Adam dan Hawa turun ke bumi ini, tiba-tiba saja mereka menemukan dunia yang begitu berbeda dengan surga yang sebelumnya mereka huni. Ini dunia baru. Sepenuhnya dunia baru. Tak ada satu yang ia tahu di sini. Sama sekali tak ada. Jadi apa yang pertama mereka lakukan? Belajar! Itulah yang mereka lakukan. Bukan makan dan minum. Dan siapa yang mengajar mereka? Hanya Allah! “Dan Allah mengajarkan Adam nama-nama itu, seluruhnya.” Seluruhnya; nama benda, perbuatan, pikiran, perasaan, nilai, dan seterusnya.

Jadi begitulah hidup pada mulanya dijalani; dengan pembelajaran. Dan kemudian, seperti apa cara kita memahami dunia kita, seperti itulah kelak menjalani hidup. Coba bayangkan, berapa ribu tahun yang diperlukan manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa bumi ini bulat dan bukan datar? Dan apa yang kemudian berubah dalam hidup manusia begitu mereka sampai pada pengetahuan itu? Berapa ribu tahun yang diperlukan oleh manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa minyak adalah sumber energi? Dan apa kemudian yang berubah dalam hidup manusia setelah pengetahuan itu?

Dan inilah kaidahnya: wajah dunia kita berubah setiap kita menemukan satu pengetahuan baru, hidup kita berubah setiap kali pengetahuan kita bertambah. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 213 hal.80]

Kamis, 15 Oktober 2009

Pemuda Islam dan Perjuangan Islam


Berdekatan dengan hari Sumpah Pemuda, Khutbah Jum'at kali ini mengambil tema Pemuda Islam dan Perjuangan Islam. Semoga bermanfaat, mampu memotivasi para pemuda untuk bersama-sama memperjuangkan Islam sehingga rahmat-Nya bisa dirasakan oleh seluruh alam.
***

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اللهم صلي على محمد، وارزقنا ثمره، وجنبنا ضرره، وأجعلنا لانعمك من الشاكرين، ولآلائك من الذاكرين، وبارك لنا فيه يا رب العالمين
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Menjelang keberangkatan Rasulullah dan para sahabatnya ke medan perang Badar, datanglah seorang remaja menghadap Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang dengan membawa sebilah pedang yang panjangnya melebihi panjang badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda, wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”

Rasulullah gembira dengan dan takjub dengan remaja itu. Tetapi, beliau tidak mengizinkannya untuk berperang karena usianya yang masih sangat muda. Remaja itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya untuk memperjuangkan Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang dari tadi melihat dari kejauhan, tidak kalah sedihnya. Sebab, putranya belum mendapat kesempatan membela Islam.

Tapi mereka tidak menyerah. Cita-cita remaja itu tidak melemah, bahkan semakin kuat. Demikian pula ibunya menginginkan. Karenanya, si ibu menghubungi kerabat-kerabatnya untuk menyampaikan tekad anaknya; berkontribusi untuk Islam dalam bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima. Mereka pun menghadap Rasulullah.

"Wahai Rasulullah! Ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya." Pinta salah seorang pamannya.

Selepas Rasulullah mendengar bacaannya, beliaupun menyuruh remaja itu untuk mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan diangkat sebagai sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Remaja itulah yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah untuk mereka.

Rasulullah kemudian menyuruhnya untuk belajar bahasa Suryani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi sekretaris saat Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang berbahasa Suryani.

Setelah Rasulullah benar-benar yakin dengan kompetensi dan syakhsiyah Islamiyah-nya, remaja itu pun diangkat menjadi sekretaris wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur'an turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya dan meletakkannya dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Remaja itu bernama Zaid bin Tsabit.

Jama'ah Jum'at yang dimuliakan Allah, khususnya para pemuda!
Demikianlah profil pemuda yang diinginkan Islam. Ia tidak hanya menikmati keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan Islam.

1420 tahun yang lalu, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah saw pada tahun ke-10 Hijrah, hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu setara 1 per 1000 dari total penduduk bumi ketika itu, yang berjumlah sekitar 100 juta jiwa. Beberapa hari yang lalu, The Pew Forum on Religion and Public Life menyodorkan data bahwa jumlah umat Islam kini sebanyak 1,57 milyar orang. Jika perbandingan antara penduduk Muslim dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah saw adalah 1 per 1000, maka perbandingannya hari ini adalah 1 per 5 sampai 1 per 4. Subhaanallah, Allaahu akbar! Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut untuk kita syukuri.

Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah, khususnya para pemuda!
Secara kuantitas kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu belum mampu untuk membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul Islam wal Muslimin. Sementara tujuan perjuangan Islam itu adalah
حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ [الأنفال/39]
...supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS. Al-Anfal : 39)

Lalu bagaimana realita hari ini? Islam justru dicurigai, dipenuhi dengan stigma negatif, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya baru sebatas berislam dalam identitas, belum mengaplikasikan Islam dalam kehidupannya. Sedangkan Allah SWT sendiri memerintahkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini, kita memerlukan para pemuda untuk mengubahnya. Mengapa para pemuda? Sebab pemudalah yang memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan itu. Empat karakter itu adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Hasan Al-Banna dalam Majmu'atur Rasail mengatakan:

إنما تنجح الفكرة إذا قوي الإيمان بها ، وتوفر الإخلاص في سبيلها ، وازدادت الحماسة لها ، ووجد الاستعداد الذي يحمل على التضحية والعمل لتحقيقها . وتكاد تكون هذه الأركان الأربعة : الإيمان، والإخلاص ، والحماسة ، والعمل من خصائص الشباب . لان أساس الإيمان القلب الذكي ، وأساس الإخلاص الفؤاد النقي ، وأساس الحماسة الشعور القوي ، وأساس العمل العزم الفتي ، وهذه كلها لا تكون إلا للشباب
Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. (Risalah Ila Syabab)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, khususnya para pemuda yang dicintai Allah,
Itulah mengapa Al-Qur'an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan agama-Nya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah Islam juga diwarnai oleh para pemuda. Sebagian dari assaabiquunal awwalun yang ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata adalah pemuda. Dai yang ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah dan mengislamkan setiap rumah adalah Mush'ab bin Umair, seorang pemuda. Komandan perang sekaligus khalifah yang mampu menaklukkan konstantinopel ternyata juga seorang pemuda; Muhammad Al-fatih namanya.

Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi seperti Zaid bin Tsabit dalam kisah di awal khutbah ini. Miliki komitmen untuk memperjuangkan Islam, dan Anda akan memperoleh pahala besar di sisi Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد/7]
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad : 7)

Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika umat Islam hanya diam dan pasrah dengan kondisi yang ada. Sementara para pemudanya hanya berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme yang telah dkembangkan Barat. Umat Islam, khususnya para pemudanya haruslah menjadi seperti hawariyyin yang difirmankan Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ [الصف/14]
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash-Shaf : 14)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Memperjuangkan Islam pada saat ini harus disesuaikan dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang berjuang dengan ilmunya, Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Utsman bin Affan dengan hartanya, dan lain sebagainya. Maka, bagi Anda yang memiliki harta, gunakanlah harta itu untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kemampuan menulis gunakanlah ia untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kompetensi di bidang teknik, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana memperjuangkan Islam.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebelum kita memanjatkan doa di akhir khutbah jum’at ini, marilah kita renungkan hadits Rasulullah SAW:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barangsiapa yang mati, sedangkan ia belum pernah berperang (memperjuangkan agama Allah) dan belum pernah berniat untuk berperang ((memperjuangkan agama Allah), ia mati di atas cabang kemunafikan. (HR. Muslim)

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk memperjuangkan Islam, dan istiqamah di atas jalan itu sampai akhir hidup kita dalam husnul khatimah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Insya Allah disampaikan dalam khutbah hari ini di Masjid Baitul Muttaqin, PT. Karunia Alam Segar)

Download & Review Ma'alim fi Ath-Thariq


Ma'alim fi Ath-Thariq (معالم في الطريق) adalah buku yang fenomenal dan revolusioner. Mengapa fenomenal? Sebab buku ini telah membuat penulisnya, Sayyid Qutb, digantung. Sedangkan para pembacanya di banyak negara, dicurigai; kalau-kalau mereka bisa menjadi teroris. Buku ini sempat dilarang di beberapa negara yang represif seperti Mesir, negara asal Sayyid Qutb dan Ma'alim fi Ath-Thariq. Bahkan, buku ini direkomendasikan dilarang oleh intelijen di negeri ini.

Buku ini dikatakan revolusioner karena ia hadir dengan ide yang berbeda dengan kebanyakan buku-buku lain yang sezaman dengannya. Saat itu memang banyak negara muslim yang sudah memerdekakan diri dari penjajah. Namun problem ternyata tidak serta merta berakhir. Diantara problem baru itu adalah, para penguasa militer atau otoriter yang menguasai sebagian besar negara muslim. Mereka memandang Islam sebagai ancaman, dan tidak ingin Islam menjadi way of life. Di sisi yang lain, umat Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan tidak percaya diri dalam menghadapi Barat.

