Rabu, 21 Oktober 2009

Serial Haji & Idul Adha 1: Pengertian dan Perintah Haji


Hari ini kita telah berada di awal bulan Dzulqoidah 1430 H. Satu bulan lagi umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha dengan beberapa ibadah khas-nya; haji, shalat idul adha, dan menyembelih hewan qurban. Khusus untuk haji, beberapa hari lagi para jamaah dari Indonesia terutama kloter-kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Menyongsong Idul Adha ini, blog BERSAMA DAKWAH berniat menampilkan Serial Haji & Idul Adha. Semoga posting ini bermanfaat bagi para calon jamaah haji, dan juga kita semua, umat Islam yang akan menyambut idul adha dan memiliki cita-cita naik haji. Serial Haji & Idul Adha ini diawali dengan tema Pengertian dan Perintah Haji. Selamat membaca.
***

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Haji, sebagaimana ibadah yang lain, memiliki kekhasan, bahkan kekhasannya sangat mencolok. Jika ibadah lain ada yang merupakan ibadah badaniyah dan ada juga yang ibadah maliyah, haji adalah kombinasi dari keduanya. Artinya, haji membutuhkan amalan fisik dalam menjalankannya dan juga membutuhkan harta. Semakin jauh domisili seorang muslim dari Makkah, semakin besar pula harta yang dibutuhkannya untuk menunaikan haji.

Pengertian Haji
Sayyid Sabiq mendefinisikan haji dalam Fiqih Sunnah sebagai berikut:

هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته.
Haji adalah mengunjungi Makkah untuk mengerjakan ibadah thawaf, sa’i, wuquf di arafah, dan ibadah-ibadah lain untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap keridhaan-Nya.

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan suatu kewajiban agama. Seandainya ada yang menyangkal hukum wajibnya, berarti ia telah kafir dan murtad dari agama Islam.

Perintah Haji

Kebanyakan ulama lebih condong bahwa diwajibkannya haji adalah pada tahun keenam Hijriah karena pada tahun itulah turun wahyu dari Allah SWT.

أَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ [البقرة/196]
Hendaklah kamu sempurnakan haji dan umrah karena Allah (QS. Al-Baqarah : 196)

Hal ini didasarkan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “menyempurnakan” adalah mulai diwajibkannya. Hal ini dikuatkan qiraat Alqamah, Masruq, dan Ibrahim Nakha’i yang membaca “Hendaklah kamu tegakkan.” (Diriwayatkan Imam Thabrani dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim menguatkan pendapat bahwa mulai diwajibkan haji itu adalah pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriah.

Dalil Al-Qur'an yang juga menunjukkan wajibnya ibadah haji adalah QS. Ali Imran ayat 97 dan QS. Al-Hajj ayat 27.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران/97]
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran : 97)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguatkan ayat di atas sebagai dalil wajibnya haji, meskipun beliau juga mencantumkan pendapat kedua yang mengatakan bahwa dalil wajibnya haji adalah QS. Al-Baqarah : 196 di atas.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ [الحج/27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27)

Ayat ini berkisah tentang perintah Allah kepada Ibrahim. Ibrahim semula ragu, apakah bisa aku memanggil manusia? Namun Allah-lah yang menjadikan suaranya tidak dibatasi oleh kegaduhan atau penghalang yang lain, sehingga sampailah suara itu ke berbagai penjuru.

Adapun dalil wajibnya haji dari hadits Nabi SAW antara lain:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان
Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari Muslim)

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثاً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ ». ثُمَّ قَالَ « ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ »
“Hai manusia, telah difardukan atas kalian melakukan ibadah haji. Karena itu, berhajilah kalian.” Ketika ada seorang laki-laki bertanya, “Apakah untuk setiap tahun, wahai Rasulullah?” Nabi SAW diam hingga laki-laki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku katakan ‘Ya’ niscaya akan diwajibkan (setiap tahunnya), tetapi niscaya kalian tidak akan mampu.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Terimalah dariku apa yang aku tinggalkan buat kalian, krb sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena mereka banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu hal, maka kerjakanlah sebagian darinya semampu kalian; dan apabila aku larang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah oleh kalian.” (HR. Ahmad. Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa)

Wallahu a'lam. Bersambung ke Serial Haji & Idul Adha 2. [Muchlisin]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...