Manhaj Islam untuk Kebangkitan Umat
Ide-ide Sayyid Qutb dalam Ma'alim fi Ath-Thariq yang sebenarnya diambilkan dari manhaj Islam ini dianggap baru karena sekian lama ia terpendam dalam puing-puing sejarah umat. Prinsip dakwah dalam manhaj Al-Qur'an, Jihad fi sabilillah, dan ketauhidan. Ini bukan sesuatu yang baru mestinya, dari dulu sudah ada. Namun, dengan metode yang sistematis dan gaya bahasa yang khas, Sayyid Qutb menjadikan hal-hal itu lebih hidup dan memiliki daya dobrak! Ia menjadi penyemangat serta menumbuhkan ruh juang bagi pembacanya.

Ma'alim fi Ath-Tahriq ini terdiri dari 12 bab dan diawali dengan muqaddimah. 4 bab diantaranya merupakan intisari Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, yaitu; طبيعة المنهج القراني (Karakter Manhaj Al-Qur'an), التصور الإسلامي والثقافة (Pandangan Islam dan Kebudayaan), الجهاد في سبيل الله (Jihad fii Sabiilillah), dan نشأة المجتمع المسلم وخصائصه (Tumbuhnya Masyarakat Muslim dan Karakteristiknya). Sementara 8 bab lain merupakan bab yang perlu dituliskan Sayyid Qutb untuk memperjelas dan memperkuat inti sari itu di samping untuk memenuhi tujuan utama buku ini ditulis. Yakni, sebagai petunjuk jalan yang akan dilalui para pioner kebangkitan umat, yang juga akan ditunjukkan kepada umat. Dengan adanya pioner inilah umat akan bangkit. Dengan eksisnya umat Islam inilah tugas manusia sebagai khalifah dan abdullah serta peran umat Islam sebagai ummatan daa'iyan dan ummatan syaahidan bisa diimplementasikan. Dengan demikian, kepemimpinan barat yang rapuh karena tidak memiliki "nilai-nilai" yang membuatnya layak memimpin akan diambil alih oleh umat Islam.

Jika pioner kebangkitan umat menginginkan keberhasilan sebagaimana keberhasilan generasi pertama, mereka harus meneladani karakter mereka. Oleh Sayyid Qutb mereka disebut جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa), yang juga dijadikan judul bab setelah muqaddimah. Ada 3 faktor utama keberhasilan generasi ini; sumber rujukannya adalah Al-Qur'an dan steril dari pengaruh manhaj lain, mereka mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkan/mengaplikasikan, dan saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur'an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan.

Al-Qur'an telah mengajarkan jalan dakwah bagi generasi pertama umat ini, جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa). Dan manhaj Al-Qur'an dalam dakwah ini seharusnya diikuti oleh para pioner kebangkitan umat. Bagaimana karakteristiknya? Sayyid Qutb menjelaskan bahwa jalan pertama adalah pembinaan aqidah. Inilah yang serius dilakukan selama 13 tahun fase Makkiyah, dan Al-Qur'an tidak melompat pada pembahasan lain, apalagi masalah cabang/furu'iyah. Ini pula yang dijadikan seruan dakwah oleh Rasulullah, meskipun peluang mendapatkan perlawanan lebih besar dari pada dakwah lain. Rasulullah tidak mendakwahkan nasionalisme Arab, tidak pula keadilan sosial dan perbaikan moral. Meskipun ketiga hal terakhir ini peluangnya lebih besar untuk didukung orang-orang Arab, tetapi ia bisa menjadi tuhan baru atau bersifat rapuh. Sedangkan aqidah, tauhid, ia akan terpatri kuat memberi daya dorong yang hebat, di samping itulah kebenaran hakiki yang harus menjadi pondasi setiap perubahan.

Perubahan yang terjadi karena tauhid adalah perubahan revolusioner pada diri seseorang atau bangunan umat. Sebab perubahan Islam berarti peralihan dari mengikuti manhaj makhluk menuju manhaj Pencipta. Perubahan Islam berarti meninggalkan sistem produk manusia untuk memilih sistem ciptaan Allah. Perubahan Islam berarti mencampakkan hukum buatan hamba untuk merengkuh dan mengaplikasikan hukum Allah. Perubahan inilah yang akan memuliakan manusia, serta membawa mereka menuju rahmat, setelah hidup penuh dengan kehinaan dan kelemahan.

Pioner umat yang akan melakukan misi perubahan revolusioner ini harus percaya diri dengan manhajnya; manhaj Islam, manhaj Al-Qur'an. Maka, persoalan jihad juga harus diterima apa adanya sebagaimana konsep Al-Qur'an yang telah dijelaskan Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an saat menafsirkan surat Al-Anfal dan At-Taubah. Intinya, jihad bukan defensif, tetapi ofensif. Manhaj yang sama seperti dipahami Ibnul Qayyim dalam Zaadul Maad. Saat dakwah dihalangi oleh kekuatan politik atau kekuasaan, maka jihad harus menetralisir kekuatan itu sehingga dakwah bebas disebarkan. Konsep inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam termasuk Inggris pada waktu itu sehingga mereka memesan kematian Sayyid Qutb kepada pemerintahan Gamal Abdul Nasir.

Kekeliruan
Ma'alim fi Ath-Thariq adalah buku yang luar biasa. Namun, bukan berarti ia tidak lepas dari kekeliruan. Tulisan Sayyid Qutb dalam bab لااله الا الله منهج حياة (Laa ilaaha Illallah Manhaj Kehidupan) yang membagi manusia menjadi masyarakat Islam dan masyarakat jahiliyah, lalu menyatakan bahwa masyarakat sekarang (saat Ma'alim fi Ath-Thariq ditulis) semuanya masyarakat jahiliyah merupakan sebuah kekeliruan. Tetapi, jika kita mengetahui latar belakang kondisi dan situasi saat Sayyid Qutb menulis buku ini, kita akan bisa memaklumi kekeliruan ini terjadi. Dan, jika kita membandingkannya dengan Fi Zhilalil Qur'an, tampak bahwa ini sebatas kekeliruan, bukan manhaj takfir sebagaimana yang dituliskan orang-orang yang membencinya.

Ilham?
Tulisan Sayyid Qutb dalam bab terakhir هذا هو الطريق (Inilah Jalan Itu) seakan-akan seperti ilham yang dianugerahkan Allah SWT bahwa ia hidup tidak lama lagi. Tiang gantungan telah menunggunya. Dalam bab ini ia mengakhiri buku terakhirnya ini dengan menjelaskan bahwa para pekerja Allah bukan penentu hasil, mereka hanya perlu beramal. Bisa jadi mereka mendapatkan kemenangan dan berkuasa untuk menegakkan dinullah, bisa jadi ia seperti kisah ashaabul ukhdud; mati namun keimanan telah menyebar, kemenangan hakiki di sisi Allah SWT.

Maka, para pekerja Allah pasti mendapatkan 4 hal. Pertama, hasil di dunia berupa ketentraman hati, perasaan bangga, bebas dari tarikan dan ikatan, takut dan bimbang. Kedua, saat meninggalkan dunia berupa sanjungan dari malaikat dan kehormatan. Ketiga, di akhirat ia mendapatkan hisab yang mudah dan kenikmatan yang besar. Keempat, ridha Allah SWT.

(Tulisan ini disarikan dari Bedah Buku معالم في الطريق oleh penulis pada 20 Ramadhan 1430 H di Masjid KH. Faqih Usman, UMG. Bagi yang ingin mendownload buku معالم في الطريق silahkan KLIK DI SINI) [Muchlisin]

Selasa, 13 Oktober 2009

Pengumuman: Tanya Jawab via YM Pekan Ini

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Karena satu hal insya Allah tanya jawab langsung via YM untuk pekan ini akan dipindah hari Kamis 15 Oktober 2009, pukul 10.00-11.00 WIB.
Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa muhammad wa 'alaa 'alihi wa shahbihi ajma'in.

Senin, 12 Oktober 2009

Membangun Toilet Di Arah Qiblat Masjid

Tanya:Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Pak ustadz mau tanya, bolehkah membangun toilet di arah kiblat masjid? Sahkah shalat di masjid yang arah kiblatnya ada toiletnya? (085864317447)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Tidak mengapa membangun toilet di arah kiblat masjid dengan syarat bangunannya terpisah dari bangunan masjid. Apabila bangunannya bersambung maka makruh shalat di masjid tersebut, dan shalatnya sah.
Berkata Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu:
لا تصل إلى الحش ولا إلى الحمام ولا إلى المقبرة
"Jangan shalat menghadap tempat buang hajat, kamar mandi, dan kuburan" (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no:7651, cet. Maktabah Ar-Rusyd )

Berkata Al-Musayyib bin Raafi (wafat tahun 105 H) dan Khaitsamah bin Abdurrahman (wafat setelah tahun 80 H):
لا تصل إلى حائط حمام ولا وسط مقبرة
"Jangan shalat menghadap dinding kamar mandi dan tengah kuburan. " (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no:7653 )

Berkata Ibrahim An-Nakha'I (wafat tahun 196 H):
كانوا يكرهون ثلاث أبيات للقبلة الحش والمقبرة والحمام
"Para salaf membenci 3 tempat untuk qiblat: tempat buang hajat (toilet), kuburan, dan kamar mandi" (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/372 no:7656)

Berkata Syeikh Muhammad bin Ibrahim (Mufti Kerajaan Saudi sebelum Syeikh Bin Baz, meninggal tahun 1389 H) :
فإِن أَمر هذه المغاسل لا يخلو من أَمرين: إِما أن تكون مفصولة عن المسجد بجدار مستقل بها منفصل عن جداره القبلي، وهذا لا محظور فيه ولا بأْس بالصلاة ولو كانت المغاسل في قبلة المسجد ما دامت مفصولة عنه بجدار غير جداره. وإِما أَن تكون متصلة به ليس بينها وبينه إِلا حائطه القبلي فهذا مما ذكر العلماء كراهة الصلاة إِليه،... ولا يكفي حائط المسجد، لكراهة السلف -رحمهم الله- الصلاة في مسجد في قبلته حُش. وعلى هذا فينبغي فصل هذه المغاسل عن جدار المسجد بحائط مستقل بها منفصل عن حائط المسجد المذكور
"Toilet ini tidak terlepas dari 2 kemungkinan:
Pertama: Terpisah dari masjid dengan dinding yang terpisah dari dinding masjid yang terletak di arah qiblat, maka ini tidak ada larangan dan tidak masalah shalat di dalamnya, meskipun toilet tersebut berada di arah qiblat masjid, selama bangunannya terpisah dari dinding masjid.
Kedua: Tersambung dengan masjid, dan tidak ada pembatas kecuali dinding masjid yang berada di arah qiblat, maka disebutkan oleh para ulama bahwa ini termasuk tempat yang makruh shalat menghadapnya...dan tidak cukup hanya dinding masjid karena para salaf rahimahumullahu membenci shalat di dalam masjid yang di arah qiblatnya ada tempat buang hajat, oleh karena itu seyogyanya memisahkan toilet-toilet tersebut dari dinding masjid dengan dinding terpisah dari dinding masjid tersebut" (Fatawa Wa Rasail Syeikh Muhammad bin Ibrahim no:515).
Wallahu a'lam.

At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin

We are sorry, starting from 13rd March 2010, At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.

Minggu, 11 Oktober 2009

Kambing Aqiqah, Jantan Atau Betina?

Tanya: Apakah kambing yang disyaratkan untuk aqiqah hanya yang berjenis kelamin tertentu (jantan/betina)? (Yusuf, Mekah)


Jawab: Tidak disyaratkan dalam kambing aqiqah harus jantan atau harus betina. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا
"Untuk anak laki-laki dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing tersebut jantan atau betina" (HR. Ashhabus Sunan, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Berkata Al-'Iraqy rahimahullahu (wafat tahun 806 H):
وَالشَّاةُ تَقَعُ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى مِنْ الضَّأْنِ وَالْمَعْزِ فَاخْتَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَقِيقَةِ وَلَدَيْهِ الْأَكْمَلَ وَهُوَ الضَّأْنُ وَالذُّكُورَةُ مَعَ أَنَّ الْحُكْمَ لَا يَخْتَصُّ بِهِمَا فَيَجُوزُ فِي الْعَقِيقَةِ الْأُنْثَى وَلَوْ مِنْ الْمَعْزِ كَمَا دَلَّ عَلَيْهِ إطْلَاقُ الشَّاةِ فِي بَقِيَّةِ الْأَحَادِيثِ
"Dan الشاة (kambing) –dalam bahasa arab- mencakup jantan dan betina, baik dari jenis المعز (kambing yang berambut) ataupun jenis الضأن (domba/kambing yang berbulu tebal). Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memilih ketika aqiqah kedua cucunya memilih yang paling sempurna, yaitu domba jantan, dan ini bukan pengkhususan, maka boleh dalam aqiqah menyembelih kambing betina meskipun dari jenis المعز, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh kemutlakan lafadz الشاة dalam hadist-hadist yang lain" (Tharhu At-Tatsrib, Al-'Iraqy 5/208)
Wallahu a'lam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...